Kabut pagi masih menyelimuti Desa Sunkaen, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten TTU, saat rombongan gabungan Satgas Citarum BAIS TNI, FKMP RI-RDTL, dan Satgas Pamtas tiba di halaman SD Negeri Sunkaen. Di antara pepohonan dan rumah-rumah kayu yang berdiri kokoh, sekitar 30 siswa dengan seragam putih-merah berkerumun di depan banner berwarna hijau yang baru saja dipasang. Banner itu menggambarkan tangan-tangan saling berpegangan melingkari peta hutan, dengan pesan tegas: 'Jaga Kelestarian Hutan, Cegah Karhutla di Kawasan Perbatasan RI-RDTL'. Udara sejuk pagi itu berpadu dengan semangat anak-anak yang duduk lesehan di atas tikar anyaman, sesekali menengok ke arah barat daya—ke arah perbukitan yang menjadi garis batas antara Indonesia dan Timor Leste. Di kejauhan, garis hijau perbukitan terlihat jelas, mengingatkan bahwa perbatasan tidak hanya soal garis di peta, tetapi juga soal ekosistem yang saling terhubung. Kegiatan sosialisasi ini menjadi langkah nyata untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah yang rawan selama musim kemarau.
Suara Garda Depan di Pasar Rakyat
Lidia Laklo, Plt. Camat, berbicara di tengah lingkaran siswa dan guru. Suaranya lantang menembus udara sejuk pagi itu, mengingatkan bahwa hutan yang mereka jaga adalah garis depan pertahanan ekologis. 'Ingat, di seberang sana adalah Desa Pasabe, Distrik Oecusse, Timor Leste. Asap dari kebakaran hutan tidak kenal batas negara,' tegasnya sambil menunjuk ke arah barat. Pemandangan dari sini adalah perbukitan hijau yang membentang, garis batas yang terasa begitu nyata sekaligus rapuh bila terbakar. Tidak hanya di sekolah, kegiatan sosialisasi ini juga menjangkau pasar rakyat dan jalan poros perbatasan, tempat warga perbatasan beraktivitas setiap hari. Di pasar, para pedagang dan pembeli berhenti sejenak untuk mendengarkan pesan tentang bahaya karhutla, sementara anak-anak kecil berlarian di antara lapak-lapak yang menjual sayur dan ikan. Suasana riuh rendah pasar berubah hening saat personel Satgas Pamtas dari Pos Baen dan Pos Haumeni Ana mulai berbicara tentang dampak asap yang bisa melintas ke negara tetangga.
- Lokasi strategis: Banner dipasang di dua titik vital—Desa Haumeni Ana dan depan Kantor Camat—yang menjadi lalu lintas utama warga dan kendaraan menuju pos perbatasan.
- Peserta aktif: 30 siswa kelas 4-6 SD Negeri Sunkaen, guru, aparat desa, dan personel Satgas Pamtas, semuanya terlibat dalam diskusi interaktif mengenai dampak asap lintas batas.
- Fakta lapangan: Kecamatan Bikomi Nilulat berbatasan langsung dengan Distrik Oecusse, Timor Leste, dan selama musim kemarau sering terjadi titik api yang menjalar dari lahan warga yang membuka ladang secara tradisional.
- Suara warga: 'Kami sering khawatir kalau asap dari kebakaran hutan di sini bisa sampai ke desa tetangga di Timor Leste. Makanya sosialisasi kayak gini penting,' ujar Yuliana, seorang guru SD yang ikut mendampingi siswanya.
Potret Kolaborasi di Ujung Negeri
Di depan Kantor Camat, banner serupa terpampang jelas bagi setiap kendaraan yang melintas di jalan poros perbatasan. Rombongan Satgas Citarum BAIS TNI, FKMP RI-RDTL, dan Satgas Pamtas berhenti sejenak untuk memastikan pesan pencegahan karhutla tersampaikan ke seluruh lapisan masyarakat. Di sini, warga perbatasan tidak hanya menerima imbauan, tetapi juga diajak berdialog tentang praktik pertanian ramah lingkungan sebagai alternatif dari pembakaran lahan. Suara Alo, seorang petani lokal, menggema di antara tiang-tiang banner: 'Kami sadar, hutan adalah saudara. Kalau terbakar, kami yang rugi, dan saudara di Timor Leste juga kena dampaknya.' Kolaborasi antara TNI, pemerintah kecamatan, dan warga ini menjadi bukti bahwa kesadaran ekologis di garis depan bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab bersama.
Di ujung Negeri, di mana batas negara hanya dipisahkan oleh bukit dan lembah, semangat kebersamaan untuk mencegah kebakaran hutan adalah napas kehidupan. Dari Desa Sunkaen, kita belajar bahwa menjaga hutan berarti menjaga kedaulatan—kedaulatan ekologis yang tak mengenal batas. Sosialisasi ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan janji dari warga perbatasan untuk terus menjadi garda terdepan dalam menjaga harmoni antara tanah air dan negeri tetangga. Melalui langkah kecil seperti ini, kita diteguhkan bahwa kepedulian terhadap sesama dan alam adalah fondasi kokoh bagi Indonesia yang lebih kuat di masa depan.