Matahari pagi menggigit kulit di pinggiran Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur — hanya beberapa ratus meter dari tiang batas negara Timor Leste. Jalan setapak berbatu yang berdebu menjadi saksi bisu rombongan ibu-ibu yang melangkah pasti, ember plastik biru berayun di pinggang mereka. Suara gemerincing ember beradu dan debu yang beterbangan menambah atmosfer perjuangan. Tujuan mereka: sumur tua berusia puluhan tahun di ujung kampung. Air yang keluar dari sumur itu keruh, berbau lumpur, dan harus ditimba dengan hati-hati agar tidak tumpah setetes pun. Ina (32), ibu tiga anak, menimba sambil berkata, "Setiap musim kemarau sumur ini kering. Kami harus berjalan lebih jauh atau membeli air bersih." Di kejauhan, bendera Merah Putih berkibar di pos perbatasan — namun di sini, perjuangan warga adalah melawan dahaga.
Potret Kehausan di Ujung Negeri
Musim kemarau telah tiba di Atambua, dan sumur-sumur mulai menyusut. Warga harus merogoh kocek hingga Rp20.000 per jerigen untuk mendapatkan air bersih dari pedagang keliling. Harga itu sangat memberatkan, terutama bagi keluarga dengan pendapatan pas-pasan. Sebuah truk tangki milik desa sempat datang bulan lalu, tapi belum ada jadwal rutin. Akibatnya, warga bergotong royong membuat penampungan sederhana dari terpal dan bambu untuk menampung air hujan — yang nyatanya tak pernah cukup.
- Jarak tempuh ke sumur terdekat: rata-rata 500 meter hingga 1 kilometer.
- Harga air bersih di musim kemarau: Rp20.000 per jerigen (20 liter).
- Frekuensi truk tangki: belum terjadwal, kadang sebulan sekali.
- Penampungan darurat: terpal dan bambu, kapasitas terbatas.
"Kami berharap pemerintah membangun sumur bor yang dalam, agar air tidak kering saat kemarau panjang," ujar Ina sambil mengelap keringat. Ia menunjukkan tangan kapalnya — hasil menimba puluhan ember setiap hari. Di belakangnya, anak-anak bermain di tanah kering, sesekali menghirup debu yang beterbangan. Kondisi ini bukan hanya melanda satu kampung, melainkan hampir seluruh wilayah perbatasan Timor Leste yang mengalami krisis air bersih setiap tahunnya.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Keterbatasan air bersih bukan hanya soal haus, tapi juga soal kesehatan dan martabat. Ibu-ibu di perbatasan Timor Leste ini harus memilih: membeli air dengan harga mahal atau mengorbankan waktu untuk mengambil air berkualitas rendah. Tak sedikit anak balita yang terkena diare akibat air yang tercemar. "Lebih baik kami mengirit air daripada anak sakit," kata Mama Lusia, warga lain yang ikut mengantre. Namun semangat gotong royong tak pernah padam. Mereka saling berbagi air dan menabung untuk membeli terpal baru. Di sela-sela kesibukan, mereka tetap menjahit bendera dan menyanyikan lagu nasional di pos kamling — nasionalisme yang lahir dari rasa memiliki tanah air yang kering.
Ketika senja tiba di Atambua, suara burung hutan bercampur dengan suara ember beradu. Di ujung jalan terlihat tiang batas negara Timor Leste yang megah, namun bagi warga, mimpi akan air bersih masih terasa begitu jauh. Mereka bertahan, karena ini tanah air — titik terdepan Indonesia yang haus akan tetes air dan setetes perhatian. Tanpa air, hidup di ujung negeri terasa begitu perih. Namun di balik keriput wajah dan tangan kapal, ada harapan yang tak pernah kering: bahwa suatu hari nanti, air bersih akan mengalir deras di setiap rumah warga Atambua, dan bendera Merah Putih akan berkibar di tengah senyum yang tak lagi haus.