Kulit Demerina Uamang dipenuhi goresan dan bekas gigitan serangga. Ia baru saja keluar dari hutan belantara Mimika setelah 20 hari menjadi sandera KKB. Dengan langkah tersendat, Demerina meninggalkan bayang-bayang maut di balik rimbun pepohonan yang menyembunyikan trauma mendalam. Di sekujur tubuhnya, jejak perjuangan melawan kelaparan dan ketakutan terukir nyata. Hutan Mimika, yang biasanya sunyi, menjadi saksi bisu kisah pilu dua perempuan yang harus berjuang untuk hidup di tengah konflik bersenjata.
Di Tengah Hutan Mimika: 20 Hari Antara Hidup dan Mati
Setelah berhasil melarikan diri dari cengkeraman kelompok bersenjata, Demerina dan Yosina Stenawatme (18) menghadapi tantangan baru yang tidak kalah berat: bertahan hidup di alam liar. Mereka hanya mengandalkan daun muda sebagai makanan dan menjilati embun pagi untuk melepas dahaga. Kaki mereka terus melangkah tanpa arah, hanya berbekal harapan untuk menemukan jalan keluar. Namun, hari demi hari berlalu, kondisi Yosina semakin melemah. Tubuhnya terbaring lemas di antara akar-akar pohon, hingga akhirnya tak lagi bernapas. Demerina harus melanjutkan perjalanan sendirian, ditemani jenazah sahabatnya yang terbaring di sampingnya sebagai pengingat betapa dekatnya maut di garis depan konflik Papua.
- Kondisi fisik: Demerina mengalami dehidrasi parah, luka gores di sekujur tubuh, dan trauma psikologis akibat menyaksikan kematian Yosina.
- Cuaca ekstrem: Kabut tebal dan hujan deras selama empat hari menghambat upaya evakuasi, memperpanjang penderitaan Demerina di hutan.
- Perjuangan bertahan: Selain daun muda dan embun, Demerina juga mengumpulkan air hujan dengan daun talas untuk diminum.
Evakuasi di Tengah Kabut: Helikopter Polri Menembus Garis Konflik
Suara mesin helikopter Bell Polri P-3002 akhirnya memecah kesunyian hutan Mimika. Tim evakuasi dari Satgas Damai Cartenz, didampingi Ketua MRP dan tokoh masyarakat, berhasil menjangkau lokasi Demerina setelah berhari-hari terhalang cuaca buruk. Dengan tubuh kurus kering dan mata yang masih menyimpan ketakutan, Demerina dibawa keluar dari hutan. Sementara itu, jenazah Yosina Stenawatme telah dievakuasi dan dimakamkan di tanah kelahirannya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga setempat. Proses evakuasi yang penuh risiko ini menjadi bukti nyata bahwa di balik konflik, masih ada upaya kemanusiaan yang tak kenal lelah.
Kisah Demerina dan Yosina adalah potret nyata betapa warga sipil selalu menjadi korban paling rentan dalam setiap gejolak di wilayah perbatasan. Mereka yang tinggal di garis depan konflik harus menanggung beban trauma, kehilangan, dan ketidakpastian hidup. Di balik hutan Mimika yang sunyi, ada ribuan cerita lain yang menunggu untuk didengar. Semangat untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan inilah yang menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa nasionalisme bukan hanya tentang bendera dan lagu kebangsaan, tetapi juga tentang kepedulian terhadap saudara-saudara kita di ujung negeri. Sudah saatnya kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari solusi untuk meringankan penderitaan warga perbatasan.