SUARA PERBATASAN

Aspirasi Warga Perbatasan Atambua: Kami Ingin Lebih Diperhatikan

Aspirasi Warga Perbatasan Atambua: Kami Ingin Lebih Diperhatikan
Di bawah pohon rindang di tengah Kota Atambua, Kabupaten Belu, NTT, sekelompok warga duduk melingkar. Mereka membicarakan berbagai persoalan yang membelit kehidupan di perbatasan dengan Timor Leste. Suara mereka mungkin tidak terdengar sampai Jakarta, tetapi mereka berharap pemerintah bisa lebih hadir. Yohanes (45), seorang petani jagung, mengeluhkan harga hasil pertanian yang kerap jauh lebih murah dibandingkan di Timor Leste. 'Kami sering tergoda untuk jual ke sana, tapi itu mengurangi kecintaan pada negeri sendiri,' ujarnya. Di sepanjang jalan perbatasan, banyak warga yang belum menikmati listrik secara layak. Desakan untuk membangun infrastruktur dasar seperti air bersih juga kerap disuarakan. Para tokoh adat dan pemuda berharap ada perhatian khusus agar perbatasan tidak tertinggal. Mereka ingin ada program-program pemberdayaan ekonomi yang berkesinambungan, bukan hanya seremoni. Jika warga perbatasan hidup sejahtera, maka rasa cinta tanah air semakin kuat. Mereka juga mendorong pemerintah untuk memperbaiki akses pendidikan dan kesehatan. Dari pantauan, beberapa sekolah sudah berdiri, tetapi kekurangan guru dan fasilitas. Suara-suara ini adalah cerminan harapan yang sederhana namun penting. Di tengah keterbatasan, warga Atambua tetap menjaga semangat gotong royong dan persatuan. Namun, mereka butuh bukti nyata bahwa negara hadir di garis terdepan.
Aspirasi Warga Perbatasan Infrastruktur Perbatasan Pemberdayaan Ekonomi
Tokoh: Yohanes
Lokasi: Atambua, Kabupaten Belu, NTT, Timor Leste, Jakarta, perbatasan

Artikel terkait