POTRET GARIS DEPAN

Anak-Anak Perbatasan NTT Belajar di Bawah Sinar Senter Saat Gempa Susulan Guncang Pulau Liran

Anak-Anak Perbatasan NTT Belajar di Bawah Sinar Senter Saat Gempa Susulan Guncang Pulau Liran

Di Pulau Liran, NTT, gempa susulan M 5,2 tak menyurutkan semangat belajar anak-anak. Guru Markus mengajar dengan senter dan lampu batok di tengah listrik padam dan kerusakan infrastruktur. Potret ini menjadi simbol ketangguhan dan nasionalisme di ujung timur Indonesia, mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap pendidikan di perbatasan.

Pulau Liran, salah satu pulau terluar di Nusa Tenggara Timur, masih berguncang. Gempa susulan berkekuatan M 5,2 yang terjadi Selasa dini hari membuat tanah di bawah kaki terus bergetar. Di sebuah sekolah dasar sederhana beratap seng, listrik padam total. Namun, di dalam kelas yang remang-remang, seorang guru bernama Markus (38) tetap mengajar murid-muridnya. Belasan anak duduk di lantai, buku terbuka di pangkuan, diterangi sinar senter telepon genggam dan lampu batok kelapa yang berkelap-kelip. Foto-foto dari dalam kelas memperlihatkan wajah-wajah penuh konsentrasi di tengah keterbatasan. Di luar, angin laut berhembus kencang membawa suara gemuruh ombak yang memecah kesunyian fajar di ujung timur Indonesia.

Potret Belajar di Tengah Getaran

"Kami tidak bisa libur terus. Kalau tidak belajar sekarang, mereka akan tertinggal," kata Markus sambil memegang papan tulis kecil yang retak tertimpa reruntuhan plafon. Suaranya hampir tenggelam oleh derit seng yang bergetar setiap kali gempa susulan datang. Anak-anak itu tetap tekun membaca dan menulis, seolah getaran bumi sudah menjadi teman akrab mereka. Di luar kelas, sejumlah warga sibuk memperbaiki rumah panggung yang retak. Aktivitas belajar ini menjadi pemandangan yang kontras dengan kerusakan di sekitar.

  • Dua ruang kelas rusak parah akibat gempa kemarin, retak di dinding dan plafon runtuh.
  • Satu jembatan kayu yang menghubungkan desa dengan dermaga putus, memutus akses logistik.
  • Listrik padam total sejak gempa utama, warga mengandalkan lampu batok dan senter untuk penerangan.

Markus bercerita bahwa murid-muridnya berasal dari keluarga nelayan dan petani rumput laut. Sejak gempa menerjang, beberapa orang tua memilih mengevakuasi anak-anak ke daratan utama. Tapi bagi yang bertahan, sekolah adalah jangkar harapan. "Mereka tidak takut. Mereka justru malu kalau ketinggalan pelajaran," ujarnya sambil tersenyum getir.

Semangat di Balik Keterbatasan

Anak-anak Pulau Liran, NTT, tetap bersekolah meski gempa masih mengguncang. Di bawah cahaya senter dan lampu batok, mereka menulis jawaban soal matematika di buku tulis yang sudah lusuh. Seorang gadis kecil bernama Maria (10) menunjukkan buku catatannya yang penuh coretan. "Saya ingin jadi dokter, Bu Guru. Kalau sakit di sini, tidak ada dokter. Maka saya harus pintar," katanya polos. Kalimat itu seperti dentuman di tengah sunyi. Di Pulau Liran, pendidikan bukan hanya soal buku dan angka, melainkan tentang bertahan dan bermimpi di garis depan.

Gempa susulan masih terjadi beberapa kali dalam sehari. Tapi Markus dan murid-muridnya sudah terbiasa. Mereka berhenti sejenak saat getaran datang, lalu melanjutkan lagi begitu tanah diam. "Kami sudah seperti kakak beradik. Kalau satu goyang, semua goyang. Tapi kami tetap di sini, karena ini rumah kami, ini negeri kami," kata Markus sambil memeriksa tiang kelas yang retak.

Di ujung negeri, di Pulau Liran, mimpi-mimpi terus menyala meski hanya ditemani sinar senter dan lampu batok kelapa. Anak-anak itu adalah simbol ketangguhan di batas negara. Mereka adalah bukti bahwa nasionalisme tidak selalu tentang bendera dan lagu kebangsaan, melainkan tentang tekad untuk tetap belajar di tengah getaran dan keterbatasan. Dari timur Indonesia, suara kecil mereka menggemakan pesan: jangan lupakan kami, karena kami adalah bagian dari Indonesia.

gempa bumi pendidikan bencana alam ketangguhan
Tokoh: Markus
Lokasi: Pulau Liran, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Artikel terkait