Malam telah turun sempurna di Desa Sei Tapah, sebuah titik terdepan di perbatasan Riau dan Sumatera Barat. Di dalam sebuah gubuk kayu yang reyot—beratapkan seng bocor dan berdinding papan lapuk—tujuh anak duduk bersila di lantai papan yang berderit setiap kali mereka bergerak. Hanya cahaya temaram dari lampu minyak tanah yang menari-nari di wajah mereka, menerangi papan tulis hitam usang di depan. Suara jangkrik dari rerimbunan hutan dan gemerisik dedaunan menjadi satu-satunya iringan saat seorang pemuda guru sukarela dengan sabar menjelaskan rumus matematika. 'Kami ingin listrik,' bisik seorang anak laki-laki di sudut, suaranya nyaris tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Di sinilah, di garis depan negeri, semangat pendidikan harus berjuang melawan keterbatasan tanpa penerangan.
Potret Pendidikan di Garis Depan di Bawah Cahaya Minyak
Di dalam gubuk darurat itu, suasana hening hanya sesekali dipecah oleh suara guru yang menerangkan perkalian dan desahan napas anak-anak yang kelelahan. Seorang anak perempuan, yang duduk paling depan, tampak serius mencatat meski harus memicingkan mata hingga hampir menempel pada buku tulis. Seorang anak laki-laki di sudut menggunakan senter ponsel, namun baterai cepat habis karena tak ada colokan untuk mengisi ulang. Mereka terbiasa dengan keterbatasan, tetapi tidak pernah mengeluh. Kondisi ini bukanlah pemandangan langka di wilayah perbatasan. Ketiadaan infrastruktur listrik negara memaksa anak-anak dan guru beradaptasi dengan sumber penerangan seadanya. Minyak tanah menjadi barang berharga, terkadang harus dihemat hingga hanya cukup untuk beberapa jam belajar. Buku tulis dan pensil yang rapuh diterangi cahaya kuning yang berpendar, membuat mata cepat lelah. Namun, semangat pendidikan tidak pernah padam.
Menanti Terang di Ujung Negeri
Minyak tanah yang digunakan untuk lampu harus dibeli dari desa tetangga yang berjarak 10 kilometer melewati jalan setapak berlumpur. Harga yang terus naik membuat orang tua harus mengatur keuangan ekstra, seringkali mengorbankan kebutuhan lain. Kadang lampu hanya dinyalakan selama 2 jam per malam. Anak-anak pun harus memaksimalkan waktu belajar sambil berdoa agar listrik segera masuk desa. Berikut kondisi infrastruktur yang dihadapi warga perbatasan di Desa Sei Tapah:
- Tidak ada jaringan listrik negara; sumber penerangan utama adalah lampu minyak tanah dan lilin.
- Sekolah darurat terbuat dari kayu dan papan, tanpa dinding permanen, hanya beratapkan seng yang bocor saat hujan.
- Guru sukarela mengajar tanpa honor, hanya bermodal semangat memajukan pendidikan di perbatasan.
- Anak-anak berjalan kaki hingga 2 kilometer melewati jalan setapak yang licin dan gelap untuk sampai ke sekolah darurat.
- Keterbatasan alat tulis dan buku pelajaran; beberapa anak berbagi buku yang sudah lusuh.
'Kami hanya ingin anak-anak bisa belajar dengan layak, seperti di kota,' ujar salah satu orang tua dengan suara bergetar. 'Listrik adalah impian utama kami.' Pemerintah daerah memang telah berjanji, tetapi realisasi masih tertunda. Sementara itu, anak-anak terus berjuang—mata mereka tidak pernah padam, meski hanya diterangi nyala lampu minyak tanah. Di ujung negeri ini, pendidikan tetap menjadi pelita yang tak tergantikan. Setiap goresan pensil di atas kertas lusuh adalah bukti bahwa perbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Hingga suatu hari nanti, terang dari lampu minyak akan berganti menjadi cahaya listrik yang menerangi seluruh desa. Kita semua berharap dan berdoa agar janji itu segera terwujud, agar anak-anak di garis depan bangsa ini bisa belajar dengan layak, sebagaimana anak-anak di kota-kota besar.