Di bawah terik matahari tropis, pesisir Kepulauan Marore tampak tenang, namun di balai desa, suasana berbeda. Puluhan warga berkumpul, membawa foto dan video yang memperlihatkan kondisi fasilitas kesehatan yang memprihatinkan. Bangunan reot dengan dinding retak dan peralatan medis yang terbatas menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Ibu-ibu menggendong anak-anak yang demam, menunggu giliran periksa dengan harap-harap cemas. Seorang bidan gratis hanya datang dua kali sebulan, sementara jarak ke rumah sakit terdekat di daratan Sangihe memakan waktu 4 jam perjalanan laut. Di sini, di perbatasan Indonesia, semangat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak tidak pernah padam.
Potret Fasilitas Kesehatan di Garis Depan
Pemandangan yang menyayat hati terlihat di balai desa, di mana warga menyusun surat permohonan resmi kepada pemerintah. Mereka menuntut pembangunan Puskesmas rawat inap yang layak, bukan sekadar bangunan darurat yang ada saat ini. Kondisi geografis Marore yang terpencil membuat akses kesehatan menjadi tantangan besar. Anak-anak berlarian di antara pepohonan kelapa, sementara orang tua berdiskusi serius tentang masa depan mereka. Berikut adalah kondisi riil yang berhasil didokumentasikan oleh warga:
- Bangunan puskesmas yang ada hanya memiliki 2 ruangan sempit, tanpa ruang rawat inap.
- Peralatan medis yang tersedia hanyalah stetoskop bekas dan tensimeter yang sudah usang.
- Tenaga medis tetap tidak ada; hanya bidan sukarela yang datang dua kali sebulan dari pulau tetangga.
- Obat-obatan sering habis, dan pasien dengan kondisi darurat harus menunggu kapal nelayan untuk dibawa ke rumah sakit.
Suara warga pun menggema, salah satunya dari Maria, seorang ibu muda yang anaknya sering sakit. "Kami butuh puskesmas yang buka setiap hari, bukan hanya saat bidan datang. Anak saya pernah kejang di malam hari, dan kami tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu pagi," tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Aspirasi perbatasan ini bukan sekadar permintaan, melainkan jeritan hati yang menginginkan kehadiran negara di ujung negeri.
Perjuangan Kesehatan di Kepulauan Marore
Perjalanan menuju fasilitas kesehatan yang memadai adalah mimpi yang masih jauh. Dari Marore, warga harus menempuh laut bergelombang selama 4 jam untuk mencapai rumah sakit di daratan Sangihe. Biaya transportasi yang tinggi dan cuaca yang tidak menentu sering kali menjadi penghalang. "Kami tahu pemerintah punya banyak program, tapi kami di sini seperti dilupakan. Sinyal saja susah, apalagi bantuan kesehatan," ujar Pak Andreas, tokoh masyarakat setempat. Kondisi ini diperparah dengan minimnya infrastruktur dasar seperti listrik dan air bersih, yang membuat pelayanan kesehatan semakin tidak optimal.
Namun, di balik keterbatasan, semangat kebersamaan warga tetap membara. Mereka saling membantu, berbagi obat, dan bergotong royong merawat pasien yang sakit. "Kami tidak menyerah. Kami akan terus bersuara sampai pemerintah mendengar," tegas Pak Andreas. Semangat ini adalah cermin ketangguhan warga perbatasan Indonesia yang tidak pernah padam.
Kepulauan Marore adalah bagian dari NKRI yang harus diperhatikan. Kesehatan adalah hak dasar yang tidak boleh dibedakan oleh jarak dan keterpencilan. Sudah saatnya pemerintah hadir dengan solusi nyata, membangun Puskesmas yang layak, dan mengirim tenaga medis yang siap mengabdi. Kita semua, sebagai bagian dari bangsa ini, harus mendukung agar warga di garis depan tidak lagi berjuang sendirian. Karena di setiap detak jantung mereka, ada denyut nasionalisme yang menjaga kedaulatan Indonesia. Mari kita pastikan bahwa kemerdekaan juga berarti akses kesehatan yang adil untuk semua, sampai ke titik terluar negeri.