Bayangkan Anda berdiri di tepi hutan Kayan Mentarang, Kalimantan Utara. Di depan mata, ilalang dan pepohonan rapat menelan bekas jalan setapak—satu-satunya urat nadi yang menghubungkan desa-desa di perbatasan dengan dunia luar. Angin membawa bau tanah basah dan dedaunan lapuk, sementara suara burung hutan bercampur dengan keheningan yang mencekam. Di sinilah, di garis terdepan NKRI, warga harus bertahan hidup tanpa akses yang layak. Jalan yang ada hanya setapak licin, becek, dan sering hilang ditelan vegetasi liar. Sebuah potret nyata keterisolasian yang tidak bisa dibayangkan oleh mereka yang tinggal di kota.
Infrastruktur yang Hilang: Listrik 4 Jam dan BBM yang Mahal
Keluhan warga bukan sekadar kata-kata. Data lapangan yang disampaikan Anggota DPR Deddy Sitorus dalam rapat kerja dengan Mendagri mengungkap realitas pahit: listrik hanya menyala 4 jam sehari di sebagian besar desa. Itu pun dengan pemadaman bergilir yang tak terjadwal. Akibatnya, kegiatan ekonomi lumpuh, anak-anak belajar dalam gelap, dan ibu-ibu harus menyimpan bahan makanan seadanya. Belum lagi soal BBM yang langka dan harganya selangit—bisa mencapai Rp50.000 per liter di beberapa titik. Sembako sulit dijangkau, harga gula dan minyak goreng membumbung tinggi karena ongkos transportasi yang mahal.
- Akses jalan: Hanya setapak hutan yang rawan longsor dan ditelan vegetasi; kendaraan bermotor tidak bisa lewat.
- Listrik: Menyala 4 jam sehari; generator mati karena BBM langka.
- BBM: Langka dan mahal, hingga Rp50.000 per liter.
- Sembako: Sulit didapat, harga melambung akibat biaya distribusi tinggi.
Jeritan di Garis Depan: Ibu Ditandu dan Ancaman Pindah ke Malaysia
Di ruang rapat yang sejuk dan terang, Deddy Sitorus menirukan suara parau warga. Ia bercerita tentang seorang ibu yang harus ditandu berhari-hari melewati hutan lebat saat sakit keras—karena tidak ada akses jalan untuk kendaraan. "Kalau sakit sudah pasti mati, Pak," begitu kata warga dengan nada pasrah. Tapi yang lebih menusuk adalah ancaman yang keluar dari mulut mereka: "Kami cinta negara ini, Pak, tapi kalau kami diterlantarkan terus, sudah kami pindah saja ke Malaysia." Ancaman ini bukan gertak sambal. Di perbatasan Kaltara, jarak ke Malaysia kadang lebih dekat dan mudah dijangkau dibanding ke pusat kecamatan. Ketika sabar habis, cinta tanah air berbenturan dengan kebutuhan dasar yang tak kunjung dipenuhi. Keluhan mereka adalah alarm yang tidak boleh diabaikan.
Di balik angka-angka pembangunan nasional yang megah, tersembunyi realitas getir di wilayah terluar yang justru paling berjasa menjaga peta Indonesia tetap utuh. Warga di perbatasan Kaltara bukan sekadar statistik; mereka adalah garda terdepan yang setiap hari harus memilih antara bertahan di tanah air atau melintas batas negara untuk hidup layak. Sudah saatnya kita mendengar jeritan mereka, dan menerjemahkannya menjadi akses jalan yang membelah hutan, listrik yang tak padam, dan kehadiran negara yang nyata. Karena cinta pada Indonesia harus dibuktikan dengan tindakan, bukan hanya bendera dan lagu kebangsaan.