Suara mesin alat berat memecah keheningan pagi di Desa Daruba, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Puluhan pekerja memakai helm dan rompi kuning mulai meratakan tanah untuk landasan pacu sepanjang 1.800 meter. Di sepanjang jalan desa, warga berjejer menyaksikan—beberapa dari mereka menangis haru. Bau solar dan debu tanah bercampur khas memenuhi udara, sementara tumpukan aspal dan kayu bakar berserakan di lokasi. Seorang mandor mengarahkan buldoser yang menerjang semak belukar, tanaman sagu tumbang perlahan. Inilah awal dari mimpan 30 tahun yang akhirnya terwujud: pembangunan bandara di pulau terluar ini mulai digarap.
Potret Garis Depan: Dari Kapal Dua Hari ke Landasan Pacu
Bagi warga Morotai, bandara ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah nadi kehidupan yang telah lama dinantikan. Ibu Maria (60), seorang guru, berdiri di tepi jalan dengan mata berkaca-kaca. “Dulu kami harus naik kapal dua hari ke Ternate kalau sakit atau urusan penting. Sekarang bandara, kami bisa terbang langsung,” ujarnya dengan suara bergetar. Kondisi geografis Morotai yang terisolasi membuat akses transportasi menjadi problem kronis. Berikut adalah gambaran riil yang ditemukan di lapangan:
- Landasan pacu sepanjang 1.800 meter sedang dalam tahap perataan tanah, ditargetkan selesai dalam 18 bulan ke depan.
- Material bangunan seperti aspal dan kayu bakar diangkut dari Ternate dengan kapal barang, memakan waktu hingga 3 hari perjalanan.
- Warga bergotong-royong membersihkan lahan, termasuk merelakan tanaman sagu mereka yang tumbang diterjang buldoser.
- Proyek ini didanai oleh APBN sebagai bagian dari program konektivitas kawasan perbatasan, dengan anggaran mencapai Rp 250 miliar.
Suara dari Ujung Negeri: Antara Haru dan Harapan
Di tengah hiruk-pikuk alat berat, suara warga menjadi saksi bisu perjuangan panjang. Seorang nelayan, Pak Rudi (45), menambahkan, “Selama ini, kalau ada warga sakit parah, kami harus menggotong mereka ke kapal. Banyak yang meninggal di perjalanan. Sekarang, rumah sakit di Ternate hanya sekitar 30 menit lewat udara.” Proyek bandara ini juga membuka peluang ekonomi baru. Hasil bumi seperti cengkih, pala, dan kopra yang