Matahari mulai merunduk di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga di langit Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Di SD Negeri Manusak, suasana tak lagi mencekam seperti dulu. Senyum merekah di wajah Maria, 9 tahun, saat saklar lampu LED di kelasnya ditekan. Cahaya hangat memenuhi ruangan, menyinari buku-buku yang terbuka di atas meja kayu usang. Di luar, angin laut berhembus membawa aroma tanah kering khas perbatasan, namun di dalam, semangat belajar mengusir segala kegelapan. Dua puluh panel surya yang terpasang di atap sekolah kini menjadi sumber kehidupan baru bagi dunia pendidikan di perbatasan NTT.
Matahari di Atas Atap Sekolah
Program listrik tenaga surya dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengubah wajah SD Negeri Manusak. Sebelumnya, begitu mentari tenggelam, ruang kelas berubah menjadi gelap gulita. Siswa-siswi harus belajar hanya dengan bantuan lampu minyak tanah yang temaram dan berasap. Pemandangan sore itu memperlihatkan bayang-bayang anak-anak yang asyik membaca di bawah sinar lampu LED yang stabil dan terang. Pak Yohanes, guru setempat, berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. "Dulu mereka harus belajar pakai lampu minyak tanah, sekarang terang seperti di kota. Saya bangga," katanya lirih. Kini, setiap sore pukul 17.00 hingga 19.00, kelas-kelas dipenuhi gemerisik kertas dan bisik-bisik diskusi.
- 20 panel surya terpasang di atap sekolah, mampu menyuplai listrik untuk 6 ruang kelas dan ruang guru.
- Lampu LED 20 watt dipasang di setiap kelas, menggantikan lampu minyak tanah yang berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan.
- Sekolah ini terletak di Desa Manusak, Kecamatan Malaka Barat, yang berjarak hanya 15 kilometer dari perbatasan Timor Leste.
- Sebelum program, sekitar 80% siswa kesulitan belajar di malam hari karena minimnya penerangan.
Dari Lampu Minyak ke Cahaya Abadi
Dulu, Maria dan teman-temannya harus mengandalkan lampu minyak tanah buatan sendiri yang terbuat dari kaleng bekas. Cahayanya kuning keruh, nyala sebentar lalu padam jika angin masuk. Sesekali mereka harus menggosok mata karena asap, hingga air mata mengalir. Kini, setelah program surya hadir, mereka bisa melihat huruf-huruf di papan tulis tanpa silau. "Kalau dulu, saya sering pusing karena asap lampu. Sekarang enak, bisa baca sampai malam," kata Maria polos. Pak Yohanes menambahkan, "Anak-anak jadi lebih semangat. Mereka bisa mengulang pelajaran lagi di rumah karena ada lampu surya juga disediakan untuk warga." Program ini tak hanya menerangi sekolah, tetapi juga menyentuh kehidupan sosial warga perbatasan.
Kondisi geografis Kabupaten Malaka yang kering dan berbukit membuat jaringan listrik konvensional sulit dijangkau. Namun, potensi sinar matahari melimpah sepanjang tahun. Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) memanfaatkan potensi ini dengan memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap. Setiap panel surya berkapasitas 330 watt-peak, total 6.600 watt-peak yang mampu menyediakan aliran listrik selama 8 jam per hari. Biaya operasionalnya hampir nol, hanya perawatan baterai dan inverter. Warga sekitar turut bergotong royong memasang panel, membuktikan semangat kebersamaan di ujung negeri.
Di tanah perbatasan yang sering dilanda krisis energi, kehadiran listrik tenaga surya adalah oase di tengah gurun. Bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk menggerakkan pompa air bersih dan lampu jalan desa. Anak-anak perbatasan NTT kini bisa bermimpi lebih tinggi, karena sekolah mereka terang benderang oleh matahari. Mereka tak lagi belajar dalam kegelapan, melainkan di bawah cahaya surya yang abadi. Semoga sinar ini menerus, dan menyadarkan kita semua bahwa bangsa ini berdiri kokoh dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Di ujung mana pun, setiap anak Indonesia berhak atas penerangan sebagai jembatan menuju pengetahuan dan masa depan yang cerah.