Matahari mulai tenggelam di ufuk barat Pulau Marore, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Langit jingga bercampur ungu menyatu dengan birunya Laut Sulawesi. Lima anak berpakaian rapi—kemeja putih dan celana merah putih—berdiri tegap di atas sebuah perahu nelayan kayu yang tambat di pasir putih. Rambut mereka diterpa angin laut yang asin, namun suara mereka lantang membelah angin. "Indonesia, dari Sabang sampai Merauke…" terdengar syahdu, seolah puisi itu adalah doa yang dipersembahkan untuk tanah air. Di sebelah kanan, samar-samar terlihat garis Pulau Balut, Filipina, hanya beberapa mil laut dari tempat mereka berdiri. Sebuah pemandangan patriotik yang tak akan lekang oleh waktu: anak-anak di perbatasan Filipina membaca puisi nasionalisme di atas perahu yang dihiasi pita merah putih.
Potret Garis Depan: Puisi di Atas Perahu, Bangga di Ujung Negeri
Pulau Marore adalah salah satu titik terdepan Indonesia. Hanya sekitar 10 mil laut memisahkan pulau ini dari Filipina. Di balik keindahan pantai dan gugusan karang, terdapat realitas kehidupan yang penuh tantangan. Akses listrik masih terbatas, sinyal telekomunikasi kerap hilang, dan perjalanan menuju ibu kota kabupaten di Tahuna bisa memakan waktu berjam-jam menggunakan perahu motor. Namun di tengah segala keterbatasan itu, nasionalisme tumbuh subur—bahkan di atas perahu kayu sederhana. Anak-anak seperti Marsel, Siti, Rendi, Riri, dan Doni tak hanya belajar membaca dan menulis di sekolah, tetapi juga diajarkan mencintai tanah air melalui puisi, nyanyian, dan kisah perjuangan. Acara di atas perahu ini sengaja dirancang oleh Bu Yuni agar para muridnya memiliki pengalaman langsung yang membekas.
- Infrastruktur terbatas: Listrik hanya menyala beberapa jam sehari, bergantung pada generator.
- Sinyal komunikasi: Jaringan telepon seluler sering hilang, terutama saat cuaca buruk.
- Transportasi: Perahu motor menjadi satu-satunya akses ke Tahuna, dengan waktu tempuh 3-4 jam.
- Semangat kebangsaan: Meski di ujung negeri, anak-anak tetap hafal lagu nasional dan puisi perjuangan.
Suara dari Perbatasan: Nasionalisme yang Tak Lekang Ombak
Di perbatasan, rasa kebangsaan bukanlah sekadar slogan. Ia adalah denyut yang mengalir dalam keseharian warga yang hidup di antara dua negara. Guru Yuni menceritakan bagaimana mengajar di Pulau Marore berarti menanamkan identitas di tengah derasnya arus budaya asing yang mudah masuk dari seberang. "Kami harus terus mengingatkan bahwa mereka bagian dari NKRI, terutama karena setiap hari anak-anak melihat Pulau Balut. Kami sering mengadakan lomba puisi, lomba menyanyi lagu nasional, dan upacara bendera di pantai agar mereka merasa dekat dengan simbol negara," ujarnya sambil menggenggam bendera kecil Merah Putih. Marsel, salah satu siswa kelas 5, menambahkan dengan sorot mata penuh semangat: "Puisi ini tentang perjuangan pahlawan dari Sabang sampai Merauke. Walaupun kami di sini ujung negeri, kami tetap Indonesia." Lambaian tangan anak-anak itu disambut debur ombak yang memecah di lambung perahu—sebuah momen yang merekam semangat nasionalisme di garis depan.
Di ujung negeri yang berjarak mil dari negara tetangga, anak-anak Pulau Marore telah membuktikan bahwa rasa cinta tanah air tidak pernah pudar meskipun diterpa ombak dan keterbatasan. Puisi yang mereka bacakan di atas perahu bukan hanya rangkaian kata, melainkan ikrar kebangsaan yang menggema di Laut Sulawesi. Mari kita renungkan: di tengah gemerlap kota, masih ada Marsel, Siti, dan kawan-kawan yang menjaga api nasionalisme tetap menyala. Sudah sepatutnya kita mendukung mereka—dengan perhatian, dengan fasilitas pendidikan, dan dengan doa—agar generasi penerus di perbatasan Filipina ini terus tumbuh sebagai benteng negara yang kokoh.