SUARA PERBATASAN

Aspirasi Warga Nusa Tenggara Timur: Butuh Sekolah dengan Guru yang Menetap

Aspirasi Warga Nusa Tenggara Timur: Butuh Sekolah dengan Guru yang Menetap

SDN Fulur di Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, merupakan satu-satunya sekolah berlantai tanah di perbatasan RI-RDTL yang beroperasi dalam keterbatasan fasilitas, tanpa guru tetap. Kepala suku adat setempat, Bapak Yohanes, menyuarakan aspirasi warga yang membutuhkan guru menetap — bukan sekadar kunjungan tahunan — sebagai wujud kehadiran negara. Semangat belajar anak-anak perbatasan yang membara di tengah debu dan angin kering menjadi simbol nasionalisme yang patut diperjuangkan.

Di kaki bukit Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, deru angin Timur Daya berbaur dengan langkah kecil anak-anak yang berpacu di tanah lapang. SD Negeri Fulur berdiri reyot di antara garis batas RI-RDTL — satu-satunya bangunan berlantai tanah di kawasan perbatasan ini. Tanpa pagar, tanpa meja yang cukup, sekolah ini tetap menjadi rumah belajar paling berharga bagi puluhan anak yang setiap hari menyusuri debu perbatasan. Mereka belajar mengaji, berhitung, dan membaca dalam keterbatasan yang tak pernah memadamkan tawa. Di ujung negeri, di atas tanah yang kering dan berdebu, semangat menuntut ilmu justru membara.

Potret SDN Fulur: Belajar di Atas Tanah, Berjuang di Ujung Negeri

Wajah SDN Fulur seperti tergores oleh angin dan waktu. Dinding bangunannya kusam dan retak-retak dimakan usia, sementara lantainya hanyalah tanah yang setiap musim kemarau berubah menjadi debu halus. Ketika angin Timur Daya bertiup, butiran-butiran debu berterbangan ke dalam ruang kelas, menemani anak-anak yang tetap khusyuk belajar. Belasan siswa duduk rapat; sebagian tanpa meja karena jumlah kursi dan meja yang tidak sebanding dengan murid, sehingga mereka menaruh buku di atas pangkuan. Meski demikian, tidak ada keluhan yang keluar dari mulut anak-anak itu. Justru sebaliknya, semangat mengaji dan berhitung tetap membara di hati mereka. Semangat menuntut ilmu di perbatasan bukanlah sesuatu yang bisa dibatasi oleh tembok — karena tembok di sekolah ini pun tidak ada.

  • SDN Fulur menjadi satu-satunya bangunan sekolah berlantai tanah yang berdiri di kawasan perbatasan RI-RDTL.
  • Tidak ada pagar yang mengelilingi sekolah; halaman terbuka langsung menyatu dengan hamparan bukit.
  • Meja dan kursi belajar tidak mencukupi jumlah siswa, sehingga sebagian anak menulis dengan buku di atas pangkuan.
  • Guru yang datang silih berganti membuat proses pendidikan di SDN Fulur belum berjalan optimal.

Guru yang Menetap: Rindu Seorang Kepala Suku di Garis Depan

Di sela-sela bangunan reyot itu, berdiri sosok Bapak Yohanes, kepala suku adat setempat. Tangannya yang keriput terangkat menunjuk ke arah sekolah yang sama. Dengan nada berat namun tegas, ia menyuarakan aspirasi yang sudah lama mengendap di hati warga. "Kami ingin guru yang menetap, bukan hanya datang setahun sekali," ujarnya di antara deru angin Timur Daya yang membawa butiran debu dan debar harapan. Permintaan itu sederhana bagi negara sebesar Indonesia, namun sangat bermakna bagi warga yang merasa terpinggirkan. Kehadiran guru secara tetap bukan hanya tentang urusan belajar mengajar. Ia adalah simbol bahwa negara hadir dalam keseharian mereka, bukan sekadar seremonial saat agenda kunjungan tiba. Warga Fulur selalu menyebut diri mereka sebagai benteng terdepan Indonesia. Maka, ketika bangunan sekolah dibiarkan reyot dan guru datang hanya setahun sekali, mereka merasa benteng itu perlahan dilupakan.

Di sini, pendidikan dan nasionalisme berjalan beriringan. Setiap sore, sesudah jam pelajaran usai, anak-anak dan warga bergantian mengibarkan bendera merah putih di tiang yang terbuat dari bambu. Mereka tidak pernah absen, meski kain bendera sudah lusuh dan bertambal. Semangat nasionalisme yang membara di tanah kering perbatasan Timor ini mengajarkan kita bahwa cinta tanah air tidak membutuhkan fasilitas mewah. Cukup dengan tekad dan keyakinan bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia. Namun, apakah negara hadir untuk mereka? Guru yang menetap adalah kebutuhan mendesak di perbatasan NTT — bukan hanya untuk mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga untuk memastikan bahwa negara tidak melupakan mereka yang berjaga di garis depan. Sudah saatnya kita mendengar suara warga Fulur: berikan mereka guru yang bertahan, bukan hanya melintas.

pendidikan guru menetap perbatasan
Tokoh: Yohanes
Organisasi: Sekolah Dasar Negeri Fulur
Lokasi: Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Fulur

Artikel terkait