Matahari sore perlahan tenggelam di balik rawa-rawa Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Di sebuah kampung terapung, riak air sungai berpadu dengan tawa riang puluhan anak yang berkerumun di sekitar perahu motor kecil. Perahu itu tak biasa — ia telah disulap menjadi perpustakaan terapung oleh sekelompok relawan mahasiswa dari Universitas Tanjungpura Pontianak. Kotak-kotak kayu berisi komik pahlawan nasional, peta Indonesia yang bisa diwarnai, dan boneka tokoh Garuda tersusun rapi di lantai perahu. Anak-anak duduk lesehan di papan kayu apung, tangan mungil mereka cekatan mewarnai gambar pulau-pulau Indonesia dengan krayon warna-warni. “Banyak dari mereka belum pernah ke Pontianak, apalagi ke Jakarta. Tapi mereka harus tahu bahwa mereka bagian dari Indonesia,” ujar Andi (23), salah satu relawan, sembari memegang peta besar dan menunjukkan letak Pulau Borneo di antara ribuan pulau Nusantara.
Potret Pendidikan di Garis Depan: Akses Terbatas, Semangat Tak Terbatas
Di wilayah perbatasan seperti Sintang, keterbatasan akses pendidikan dan informasi menjadi kenyataan sehari-hari. Kampung terapung ini hanya bisa dijangkau dengan perahu motor selama berjam-jam dari pusat kota. Infrastruktur sekolah masih minim, dan bahan ajar tentang kebangsaan nyaris tidak ada. Relawan mahasiswa hadir membawa semangat baru. Mereka tidak hanya membagikan komik dan peta, tetapi juga mengajak anak-anak bernyanyi lagu nasional dan bercerita tentang pahlawan. Wajah-wajah polos itu tampak antusias ketika mengetahui ada gambar pulau mereka sendiri, Kalimantan, di peta Indonesia. Pendidikan tentang NKRI bukan lagi abstrak — ia menjadi nyata di tangan mereka.
- Kondisi geografis: Kampung terapung di Kecamatan Kayan Hilir, Sintang, hanya bisa diakses melalui sungai dengan perahu motor.
- Infrastruktur pendidikan: Minimnya akses terhadap buku pelajaran dan alat peraga kebangsaan, termasuk peta dan komik.
- Peran relawan mahasiswa: Universitas Tanjungpura Pontianak mengirimkan mahasiswa untuk menjadi jembatan informasi dan nasionalisme.
- Respon anak-anak: Antusiasme tinggi saat mewarnai peta dan belajar tentang letak Kalimantan di Indonesia.
Menyemai Nasionalisme Lewat Komik dan Peta
Kegiatan sederhana ini menyimpan dampak mendalam. Di tengah keterbatasan, relawan mahasiswa menjadi duta NKRI yang membawa nilai-nilai kebangsaan langsung ke jantung perbatasan. Mereka menggunakan komik bergambar pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Pattimura, serta peta yang bisa diwarnai agar anak-anak lebih mudah mengingat bentuk geografis Indonesia. “Saya senang bisa mewarnai pulau Kalimantan. Kata kakak, ini rumah kita,” ujar seorang bocah perempuan sambil menunjukkan bukunya. Di luar perahu, matahari semakin tenggelam, namun sinar nasionalisme mulai menyala di hati anak-anak perbatasan. Mereka sekarang tahu: mereka bukan sekadar warga kampung terapung, tetapi bagian dari bangsa besar bernama Indonesia.
Suara tawa anak-anak mengiringi riak air yang semakin tenang. Perpustakaan terapung itu kini bergerak menuju kampung berikutnya, meninggalkan jejak cinta tanah air di setiap dermaga kayu. Di ujung negeri, di mana sinar pendidikan masih redup, benih-benih kebangsaan ditanam oleh tangan-tangan muda yang peduli. Semangat mahasiswa dan relawan pendidikan menjadi bukti bahwa nasionalisme tidak selalu lahir dari gedung megah, tetapi dari perahu sederhana yang berlayar di antara rawa-rawa Sintang. Mereka mengingatkan kita semua: warga perbatasan adalah anak bangsa yang berhak mendapatkan hak yang sama untuk mencintai Indonesia. Mari kita jaga api itu tetap menyala, karena di sanalah, di garis depan, jantung Indonesia berdetak paling kuat.