Di Balik bangunan Puskesmas Jagoi Babang yang kokoh, hasil renovasi ketiga kalinya, terdengar suara roda ambulans yang mendengking lemah. Pagi itu, hujan rintik-rintik membasahi jalan tanah merah yang membelah desa. Eris, seorang perawat berusia 38 tahun, berdiri di depan pintu sambil memandangi dua unit ambulans yang kini 'layu'—tenaganya terkikis usia dan jarang terawat. Di kejauhan, patung Soekarno menyambut warga yang hendak menyeberang ke Serikin, Malaysia. Suasana hening, hanya sesekali suara radio komunikasi yang memecah keheningan. Di ruang periksa, lampu neon pucat menyoroti wajah-wajah lelah pasien yang mengantre: ada yang menderita diare, ada yang sakit jantung, ada pula korban kecelakaan dari jalan perbatasan yang belum rata. Inilah potret pagi di puskesmas satu-satunya yang menjadi tumpuan kesehatan bagi warga perbatasan Bengkayang, Kalimantan Barat.
Ambulans 'Layu' dan Jalan Tanah Merah: Pertaruhan Nyawa di Garis Depan
Setiap hari, petugas kesehatan di Puskesmas Jagoi Babang harus berpacu dengan waktu saat merujuk pasien darurat ke rumah sakit yang berjarak dua jam perjalanan. Dua ambulans yang tersisa kini dalam kondisi memprihatinkan: satu sering mogok di tengah jalan, satunya lagi tanpa pendingin udara dan perlengkapan darurat yang memadai. Saat hujan lebat mengguyur, jalan tanah merah licin seperti lumpur, dan perjalanan bisa memakan waktu lebih dari tiga jam. Warga setempat kerap menyaksikan ambulans itu oleng saat melewati tikungan tajam. Aktivitas di puskesmas perbatasan ini bukan sekadar pelayanan kesehatan rutin, melainkan pertaruhan nyawa di jalan terjal. Berdasarkan catatan petugas, kasus rujukan terbanyak adalah penyakit jantung dan komplikasi kehamilan—penyakit yang tak bisa ditunda. Seorang warga, Pak Rudi, mengaku pernah menunggu tiga jam lebih saat istrinya melahirkan prematur, karena ambulans sedang dipakai petugas lain. 'Kami terbiasa dengan yang serba terbatas,' katanya lirih.
- Jarak tempuh ke rumah sakit rujukan: 2 jam dalam kondisi jalan kering, hingga 3,5 jam saat hujan.
- Kondisi ambulans: dua unit, keduanya tidak layak operasi maksimal, sering mogok di medan berat.
- Fasilitas puskesmas: gedung kokoh hasil renovasi, namun peralatan medis terbatas dan sebagian sudah usang.
- Tenaga kesehatan: Eris dan rekan-rekan yang tersisa, banyak yang mengundurkan diri karena beban kerja berat dan minim insentif.
Eris: Perawat yang Bertahan Demi Warga Perbatasan
Di tengah keterbatasan itu, Eris tetap bertahan. Rekan-rekannya satu per satu memilih hengkang, meninggalkan garis depan ini tanpa mutasi. Tangannya yang cekatan masih terus membersihkan luka, menyuntik obat, dan mencatat riwayat penyakit. Dia bukan bekerja demi fasilitas, melainkan demi panggilan untuk hadir bagi masyarakat yang menjaga beranda negeri. Setiap pagi, Eris memeriksa persediaan obat, mengecek tensimeter tua, dan menyapa pasien dengan senyum lelah. Saat ditanya mengapa tak ikut pindah, ia menjawab sederhana, 'Siapa lagi yang akan merawat mereka?' Kata-katanya menggema di ruang tunggu yang sempit. Di sudut ruangan, seorang ibu menggendong bayinya yang demam, sementara di luar, seorang bapak mengeluh sakit di dada. Eris segera menghampiri, sementara temannya memanggil via radio untuk mempersiapkan ambulans. Mereka berdua adalah tenaga medis yang tersisa untuk melayani ratusan keluarga di kecamatan perbatasan ini.
Keberadaan Eris dan kawan-kawan adalah potret nyata ketahanan manusia di ujung wilayah. Mereka adalah garis pertahanan kesehatan pertama, berhadapan dengan keterbatasan sarana yang kontras dengan luasnya tanggung jawab. Setiap dengungan ambulans yang melintasi jalan perbatasan adalah cerita tentang perjuangan melawan waktu dan jarak. Ini bukan sekadar tentang gedung puskesmas, tapi tentang nyawa yang dipertaruhkan setiap hari di wilayah yang kerap luput dari sorotan. Semangat bertahan Eris adalah cahaya kecil di tengah tantangan besar, mengingatkan bahwa di garis depan, pelayanan dasar pun bisa menjadi medan perjuangan yang heroik. Di balik setiap suntikan, setiap catatan medis, dan setiap tarikan napas ambulans yang 'layu', ada tekad untuk terus menjaga denyut kehidupan di beranda negeri ini. Warga perbatasan bukan hanya penjaga batas, tetapi juga penjaga harapan. Mereka layak mendapat perhatian dan dukungan, agar kisah seperti Eris tak lagi sekadar cerita bertahan, melainkan kisah tentang negara yang hadir secara utuh di ujung-ujung teritorinya.