POTRET GARIS DEPAN

Anak-Anak Pulau Marampak Belajar di Bawah Langit Terbuka, Sebuah Potret Garis Depan

Anak-Anak Pulau Marampak Belajar di Bawah Langit Terbuka, Sebuah Potret Garis Depan

Anak-anak Pulau Marampak di ujung utara Kepulauan Selayar belajar di atas pasir putih setelah sekolah mereka roboh akibat abrasi. Bu Sari, satu-satunya guru, berjuang setiap hari dengan peralatan seadanya demi pendidikan di garis depan perbatasan. Potret ini menjadi pengingat bahwa masih banyak wilayah terpencil yang menanti perhatian dan kehadiran negara secara nyata.

Di ujung utara Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, terhampar Pulau Marampak — sebuah titik kecil yang berdenyut di garis depan perbatasan Indonesia. Di sini, di atas hamparan pasir putih yang membasah oleh debur ombak, belasan anak duduk melingkar dengan seragam lusuh. Tiupan angin laut yang asin bercampur suara riak air menjadi latar pembelajaran Matematika yang dipandu oleh Bu Sari. Papan tulis kecil dari triplek bekas menjadi satu-satunya media, sementara sinar matahari menyengat kulit mereka. Tidak ada tembok kelas, tidak ada atap — hanya langit biru dan semangat yang tak pernah padam.

Potret Belajar di Atas Pasir Putih

Suasana ini bukan pemandangan sementara, melainkan keseharian yang telah berlangsung sejak setahun lalu. Bangunan SDN Marampak roboh total akibat abrasi pantai yang terus menggerus daratan. Sejak itu, ruang kelas berpindah ke tepi laut — di bawah langit terbuka, dengan alas pasir sebagai lantai. Kondisi darurat ini memaksa aktivitas belajar bergantung pada kondisi cuaca. Saat hujan turun, anak-anak berlindung di bawah pohon kelapa sembari menunggu reda. Berikut fakta yang tergambar dari garis depan:

  • Bangunan SDN Marampak ambruk akibat abrasi pada awal tahun lalu, menyisakan puing-puing di tepi pantai.
  • Belajar dilaksanakan di area pasir seluas sekitar 10x10 meter, tanpa meja, kursi, atau papan tulis permanen.
  • Satu-satunya media pembelajaran adalah papan triplek bekas yang diangkut Bu Sari dari rumahnya sejauh 2 km setiap pagi.
  • Buku tulis dan pensil dibagi secara bergilir karena terbatasnya jumlah.
  • Anak-anak tetap hadir setiap hari, tanpa memedulikan panas terik atau angin kencang.

Di antara keterbatasan itu, Bu Sari bertahan. Ia datang sejak pukul 06.30 dengan peralatan seadanya, menempuh jalan setapak berbatu. "Setiap hari mereka pasti datang, tak peduli panas atau hujan. Saya harus hadir untuk mereka," ucapnya sambil menyeka keringat yang mengalir di pelipis. Guratan di wajahnya adalah saksi perjuangan membawa pendidikan ke pulau yang nyaris tak tersentuh.

Bu Sari: Garda Terdepan Pendidikan di Ujung Negeri

Bu Sari adalah satu-satunya tenaga pengajar di SDN Marampak. Ia mengajar kelas rangkap — murid kelas 1 hingga kelas 4 duduk bersama dalam satu lingkaran. Materi pelajaran diberikan bergantian, dengan kesabaran yang tak pernah pudar. Setiap hari, ia menuliskan angka-angka di papan triplek, sementara anak-anak mengikuti dengan khusyuk. Tak jarang, ombak pasang naik hingga mendekati mereka, memaksa Bu Sari menepi ke lokasi yang lebih tinggi. Meskipun demikian, tidak satu pun dari anak-anak yang mengeluh. Senyum mereka tetap merekah saat berhasil menjawab soal.

Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Kepulauan Selayar telah berjanji akan membangun sekolah baru tahun depan. Namun, proses administrasi dan keterbatasan anggaran masih menjadi kendala. "Kami berharap ada kepastian, tapi sementara waktu, kami jalani dengan apa yang ada," ujar Bu Sari lirih. Di balik keterbatasan, tersimpan kekuatan yang luar biasa — anak-anak Pulau Marampak membuktikan bahwa semangat belajar tidak membutuhkan tembok megah. Mereka adalah potret nyata perjuangan di garis depan, yang tak pernah menyerah meski dihimpit kondisi.

Menyaksikan pemandangan ini, hati terenyuh dan sekaligus bangga. Di perbatasan Indonesia, di ujung negeri yang sering terabaikan, anak-anak ini tetap haus ilmu. Kepedulian kita adalah api yang harus terus dinyalakan — bukan sekadar janji, tapi aksi nyata untuk mendirikan sekolah, mendatangkan guru, dan memberikan masa depan yang layak. Karena pendidikan di Pulau Marampak bukan cerita yang jauh; ia adalah wajah perbatasan yang harus kita genggam bersama. Semoga janji pembangunan sekolah tahun depan benar-benar terwujud, agar anak-anak ini tidak selamanya belajar di bawah langit terbuka, melainkan di ruang yang aman dan bermartabat.

pendidikan keterbatasan fasilitas daerah perbatasan
Tokoh: Bu Sari
Organisasi: SDN Marampak, Pemerintah Daerah
Lokasi: Pulau Marampak, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan

Artikel terkait