Embun pagi masih membasahi dedaunan jagung di ladang berbatu Desa Sotis, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Di ufuk timur, sinar mentari mulai merayap naik, menerangi deretan lapak sederhana berbahan bambu dan terpal biru yang berdiri kokoh di sepanjang jalur Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sotis. Bapak Yosef Nelwan, 52 tahun, bersama istrinya telah sibuk sejak pukul 05.00 WITA. Mereka memanen jagung dari ladang yang hanya berjarak 500 meter dari garis perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Hari ini adalah hari pasar — sebuah ritual pekanan yang menghidupkan denyut ekonomi di ujung negeri ini.
Potret Pasar Perbatasan Sotis: Jembatan Ekonomi Dua Negara
Dari kejauhan, aktivitas pasar mulai tampak jelas. Pedagang dari kedua negara berdatangan, membawa beragam komoditas: jagung, ubi, pisang, kelapa, serta kain tenun khas Timor yang berwarna-warni. Bau rempah dan kopi bercampur asap dari tungku darurat, menciptakan aroma khas perbatasan yang sulit dilupakan. Suara tawar-menawar dalam bahasa Tetun dan Indonesia bersahutan, sesekali diselingi tawa anak-anak yang bermain kejar-kejaran di sela-sela lapak. Pasar Sotis bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang pertemuan budaya dan solidaritas lintas batas.
- Infrastruktur pasar masih sederhana: lapak dari anyaman bambu dan terpal, lantai tanah yang berdebu saat kemarau, dan tanpa atap permanen.
- Namun, sejak diresmikan sebagai pasar perbatasan resmi pada 2023, volume perdagangan meningkat signifikan. Harga jagung naik dari Rp3.000 menjadi Rp5.000 per kilogram karena petani bisa menjual langsung ke pembeli Timor Leste tanpa perantara tengkulak.
- Setiap hari pasar, diperkirakan ada 200-300 pengunjung dari kedua negara, membawa uang tunai dalam rupiah dan dolar Timor Leste.
Suara Petani di Garis Depan: Harapan di Tengah Keterbatasan
Bapak Yosef mengangkut karung berisi 3 kuintal jagung di atas punggung dengan langkah pasti. "Dulu tengkulak beli murah sekali, sekarang kami bisa jual langsung ke pembeli dari Timor Leste. Hasilnya lebih besar untuk biaya sekolah anak," ujarnya dengan logat Timor yang medhok, matanya berbinar meski peluh mengucur di pelipis. Ladang mereka memang subur — tanah berbatu yang dirawat dengan pupuk kandang selama bertahun-tahun menghasilkan jagung berbutir besar. Namun, tantangan tetap ada: akses jalan menuju pasar masih rusak, dan saat musim hujan, ladang sering tergenang. "Kami ingin ada bantuan irigasi dan jalan yang bagus, supaya hasil panen tidak busuk di perjalanan," keluh istrinya, Mama Lusia, sambil memeriksa jagung yang akan dijual.
Tak hanya jagung, hasil bumi lain seperti ubi kayu dan pisang juga laris. Seorang pedagang asal Timor Leste, Domingos, membawa uang belanja untuk membeli kain tenun. "Kain tenun Indonesia bagus, warna-warni, kuat. Saya bawa untuk dijual di Dili," katanya ramah. Interaksi semacam ini menjadi bukti bahwa perbatasan bukan tembok pemisah, melainkan jembatan ekonomi dan persaudaraan. Semangat nasionalisme warga Sotis tetap tinggi: meski hidup di ujung negeri, mereka bangga menjadi bagian dari Indonesia dan membuka pintu bagi tetangga.
Dari atas bukit kecil di sebelah timur pasar, kita bisa melihat hamparan perbukitan Timor Leste di kejauhan. Di bawah, keramaian terus bergulir. Pasar perbatasan Sotis adalah cermin kehidupan garis depan: sederhana, penuh perjuangan, tapi juga kaya harapan. Bagi petani Timor Tengah Selatan, setiap butir jagung yang terjual adalah denyut nadi ekonomi keluarga. Namun, masih banyak yang perlu diperhatikan: perbaikan infrastruktur pasar, akses irigasi, dan pelatihan pascapanen. Saat mentari mulai condong ke barat, Bapak Yosef menutup lapaknya dengan senyum. "Besok pasar lagi. Jangan lupa datang," katanya sambil melambaikan tangan. Perbatasan memang di ujung negeri, tapi semangat warga Sotis adalah jembatan yang tak pernah putus — jembatan menuju kesejahteraan dan persatuan Indonesia.