Di ujung timur Aceh, tepatnya di Gampong Alue Batee, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, pagi mulai merangkak naik. Sawah-sawah menghijau membentang hingga ke pucuk-pucuk kelapa yang menjadi garis batas tak resmi dengan Malaysia. Di dalam sebuah ruang kelas sederhana SDN 1 Alue Batee, deretan meja kayu usang menyambut para siswa. Namun pagi itu, bukan papan tulis yang menjadi pusat perhatian, melainkan sebuah televisi tabung di sudut kelas. Layarnya berkilau, menampilkan siaran langsung upacara bendera dari Istana Merdeka di Jakarta. Sinyal kadang buram, tapi anak-anak tetap duduk rapi, tangan mungil mereka memberi hormat dan mulut-mulut kecil itu berseru lantang menyanyikan 'Indonesia Raya'. Suara mereka terbawa angin, melewati jendela yang menghadap langsung ke batas negara.
Potret Garis Depan: Belajar Indonesia dari Layar Berkilau
Kepala sekolah SDN 1 Alue Batee, M. Jamil, berdiri di samping televisi itu. Dengan tatapan penuh harap, ia menjelaskan bahwa menyalakan TVRI setiap jam pelajaran adalah satu-satunya cara bagi murid-muridnya untuk benar-benar 'melihat' Indonesia. Sebab di wilayah perbatasan Aceh ini, sinyal televisi dari negeri jiran jauh lebih kuat. Anak-anak justru lebih akrab dengan lagu-lagu dan berita dari Malaysia. 'Ini satu-satunya cara agar mereka mengenal Indonesia. Sebagian besar anak di sini lebih akrab dengan lagu-lagu dan berita dari negeri jiran karena sinyal televisi Malaysia lebih kuat,' ujar Jamil dengan nada getir. Kondisi ini menjadi potret nyata perjuangan menanamkan nasionalisme di garis depan, melalui siaran yang kadang terputus-putus.
- Infrastruktur sinyal televisi nasional di perbatasan Aceh masih lemah, sering buram dan terintervensi pancaran dari Malaysia.
- TVRI menjadi satu-satunya jendela bagi anak-anak Alue Batee untuk melihat upacara bendera, berita nasional, dan konten budaya Indonesia.
- Para guru di SDN 1 Alue Batee secara rutin menjadwalkan tayangan TVRI sebagai bagian dari pelajaran kewarganegaraan.
Nasionalisme di Ujung Negeri: Harapan dari Alue Batee
Setelah upacara usai, guru membagikan kertas gambar karton dan pensil warna. Anak-anak diminta menggambar peta Indonesia. Suasana hening sesaat, lalu kertas-kertas mulai dipenuhi garis-garis tak rapi. Salah seorang siswa bernama Rizal (10) tampak serius menggambar garis perbatasan yang memisahkan Sumatra dengan Malaysia. Ia menekan pensil warna kuat-kuat, seolah ingin memastikan batas negara itu tak tertukar. 'Saya mau jadi TNI, biar bisa jaga tanah air,' ucapnya polos sambil menunjuk gambar peta di depannya. Di sudut ruang kelas, selembar bendera merah putih kusam tergantung di dinding kayu. Meski lusuh, kain itu menjadi saksi bisu dari proses penanaman rasa cinta tanah air di usia belia. Proses belajar nasionalisme di sini tidak melalui buku, melainkan melalui gambar dan siaran televisi yang menjadi satu-satunya tautan dengan pusat republik.
Di luar, angin membawa suara mesin perahu nelayan yang melintasi perairan tak bertuan. Namun di dalam kelas ini, suara 'Indonesia Raya' masih bergema. TVRI telah menjadi jembatan tipis yang menghubungkan hati anak-anak di ujung negeri dengan pusat republik. Tangan-tangan mungil itu terus menggambar, mencoret, dan mengingat—bahwa di mana pun mereka berada, Indonesia adalah milik mereka. Di balik layar berkilau yang kadang buram itu, terbit semangat yang tak pernah pudar: nasionalisme yang lahir dari keprihatinan, tumbuh dalam keterbatasan, dan terus dipelajari dengan segenap jiwa. Inilah garis depan, tempat cinta tanah air diuji dan dinyalakan setiap hari.