NASIONALISM

60.177 Personel Dikerahkan, 639 Hektare Lahan Masih Berjuang Dilawan Api

60.177 Personel Dikerahkan, 639 Hektare Lahan Masih Berjuang Dilawan Api

Di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan, lebih dari 60.177 personel gabungan berjuang memadamkan karhutla yang melanda 639 hektare lahan gambut. Meski operasi darat dan udara terus dilakukan, api bawah tanah dan kabut asap tebal menjadi tantangan utama. Warga dan petugas bahu-membahu di garis depan, menunjukkan semangat nasionalisme yang tak pudar di tengah kondisi memilukan.

Bau hangus menyengat menusuk hidung sebelum mata sempat menyaksikan panorama di hadapan. Di hamparan lahan gambut yang masih menganga hitam, kepulan asap tipis keluar dari celah-celah tanah yang hangus, seolah-olah bumi masih bernapas dalam demam. Ribuan personel bergerak dalam barisan panjang, wajah mereka terlumuri jelaga, seragam lusuh melekat di tubuh, dan langkah kaki terasa berat di atas permukaan tanah yang masih terasa panas. Di cakrawala Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan, pertempuran melawan api bukanlah peristiwa sesaat — ini adalah karhutla yang telah menjadi rutinitas memilukan di garis depan lingkungan, di mana 639 hektare lahan di enam provinsi masih berjuang dilawan oleh lebih dari 60.177 personel gabungan TNI, Polri, dan relawan. Lahan gambut yang terbakar bukan hanya kehilangan lapisan permukaannya, melainkan juga menyimpan panas di kedalaman yang sulit dijangkau. Di beberapa titik, api seperti bernapas — muncul kembali setelah sempat terlihat padam. Tim pemadaman menyebutnya sebagai api bawah tanah. Untuk itu, mereka harus membongkar lapisan gambut, menyiram hingga ke akar-akar terdalam, dan menjaga agar bara tidak menjalar.

Laporan dari Garis Depan: Asap, Arang, dan Langkah Lelah

Di stasiun pemantau darurat, peta digital menunjukkan titik-titik merah menyala yang masih bertahan di tengah hamparan coklat kehitaman. Laporan BNPB menyebutkan bahwa operasi pemadaman darat yang masif ini telah mencatat keberhasilan di atas 80 persen untuk lahan yang baru terbakar setiap harinya. Namun, angka tersebut tidak bercerita tentang bagaimana rasanya berdiri di tengah lahan gambut yang membara, atau bagaimana jarak pandang menyempit hingga tidak lebih dari beberapa puluh meter ketika kabut asap turun. Personel gabungan terus bergerak dengan alat semprot punggung dan selang panjang, menyusuri parit-parit yang telah digali sebagai sekat bakar, sementara di kejauhan terdengar suara mesin pompa air yang bekerja tanpa henti.

  • Enam provinsi menjadi medan laga, dengan konsentrasi terberat di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan.
  • Operasi darat melibatkan 60.177 personel yang tersebar di titik-titik rawan api.
  • Keberhasilan pemadaman untuk lahan baru mencapai 80 persen per hari, namun lahan gambut yang dalam masih menyimpan bara di bawah permukaan.
  • Warga sekitar ikut bergotong royong, membawa peralatan seadanya dan air dari sumur-sumur desa.

Operasi Udara dan Pertaruhan Ekologis

Sementara di darat para pejuang itu bertarung dengan kelelahan, di langit muncul suara deru helikopter yang membawa kantong-kantong air raksasa. Operasi udara dengan water bombing terus mencoba menjangkau titik-titik api yang sulit diakses dari jalan tanah yang sempit dan berlumpur. Namun, kabut asap tebal menjadi musuh yang tak terlihat. Pilot harus memutar arah beberapa kali, menunggu celah asap terbuka sebelum menjatuhkan muatan air tepat di tengah pusaran api. Kondisi ini menunjukkan betapa gigihnya upaya memadamkan karhutla di wilayah yang seharusnya menjadi paru-paru dunia. Tanah gambut di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan yang terbakar bukan hanya kehilangan karbon, tetapi juga mengancam keanekaragaman hayati yang tersisa. Setiap titik api yang padam adalah kemenangan kecil, namun setiap bara yang tersisa adalah ancaman laten yang bisa kembali meledak kapan saja.

Di balik angka dan laporan resmi, ada kisah tentang petugas yang berjalan bermil-mil di bawah terik matahari, tentang warga yang rela meninggalkan ladang untuk bergabung dalam barisan pemadaman, dan tentang pilot yang mempertaruhkan nyawa di tengah asap pekat. Inilah garis depan pertahanan lingkungan Indonesia — bukan di ruang rapat atau konferensi, melainkan di atas tanah gambut yang membara, di antara pepohonan yang hangus, dan di tengah asap yang memedihkan mata. Ketika asap mulai reda dan lahan perlahan pulih, semangat gotong royong dari ujung negeri ini menjadi bukti bahwa cinta tanah air tidak selalu diukur dengan kata-kata, melainkan dengan langkah kaki yang tak kenal lelah di medan terberat sekalipun.

kebakaran hutan dan lahan operasi pemadaman penanggulangan bencana
Organisasi: TNI, Polri, BNPB
Lokasi: Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Indonesia

Artikel terkait