Alunan tifa dan suling bambu bergema di halaman SD Inpres Muting, Distrik Muting, Merauke, pagi itu. Sekelompok anak berlumur tanah duduk melingkar di atas tikar anyaman, memukul tifa dengan penuh semangat. Di kejauhan, perbukitan hijau yang menjadi batas dengan Papua Nugini tampak samar diselimuti kabut tipis. Udara segar berhembus membawa aroma dedaunan basah, sementara sesekali suara burung hutan terdengar menyelingi irama musik tradisional. Anak-anak perbatasan itu, dengan seragam lusuh dan beberapa bertelanjang kaki, tetap bersemangat mengikuti gerakan tari Poco-poco yang diajarkan oleh instruktur dari Sanggar Seni Lestari.
Tifa dan Suling di Kaki Perbukitan Perbatasan
Yuli, sang instruktur, berdiri di tengah lingkaran dengan sabar mencontohkan pukulan tifa yang ritmis. “Kami ingin anak-anak perbatasan tidak hanya tahu budaya Papua, tapi juga budaya dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya sambil tersenyum. Lagu daerah Maluku dan Papua mengalun, sesekali diselingi tawa ceria saat anak-anak mencoba menirukan gerakan tarian. Seorang bocah laki-laki bernama Markus, duduk di barisan depan, dengan tekun memegang suling bambu—alat musik tradisional yang baru pertama kali ia pegang. Matanya berbinar setiap kali berhasil menghasilkan nada yang benar.
- Lokasi: SD Inpres Muting, Distrik Muting, Merauke—wilayah perbatasan langsung dengan Papua Nugini.
- Peralatan: Tifa, suling bambu, dan beberapa alat musik tradisional lainnya yang dibawa Sanggar Seni Lestari.
- Kondisi anak-anak: Sebagian besar memakai seragam lusuh, beberapa bertelanjang kaki, namun antusiasme belajar budaya sangat tinggi.
- Pemandangan sekitar: Perbukitan hijau sebagai batas negara, udara sejuk, dan lingkungan alam yang masih asri.
Semangat Nasionalisme dari Garis Depan
Di ujung timur Indonesia, tepatnya di Distrik Muting, Merauke, semangat nasionalisme dibangun melalui sentuhan lembut musik tradisional dan tarian tradisional. Anak-anak perbatasan itu, yang sehari-hari hidup dalam keterbatasan fasilitas, justru menunjukkan kegigihan luar biasa dalam mempelajari budaya Nusantara. “Kami tidak punya banyak buku atau perangkat digital, tapi kami punya semangat,” ujar Markus polos. Gerakan Poco-poco yang diiringi tifa dan suling bambu menjadi bukti bahwa batas geografis tak mampu memisahkan rasa cinta tanah air. Di sela latihan, Yuli menyisipkan cerita tentang keindahan Indonesia dari Sabang hingga Merauke, membuat anak-anak tercengang dan semakin bersemangat melanjutkan latihan.
Meski seragam mereka lusuh dan tanah masih melekat di kaki, tawa riang anak-anak perbatasan di Merauke itu seperti melodi yang menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Melalui musik tradisional, mereka belajar memahami keberagaman budaya Indonesia—dari tifa Papua hingga lagu daerah Maluku. Di garis depan perbatasan, generasi ini sedang dipupuk untuk menjadi penjaga nasionalisme sejati. Dan di balik bukit hijau perbatasan, suara tifa dan suling bambu terus bergema, menceritakan kisah tentang anak-anak Indonesia yang tak pernah lelah merawat cinta Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke.