Di ujung utara Maluku Utara, gugusan Kepulauan Tano bagaikan titik-titik kecil di peta biru Samudra Pasifik. Angin laut membawa aroma garam dan gemuruh ombak yang menghantam karang menjadi irama sehari-hari. Di balik keindahan alam yang memukau, tersimpan potret pilu pendidikan di garis depan negeri. Ratusan Anak perbatasan di Tano ini masih berjuang melawan keterbatasan untuk mendapatkan ilmu. Mereka adalah generasi yang lahir di ujung Indonesia, namun hak mereka atas pendidikan yang layak masih jauh dari kata cukup.
Potret Pendidikan di Garis Depan: Sekolah Jauh dan Guru yang Tak Menentu
Sekolah yang ada di Kepulauan Tano terletak berjauhan dari pemukiman warga. Untuk mencapai satu-satunya sekolah dasar, anak-anak harus menempuh perjalanan dengan perahu kecil atau berjalan kaki di atas bebatuan karang yang tajam selama berjam-jam. Belum lagi kondisi cuaca yang tak menentu — gelombang tinggi seringkali menghalangi mereka untuk berlayar. Infrastruktur pendidikan di pulau terluar ini sangat memprihatinkan:
- Gedung sekolah hanya terdiri dari satu ruang kelas darurat dengan dinding papan yang sudah lapuk dimakan usia dan air laut.
- Tidak ada listrik, sehingga aktivitas belajar hanya mengandalkan cahaya matahari. Jika mendung, anak-anak kesulitan membaca buku.
- Guru datang tidak setiap hari akibat keterbatasan transportasi dan akses dari ibukota kabupaten. Kapal pengangkut guru hanya datang sebulan sekali, itupun jika cuaca bersahabat.
- Buku pelajaran dan alat tulis sangat terbatas. Beberapa siswa terpaksa bergantian meminjam buku dari kakak kelasnya.
Di sebuah sore, terlihat sekelompok anak duduk lesehan di bawah pohon kelapa. Mereka mengerjakan tugas dari lembaran kertas usang yang dibagikan guru saat terakhir kali datang. Seorang anak bernama Maria, 10 tahun, berkata dengan polos, “Kami ingin sekolah setiap hari, Bu Guru. Tapi kalau ombak besar, kapal tidak bisa jalan. Kadang kami tidak belajar selama seminggu.” Suara riak air dan kicauan burung camar seolah menjadi latar belakang kisah perjuangan mereka.
Suara Warga: 'Kami Butuh Sekolah dan Pendampingan Belajar'
Para wali murid di Pulau Tano, yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, sudah lama berharap pemerintah daerah dan pusat memberikan perhatian lebih. Mereka sadar bahwa tanpa pendidikan yang baik, anak-anak mereka akan sulit keluar dari jerat kemiskinan dan keterisolasian. Seorang ibu bernama Yuliana, warga Desa Tano, mengungkapkan dengan nada getir, “Kami tidak ingin anak-anak kami buta aksara seperti kami. Tapi dengan kondisi sekarang, guru saja jarang datang, apalagi pendampingan belajar. Di sini tidak ada siapa pun yang bisa mengajari anak-anak selain guru.”
Harapan dan keinginan untuk maju masih menyala di hati masyarakat Tano. Mereka memohon dibukanya akses pendidikan yang lebih baik: pembangunan sekolah permanen di dekat pemukiman, penambahan tenaga pengajar yang ditempatkan secara khusus di pulau terluar, serta penyediaan perahu motor khusus untuk transportasi guru dan siswa. Tanpa itu, mimpi anak-anak di perbatasan untuk meraih cita-cita hanya akan menjadi angan-angan yang terbawa ombak.
Kita harus ingat: di ujung utara Indonesia, ada anak-anak yang rela menantang kerasnya alam setiap hari demi secercah ilmu. Mereka adalah bagian dari NKRI yang berhak diperlakukan sama dengan anak-anak di kota. Sudah saatnya negara hadir dengan nyata, bukan hanya dalam janji. Karena dari pulau-pulau terluar inilah semangat nasionalisme sejati lahir — teruji oleh keterbatasan, namun tidak pernah padam oleh ombak.