INFRASTRUKTUR

Bupati Malaka: Pembangunan Jalan Perbatasan NTT-RDTL Harus Dipercepat

Bupati Malaka: Pembangunan Jalan Perbatasan NTT-RDTL Harus Dipercepat

Di Kecamatan Malaka Tengah, NTT, Bupati Malaka Simon Nahak menyoroti kondisi kritis jalan perbatasan Indonesia-Timor Leste yang rusak parah, mengisolasi warga dari akses ekonomi dan layanan dasar. Debu dan lumpur menjadi pemandangan sehari-hari, sementara di sisi lain perbatasan, aspal mulus membentang. Ia mendesak pemerintah pusat segera mempercepat pengerasan jalan sebagai simbol kehadiran negara dan wujud nasionalisme di garis depan.

Di bawah terik matahari yang membakar perbukitan gersang Kecamatan Malaka Tengah, Bupati Malaka Simon Nahak berdiri di pinggir jalan tanah berbatu yang berdebu. Angin panas dari Timor Leste menerbangkan partikel tanah kering, menempel di pakaian dan wajahnya. Di depannya, terbentang ruas jalan yang menjadi nadi penghubung desa-desa perbatasan Indonesia dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Jalan itu kini rusak parah — berlubang besar, bergelombang, dan nyaris tak bisa dilalui kendaraan roda empat saat musim hujan tiba. 'Bayangkan, untuk menjual hasil kebun ke pasar terdekat, warga harus menempuh jalan seperti ini,' ujar Simon sambil menunjuk ke arah debu yang beterbangan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat langsung perbedaan mencolok: di sisi lain perbatasan, aspal mulus membentang, sementara di tanah air sendiri, warga berjuang melawan lumpur dan bebatuan tajam.

Potret Garis Depan: Jalan Setapak yang Mengisolasi

Kondisi jalan ini bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan wilayah. Akses yang buruk telah mengisolasi masyarakat perbatasan dari pusat pertumbuhan ekonomi dan layanan dasar. Simon Nahak menegaskan bahwa infrastruktur yang memadai adalah urat nadi kehidupan di tapal batas negara. Berdasarkan penuturan warga setempat dan pengamatan langsung di lapangan, dampak dari jalan rusak ini sangat terasa:

  • Hasil pertanian seperti jagung, kopi, dan sayuran sering membusuk sebelum sempat dijual ke pasar di Kota Betun atau Atambua karena waktu tempuh yang panjang dan medan sulit.
  • Akses ke puskesmas dan sekolah dasar menjadi sangat terbatas, terutama saat hujan deras yang mengubah jalan menjadi kubangan lumpur.
  • Harga barang kebutuhan pokok di desa-desa perbatasan melonjak drastis karena biaya transportasi yang tinggi — sebuah ironi di tengah sumber daya alam yang melimpah.
  • Arus lalu lintas warga yang ingin mengunjungi sanak saudara di seberang perbatasan terhambat, memperlemah ikatan sosial dan ekonomi lintas negara.

Simon menambahkan, banyak anak-anak di lereng bukit harus berjalan kaki berjam-jam melewati jalan berbatu hanya untuk sampai ke sekolah. Mereka tumbuh dengan menyaksikan sendiri bagaimana negara hadir — atau justru absen — di ujung terdepan NKRI.

Jalan Mulus: Simbol Kehadiran Negara di Tapal Batas

Dengan suara lantang namun penuh harap, Bupati Malaka mendesak pemerintah pusat untuk segera mempercepat pengerasan jalan perbatasan NTT-RDTL ini. Di matanya, jalan yang mulus bukanlah sekadar proyek fisik, melainkan simbol konkret kehadiran negara di garis depan. 'Ini adalah jalur yang akan membawa listrik, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan kepada anak-anak yang bermain di gubuk-gubuk sederhana di lereng bukit,' tegasnya. Simon percaya bahwa pembangunan infrastruktur jalan di perbatasan adalah cara paling nyata untuk membangun nasionalisme — dengan menunjukkan bahwa pemerintah peduli pada setiap jengkal tanah perbatasan, termasuk yang paling terpencil sekalipun. Ia berharap proyek ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi prioritas nasional yang segera diwujudkan.

Dari bukit gersang yang sama, debu dan hembusan angin dari Timor Leste seolah menjadi saksi bisu perjuangan warga di ujung negeri. Jalan tanah berbatu itu mungkin hanya setapak di peta, namun bagi mereka yang hidup di garis depan, setiap meter yang mulus adalah janji keadilan dan kesejahteraan. Saat senja mulai merambat di cakrawala NTT, bayangan Simon Nahak memanjang di atas jalan yang berdebu — sebuah pengingat bahwa negara harus hadir, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan aspal dan beton yang menyatukan harapan bangsa. Sudah saatnya kita semua, sebagai saudara sebangsa, turut merasakan getirnya debu di perbatasan dan bersuara agar pembangunan infrastruktur jalan menjadi prioritas mutlak, karena di sanalah martabat negara kita diuji setiap hari.

Pembangunan Jalan Perbatasan NTT-RDTL
Tokoh: Simon Nahak
Lokasi: Malaka, NTT, Timor Leste, Indonesia, Timor

Artikel terkait