Di bawah langit kelabu yang masih menyisakan gerimis tipis, tiang perbatasan nomor B-1119 menjulang setinggi lima meter di tengah hamparan kebun sayur yang hijau. Di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, tiang beton berwarna putih dan merah itu menjadi saksi bisu perjuangan warga di ujung negeri. Pak Darwis (55) membungkuk di antara bedengan kangkung yang subur, tangannya yang keriput dengan cermat memetik daun-daun segar. Dari kejauhan, di sisi Malaysia, terlihat atap-atap rumah permanen bergenteng merah. Jarak dari ladang ke tiang itu hanya sepuluh meter—sebuah batas kedaulatan yang setiap hari ia rawat, namun tak pernah sepenuhnya ia pahami. Suara gesekan daun dan gemericik air dari sumur bor sederhana menjadi irama pagi yang akrab di garis depan kehidupan ini.
Potret Kehidupan di Bawah Tiang B-1119
Setiap pukul 05.00 pagi, sebelum matahari terik menyengat, Pak Darwis dan istrinya telah berada di kebun seluas setengah hektar. Mereka menanam kangkung, cabai, dan terong—tanaman yang tahan terhadap air payau dari sumur bor sederhana yang mereka gali sendiri. Suara gemuruh pesawat patroli TNI AU atau helikopter Polisi Perbatasan Malaysia kadang memecah kesunyian, mengingatkan bahwa ladang ini berada di wilayah sensitif. Namun, bagi Pak Darwis, ini adalah tanah leluhurnya, jauh sebelum tiang perbatasan itu berdiri pada 1970-an. “Saya lahir di sini, orang tua saya juga. Tiang itu baru ada setelah saya dewasa,” ujarnya sambil mengusap keringat di dahi. Kondisi infrastruktur di kebun ini sangat sederhana, menggambarkan kehidupan warga yang akrab dengan keterbatasan namun tetap teguh:
- Akses air bersih: Sumur bor menghasilkan air payau, sehingga untuk minum warga harus membeli air galon dari Nunukan dengan harga Rp20.000 per galon.
- Jalan kebun: Hanya jalan setapak tanah yang licin saat hujan. Tidak ada aspal atau penerangan umum di sekitar ladang.
- Patroli keamanan: Setidaknya dua kali sehari, pesawat atau helikopter patroli melintas. Warga sudah terbiasa, namun tetap waspada.
- Pasar terbatas: Hasil panen harus segera terjual karena tidak ada fasilitas penyimpanan yang memadai.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Hasil kebun Pak Darwis dijual ke pasar tradisional di Nunukan atau langsung ke tetangga di Kampung Binalatung, Pulau Sebatik. Tidak jarang, kerabatnya dari sisi Tawau, Malaysia, menyebrang dengan perahu kecil untuk membeli sayur segar. “Harganya hampir sama, tapi beda mata uang. Kadang mereka bayar pakai ringgit, kadang rupiah. Kami terima saja,” ucapnya sambil tertawa. Kehidupan mengalir begitu saja di bawah bayang-bayang tiang perbatasan. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada ironi yang terus menghantui: mengapa garis imajiner ini membuat perbedaan begitu besar dalam nasib dua komunitas yang sebenarnya serumpun? Pertanian di Pulau Sebatik bukan sekadar mata pencaharian, melainkan simbol perlawanan terhadap kerasnya kondisi geografis dan politik.
Di sela-sela bedengan, Pak Darwis sesekali menatap tiang B-1119 yang kokoh. Ia sadar bahwa kehidupannya adalah potret nyata dari wajah Indonesia di perbatasan—tanah yang subur namun kerap dilupakan, semangat yang membara namun terkukung oleh keterbatasan. Kisah Pak Darwis adalah pengingat bahwa di ujung negeri, masih ada jiwa-jiwa yang setia merawat kedaulatan dengan keringat dan tanah. Sudah saatnya kita semua tidak hanya memandang garis batas di peta, tetapi juga mendengar denyut kehidupan warga di garis depan, yang dengan sederhana namun gagah berani menjaga martabat bangsa.