SUARA PERBATASAN

Anak-Anak Perbatasan Belajar di Bawah Lampu Senter di Kampung Baru, Sekitar Sebatik

Anak-Anak Perbatasan Belajar di Bawah Lampu Senter di Kampung Baru, Sekitar Sebatik

Di Kampung Baru, Pulau Sebatik, anak-anak perbatasan terpaksa belajar di bawah lampu senter karena aliran listrik belum menjangkau seluruh permukiman. Meski jarak dengan Malaysia hanya selemparan batu, layanan dasar di pulau terluar ini masih timpang. Semangat mereka untuk tetap bersekolah menjadi teguran sekaligus harapan bagi hadirnya keadilan di ujung negeri.

Malam di Kampung Baru, Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, menggantung pekat. Pukul 21.00 WITA, sebagian besar wilayah sudah diselimuti gelap karena aliran listrik dari PLN hanya menjangkau sebagian kecil kampung. Di kejauhan, sisi Malaysia tampak benderang — ribuan titik lampu jalan bersinar terang, seolah mengejek jarak yang hanya selemparan batu. Di sebuah teras rumah panggung kayu, tiga anak duduk melingkar. Satu lampu senter digantung di tiang, menerangi halaman buku tulis yang terbuka. Pensil-pensil bergerak pelan, menggoreskan angka dan huruf di bawah cahaya yang sesekali redup. Pemandangan ini bukan sekadar aktivitas belajar malam biasa; ia adalah potret nyata ironi di pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Potret Ironi di Ujung Negeri

Di sinilah, di bawah lampu senter, anak-anak perbatasan berjuang menggapai pendidikan. Salah satunya Maria, siswi kelas 6 SD yang tinggal di dekat pantai. Ayahnya nelayan, ibunya buruh. Rumahnya tak berlistrik, sehingga setiap malam ia harus mencari tempat belajar di pos ronda atau rumah tetangga yang memiliki genset. Pelajaran matematika menjadi tantangan terbesar. "Saya ingin jadi guru," ujarnya polos kepada fotografer kami. Di sekelilingnya, tawa anak-anak lain sesekali pecah, mengusir dinginnya angin laut. Di bawah cahaya lembut itu, wajah-wajah mereka tak menghitung sejauh apa mimpi akan terbang. Yang penting, malam ini mereka bisa membaca dan menulis.

Terang di Seberang, Gelap di Sini

Ironi makin terasa ketika mata kita menyeberang ke sisi Malaysia. Di sana, anak-anak seusia Maria leluasa bermain dengan tablet bertenaga penuh di rumah yang terang benderang. Sementara di Kampung Baru, seorang ibu yang sedang mencuci piring di rumah kayu mengaku kerap menahan sedih saat anaknya mengeluh matanya perih setelah berlama-lama belajar di bawah cahaya lampu darurat. Proyek listrik dari perusahaan negara memang sudah digulirkan, namun cakupannya belum maksimal, khususnya di kampung-kampung pinggir pantai.

  • Pasokan listrik PLN belum menjangkau seluruh permukiman Kampung Baru hingga pukul 21.00
  • Anak-anak terpaksa belajar di teras rumah, pos ronda, atau rumah tetangga yang memiliki genset
  • Lampu senter menjadi alat belajar utama di pulau terluar Sebatik
  • Kontras dengan kota di sisi Malaysia yang gemerlap sepanjang malam

Di ujung dermaga kecil, seorang anak laki-laki ikut membantu ibunya mengangkut kayu bakar. Dari saku jaketnya, terselip sebuah buku cerita yang akan dibacanya begitu pulang. Cahaya senter itu mungkin kecil, tetapi cukup besar untuk menerangi mimpi. Setiap butir keringat dan setiap goresan pensil di bawah lampu darurat adalah bukti bahwa semangat anak-anak perbatasan tidak pernah padam. Pertanyaannya bukan apakah mereka mampu bermimpi, melainkan kapan negara hadir lebih nyata — menghadirkan terang yang setara di tiap sudut pulau terluar Indonesia. Sebab di ujung negeri ini, pendidikan adalah harga diri, dan lampu senter adalah pelita perjuangan yang menunggu kehadiran keadilan.

krisis listrik pendidikan anak perbatasan Indonesia-Malaysia
Tokoh: Maria
Organisasi: PLN
Lokasi: Kampung Baru, Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, Malaysia

Artikel terkait