Kabut dingin masih menggantung di atas Distrik Jila, Kabupaten Mimika, saat Nemerina (22) akhirnya dibopong ke dalam helikopter evakuasi pada 14 September lalu. Wajahnya pucat pasi, pakaiannya lusuh penuh lumpur, dan kakinya dipenuhi luka lecet bekas perjalanan panjang di tengah hutan Papua yang gelap dan lembap. Tatapan matanya kosong, seolah jiwanya masih tertinggal di antara pepohonan rapat tempat ia dan delapan perempuan lainnya, termasuk Yosina Tsenawatme (18), dipaksa bertahan hidup selama 21 hari di bawah tekanan kelompok sandera bersenjata yang dikenal sebagai TPNPB-OPM. Suara helikopter perlahan menghilang, meninggalkan keheningan mencekam yang masih menyelimuti kampung-kampung di sekitar, di mana satu nyawa telah melayang akibat kelaparan dan kelelahan, sementara tujuh lainnya masih hilang tanpa kabar.
Hutan Jila: 21 Hari dalam Cengkeraman Dingin dan Lapar
Kenangan Nemerina tentang hutan itu adalah kegelapan yang hampir absolut dan suara dedaunan yang berdesir diterpa angin malam. Bersama Yosina dan para korban lainnya, mereka tidak diberi akses terhadap makanan atau air bersih. Perut keroncongan menjadi irama sehari-hari, sementara tubuh mereka menggigil kedinginan tanpa pakaian yang memadai. Yosina, seorang remaja berusia 18 tahun, menjadi yang paling lemah. Hari demi hari, wajahnya semakin pucat hingga akhirnya tak bergerak lagi—menyerah pada kelaparan yang tak tertahankan. Peristiwa ini dimulai pada 17 Agustus, hari kemerdekaan Republik Indonesia, ketika sembilan perempuan—termasuk anak-anak—diculik dari kehidupan normal mereka di perbatasan. Nemerina selamat, namun ia membawa pulang trauma mendalam dan ingatan tentang seorang saudara yang menghembuskan napas terakhir di sisinya tanpa bantuan medis, tanpa kepastian.
- Kondisi Fisik: Nemerina ditemukan dalam keadaan dehidrasi parah, dengan luka lecet di kaki akibat berjalan tanpa alas kaki di medan berbatu dan berlumpur.
- Atmosfer Lokasi: Hutan Jila digambarkan sebagai kawasan yang gelap, dingin, dan penuh dengan nyamuk, tanpa akses ke sumber air bersih atau tempat berlindung yang layak.
- Suara Warga: Keluarga para korban di kampung sekitar masih menunggu dengan harapan yang kian menipis, dan helikopter evakuasi hanya meninggalkan keheningan yang mencekam.
Garis Depan yang Terluka: Warga Sipil di Tengah Konflik
Di ujung negeri ini, di mana batas negara beradu dengan rimba raya, konflik bersenjata antara TPNPB-OPM dan aparat keamanan sering kali memakan korban dari warga sipil yang paling rentan. Perempuan dan anak-anak menjadi taruhan dalam permainan politik yang tak pernah berakhir. Infrastruktur dasar seperti jalan, puskesmas, dan pos keamanan masih jarang ditemukan di Distrik Jila, membuat proses evakuasi menjadi lambat dan penuh risiko. Saat Nemerina ditemukan pada 7 September, seluruh tubuhnya lemah, dan ia hampir tak bisa berdiri. Foto jurnalisme dari garis depan ini adalah saksi bisu dari luka mendalam yang terus menganga di perbatasan: betapa rentannya kehidupan di bawah bayang-bayang senjata, dan betapa mudahnya seorang remaja kehilangan nyawa karena kelaparan di tengah hutan yang subur.
Kini, keheningan masih menyelimuti kampung-kampung di Jila. Keluarga para korban duduk berjaga di depan pintu, menatap ke arah hutan dengan hati yang dipenuhi tanya. Satu selamat telah pulang dengan luka fisik dan trauma yang tak terhapuskan, sementara satu lainnya telah tiada. Tujuh jiwa lain masih hilang, tertelan belantara yang sama yang menjadi saksi perjuangan hidup dan mati. Sebagai bangsa yang besar, sudah saatnya kita menatap ke ujung negeri ini dengan kepedulian yang nyata—bukan hanya dengan simpati, tetapi dengan aksi untuk memastikan bahwa setiap warga di perbatasan mendapatkan perlindungan, keadilan, dan kehidupan yang layak. Di balik setiap helai daun di hutan Papua, ada kisah perjuangan yang layak didengar, dan setiap nyawa yang hilang adalah panggilan untuk kebersamaan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.