POTRET GARIS DEPAN

Bersimbah Peluh di Bawah Panas Terik, Petani Kopi di Perbatasan RI-Malaysia Bersiap Panen

Bersimbah Peluh di Bawah Panas Terik, Petani Kopi di Perbatasan RI-Malaysia Bersiap Panen

Di Dusun Jago, Sambas, petani kopi seperti Pak Udin menjalani hari di bawah terik matahari, menggarap kebun tepat di samping perbatasan dengan Malaysia. Tantangan utama mereka adalah akses pasar yang sulit dan ketergantungan pada harga komoditas, bukan simbolisme patriotik. Mereka bertahan di garis depan dengan satu misi sederhana: melanjutkan warisan leluhur untuk menghidupi keluarga dan menjaga tanah perbatasan tetap produktif.

Panas terik pagi di Dusun Jago, Kecamatan Seluas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, sudah menggigit kulit. Matahari belum mencapai puncak langit, namun sinarnya telah membuat udara di kebun kopi terasa seperti di dalam tungku. Dari punggung Pak Udin, peluh bercucuran seperti sungai kecil, membasahi kain lusuh yang melilit tubuhnya. Tangannya yang kasar dan retak-retak — bukti tahunan kerja keras — dengan cekatan memilah buah-buah kopi robusta yang memerah di antara rimbun daun hijau. Di latar belakang, tak lebih dari lima ratus meter dari tempatnya berdiri, atap-atap seng rumah warga Serawak, Malaysia, berkilauan terkena cahaya pagi. Suara parang yang berpangkas dahan kering dan desiran daun yang ditiup angin timur menjadi soundtrack rutin dari kehidupan mereka — petani-petani yang bercocok tanam tepat di garis perbatasan, di mana perbedaan negara terasa tipis, namun tantangan hidup terasa begitu nyata.

Bekerja di Bawah Bayangan Garis Perbatasan

Di sini, di Kabupaten Sambas, pagar negara tak lebih dari sebatas pilar-pilar beton dan tanda-tanda di peta. Ritual harian Pak Udin dan puluhan petani lainnya tak peduli pada sekat administrasi itu. Fokus mereka adalah pada setiap cabang dan setiap buah kopi. “Di sini, bukan soal perbatasan yang ada di pikiran. Yang ada hanya kualitas buah ini,” ujar Pak Udin sambil menunjuk sekumpulan buah yang sudah matang sempurna, suaranya parau diterpa angin. “Ini yang menentukan harga, ini yang akan bayar sekolah anak-anak saya.” Suasana perkebunan yang tenang hanya sesekali terpecah oleh suara mesin patroli perbatasan yang terdengar samar dari kejauhan, sebuah pengingat halus bahwa mereka menggarap lahan di zona yang sensitif. Namun, bagi mereka, tanah ini adalah akar hidup, sebuah amanah yang jauh lebih tua dari garis-garis yang ditarik di atas kertas.

Realitas Pahit di Ladang Kopi Perbatasan

Di balik panorama perkebunan yang menghijau, ada daftar panjang tantangan yang menggelayuti para petani kopi di wilayah perbatasan ini. Tidak ada romantisme nasionalisme yang bombastis di sini, hanya kenyataan keseharian yang keras. Mereka hidup dan bekerja di bibir negeri, namun sering merasa jauh dari pusat perhatian. Berikut adalah beberapa realitas yang mereka hadapi setiap hari:

  • Pertanian Subsisten: Pola tanam kopi robusta diwarisi turun-temurun, namun akses terhadap teknologi dan bibit unggul sangat terbatas.
  • Jarak Pasar yang Mencekik: Hasil panen harus berjuang menempuh jalan berlika-liku dan transportasi mahal untuk mencapai pasar lokal di Sambas, belum lagi untuk menjangkau pasar nasional.
  • Keterisolasian Relatif: Meski berdampingan dengan negara tetangga, akses terhadap bantuan alat pertanian dan program pemerintah sering kali tersendat atau terlambat tiba.
  • Ketergantungan pada Alam: Mereka sepenuhnya bergantung pada musim dan cuaca, dengan risiko harga yang bisa anjlok kapan saja saat panen raya tiba.
Tanah ini adalah tulang punggung bagi keluarga-keluarga seperti keluarga Pak Udin. Baginya, setiap butir kopi adalah peluh dan harapan — harapan agar harga di pasaran cukup untuk membeli buku anak-anaknya, cukup untuk memperbaiki atap rumah yang bocor ketika musim hujan tiba.

Dari Dusun Jago, sudut paling barat di Kalimantan ini, mereka terus bertahan. Mereka tidak menanam kopi untuk kisah heroik tentang penjaga perbatasan; mereka menanam untuk hidup. Namun, dalam setiap lekuk tanah yang digarap, dalam setiap pohon yang dirawat, terkandung sebuah keteguhan yang lebih dalam: sebuah komitmen untuk tetap produktif di tanah leluhur, di ujung teritori Republik. Mereka adalah gambaran nyata dari ketahanan warga Sambas, yang dalam kesunyian garis depan, terus mengusahakan penghidupan dengan cara yang mereka tahu. Keringat yang mereka teteskan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk menjaga agar sepetak tanah Indonesia di perbatasan itu tetap hidup, hijau, dan menghasilkan.

Artikel terkait