POTRET GARIS DEPAN

Bersekolah di Ujung Negeri: Anak-Anak Perbatasan Sebatik Belajar di Ruang Kelas Sederhana

Bersekolah di Ujung Negeri: Anak-Anak Perbatasan Sebatik Belajar di Ruang Kelas Sederhana

Di SDN 002 Sebatik Tengah, Pulau Sebatik, anak-anak perbatasan Indonesia-Malaysia belajar di ruang kelas sederhana berdinding papan, berlantai tanah, dan penuh keterbatasan. Meski kontras dengan sekolah megah di sisi Malaysia dan janji pembangunan yang masih sebatas rencana, semangat belajar anak-anak di ujung negeri tidak pernah padam.

Fajar belum benar-benar naik di Pulau Sebatik, tetapi kehidupan di garis depan sudah bergerak. Di Sebatik Tengah, wilayah yang terbelah oleh garis batas Indonesia-Malaysia, Sekolah Dasar Negeri 002 Sebatik Tengah tampak seperti potongan lama dari negeri yang belum tersentuh pembangunan. Dinding papannya reot, lantainya tanah, dan beberapa jendela harus ditutup rapat ketika angin laut membawa garam dan debu. Di dalam kelas, puluhan anak berseragam merah-putih duduk lesehan di atas tikar. Meja dan kursi yang layak belum ada; buku tulis di hadapan mereka sudah lusuh, sebagian sampulnya sobek dan halamannya menguning. Namun mata-mata itu tetap berbinar. Mereka membaca, menulis, dan menyimak pelajaran seolah tidak ada jarak antara mimpi dan keterbatasan.

Di depan papan tulis yang sudah menghitam, Pak Rahmat bertahan dengan kapur tulis yang tinggal sebatas jari. Tangannya bergerak pelan menuliskan pelajaran sambil sesekali menoleh untuk memastikan semua anak mengikuti. "Anak-anak ini hebat, mereka tak pernah mengeluh," ujarnya sambil tersenyum. Padahal, kata-kata itu disampaikan di ruang kelas yang atapnya tersusun dari seng tua; di beberapa titik, cahaya matahari menembus lubang karat. Suara guru bercampur dengan kokok ayam dan desau angin. Di sisi lain pagar, pemandangan berubah drastis: deretan rumah permanen dan bangunan sekolah megah milik Malaysia berdiri kokoh, dengan halaman beraspal dan cat yang masih terang.

Potret Kelas di Ujung Negeri

Kondisi SDN 002 Sebatik Tengah menyimpan banyak cerita tentang bagaimana anak-anak negeri ini mempertahankan hak atas pendidikan di perbatasan. Berjalan di sini, kita tidak hanya melihat tembok papan dan tanah, tetapi juga ketahanan yang tumbuh dari keterbatasan.

  • Dinding sekolah terbuat dari papan yang sebagian telah lapuk oleh usia dan cuaca laut.
  • Lantai ruang kelas masih berupa tanah, sehingga ketika hujan turun, air merembes dan becek.
  • Meja dan kursi sangat terbatas, membuat sebagian siswa harus belajar lesehan di atas tikar.
  • Buku tulis dan alat tulis menjadi barang berharga; banyak anak memakai kembali sisa-sisa buku agar tetap bisa berlatih menulis.
  • Kapur tulis digunakan nyaris tanpa sisa, seolah menyisakan semangat yang tidak pernah habis.

Namun di tengah semua keterbatasan itu, tidak ada satu pun anak yang terlihat menyerah. Seorang siswa yang duduk paling pojok bahkan rajin sekali mengangkat tangannya setiap kali Pak Rahmat bertanya. "Kami terbiasa," katanya polos. Ucapan pendek itu seperti cermin dari semangat yang tidak mau padam hanya karena kelas berdinding papan dan berlantai tanah.

Harapan di Balik Pagar

Pemerintah pun telah menoleh kepada nasib sekolah di Sebatik. Pembangunan sekolah baru untuk SDN 002 Sebatik Tengah, menurut Pak Rahmat, sempat dijanjikan dan kini memasuki tahap perencanaan. Namun kata perencanaan bukanlah hal sederhana bagi orang tua yang setiap hari melihat anak-anak berangkat dengan tas kecil berisi bekal dan buku lusuh. Mereka tidak menuntut yang muluk-muluk; hanya ingin anak-anak memiliki tempat belajar yang layak di wilayah yang menjadi gerbang depan Indonesia. Selama meja dan kursi masih terbatas, selama dinding papan masih bisa menopang atap, mereka memilih bersyukur dan terus mengirim anak-anak mereka ke sekolah.

Ada sesuatu yang lebih besar dari keterbatasan yang terpampang di kelas-kelas itu. Ada perjuangan tenang yang terus berlangsung setiap pagi, di ujung negeri yang kerap terlupakan. Bagi anak-anak Sebatik, sekolah bukan sekadar bangunan; ia adalah gerbang harapan untuk menjadi bagian dari Indonesia yang lebih besar. Mereka belajar di atas tikar, menulis di buku lusuh, tetapi di dada mereka berkobar keyakinan bahwa mereka adalah anak negeri yang punya tempat di garis depan. Ketika seorang siswa diminta menyanyikan Indonesia Raya, suaranya melantang menembus celah-celah papan dinding, seolah berkata: "Kami di sini, dan kami terus belajar." Bangsa ini berutang perhatian kepada mereka, anak-anak perbatasan yang menjaga Indonesia dengan caranya sendiri: datang ke sekolah, duduk di tikar, dan tidak pernah berhenti bermimpi.

pendidikan anak perbatasan sekolah sederhana
Tokoh: Rahmat
Organisasi: Sekolah Dasar Negeri 002 Sebatik Tengah, Pemerintah
Lokasi: Pulau Sebatik, Sebatik Tengah, Indonesia, Malaysia

Artikel terkait