POTRET GARIS DEPAN

Anak-anak Perbatasan NTT Belajar di Bawah Lampu Pelita, Listrik Masih Mimpi

Anak-anak Perbatasan NTT Belajar di Bawah Lampu Pelita, Listrik Masih Mimpi

Di Desa Silawan, perbatasan RI-Timor Leste, anak-anak belajar di bawah lampu pelita karena listrik masih mimpi. Infrastruktur pendidikan yang memprihatinkan dan akses listrik terbatas tak memadamkan semangat mereka. Guru dan warga berharap ada perhatian lebih agar anak-anak perbatasan bisa belajar dengan penerangan yang layak.

Senja merambat perlahan di perbukitan kering Nusa Tenggara Timur, melukis langit jingga yang segera berganti gelap. Dari kejauhan, suara lonceng gereja kecil di Desa Silawan, perbatasan RI-Timor Leste, berdentang memecah kesunyian. Di dalam sebuah bangunan kayu beratap seng yang bocor, belasan anak duduk bersila di lantai papan yang sudah lapuk. Sebuah lampu pelita minyak tanah diletakkan di tengah ruangan, nyalanya berkedip-kedip tertiup angin yang masuk lewat celah-celah dinding. Bayangan kecil mereka menari-nari di dinding kayu, sementara buku tulis lusuh terbuka di pangkuan. Guru mereka, Maria (28), berdiri di depan papan tulis hitam yang retak, menulis angka dengan kapur. 'Setiap malam begini, mereka tetap semangat. Tapi saya ingin mereka bisa belajar di bawah lampu terang, seperti anak-anak di kota,' ujarnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin dan suara jangkrik. Wajah-wajah kusam itu tetap fokus, sesekali mengusap mata yang perih karena asap lampu.

Potret Pendidikan di Garis Depan: Belajar dalam Keterbatasan

Desa Silawan, yang terletak tepat di garis perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste, menjadi saksi bagaimana anak-anak di ujung negeri ini berjuang menuntut ilmu di tengah listrik terbatas. Infrastruktur pendidikan di sini sangat memprihatinkan, terbukti dari kondisi sekolah satu-satunya di desa tersebut:

  • Bangunan kayu beratap seng dengan banyak lubang bocor saat hujan.
  • Dinding bercelah besar, membuat angin dan debu masuk bebas.
  • Tidak ada instalasi listrik; penerangan hanya mengandalkan lampu pelita minyak tanah dan senter.
  • Papan tulis hitam retak dan kapur yang cepat habis.
  • Buku tulis dan alat tulis sangat terbatas, sebagian besar sumbangan dari relawan.
  • Jarak tempuh anak-anak ke sekolah mencapai 2–3 kilometer melewati medan berbukit.

Warga setempat mengeluhkan sulitnya akses listrik. 'Kami sudah bertahun-tahun berharap ada aliran listrik, tapi belum ada tanda-tanda. Anak-anak harus belajar dengan penerangan seadanya,' ujar Kepala Desa Silawan, Petrus Kolo, saat ditemui di sela-sela kegiatan belajar. Pemerintah daerah memang telah berupaya, namun keterbatasan anggaran dan medan yang sulit menjadi hambatan utama. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Silawan, tetapi di banyak desa perbatasan NTT lainnya yang masih bergulat dengan listrik terbatas.

Semangat yang Tak Padam di Tengah Keterbatasan

Meski listrik masih mimpi, semangat anak-anak perbatasan untuk belajar tidak pernah surut. Maria, yang mengajar di sekolah ini sejak tiga tahun lalu, bercerita bahwa ia sering mendapati murid-muridnya datang lebih awal dengan membawa lilin dari rumah. 'Mereka haus akan ilmu. Kadang saya sampai menangis melihat mereka bertahan belajar di bawah lampu yang remang,' katanya sambil menyeka air mata. Dalam kondisi listrik terbatas, kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan mulai sore hingga menjelang malam, memanfaatkan sisa cahaya matahari. Saat gelap benar-benar datang, lampu pelita menjadi satu-satunya penerang. Asapnya membuat batuk-batuk dan mata pedih, namun anak-anak tetap tekun. Pendidikan di NTT ini menjadi cermin perjuangan anak bangsa di garis depan.

Melalui potret ini, kita diingatkan bahwa di ujung negeri, masih ada anak-anak yang berjuang melawan keterbatasan demi masa depan. Desa Silawan di perbatasan RI-Timor Leste adalah bukti nyata bahwa semangat belajar tidak pernah padam meski listrik masih mimpi. Sudah saatnya kita bersama-sama memperhatikan nasib mereka — bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan aksi nyata. Karena setiap anak di garis depan berhak mendapatkan cahaya yang lebih terang, agar mimpi mereka tak hanya berhenti di bawah lampu pelita.

pendidikan keterbatasan listrik perbatasan NTT
Tokoh: Maria
Lokasi: Nusa Tenggara Timur, Desa Silawan, RI, Timor Leste

Artikel terkait