SUARA PERBATASAN

Dari Pelosok Atambua, Anak-Anak Ini Berjalan 7 Kilometer Demi Sekolah

Dari Pelosok Atambua, Anak-Anak Ini Berjalan 7 Kilometer Demi Sekolah

Setiap hari, puluhan anak di Desa Haekto, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT, berjalan kaki sejauh tujuh kilometer melewati jalan berbatu dan berlumpur demi bisa bersekolah di SD Inpres Haekto. Dengan sandal jepit, tas usang, dan obor padam, mereka berangkat sejak pukul 05.30, melawan keterbatasan infrastruktur dan cuaca ekstrem. Kisah Rambo (9) dan teman-temannya adalah potret nyata perjuangan anak perbatasan yang tak kenal menyerah demi meraih pendidikan dan masa depan.

Di ujung timur Nusa Tenggara Timur, saat kabut pagi masih menyelimuti pegunungan berbatu di Desa Haekto, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, suara langkah kecil mulai terdengar. Pukul 05.30 WITA, puluhan anak-anak berusia 7 hingga 12 tahun telah bersiap di depan rumah panggung mereka. Sandal jepit yang sudah aus, tas ransel usang yang hanya berisi buku dan sebotol air minum, serta obor dari pelepah kelapa yang sebentar lagi padam jadi perlengkapan wajib. Rombongan kecil ini bukan sekadar berjalan—mereka memulai petualangan sepanjang tujuh kilometer di jalan berbatu dan berlumpur menuju satu-satunya titik terang di perbatasan: SD Inpres Haekto. Di tengah rute, aliran sungai kecil yang airnya jernih menjadi tempat istirahat, namun batuan tajam di dasarnya selalu mengintai. Seorang bocah laki-laki bernama Rambo (9) memimpin rombongan sambil memegang obor yang sudah padam. "Kalau hujan, jalanan licin, kami sering jatuh. Tapi sekolah harus tetap didatangi, karena hanya di sana ada guru," ucapnya lirih namun penuh tekad. Ini bukan sekadar perjalanan—ini adalah bukti kegigihan anak-anak di garis depan untuk mengejar pendidikan yang layak.

Satu Langkah, Satu Masa Depan: Perjuangan Anak Perbatasan di Kabupaten Belu

Rute sepanjang tujuh kilometer yang ditempuh setiap hari bukanlah jalan aspal yang mulus. Ini adalah jalur setapak yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki atau sepeda motor roda dua saat musim kemarau. Di musim hujan, lumpur setinggi betis dan bebatuan licin mengubah setiap langkah menjadi taruhan. Para siswa SD Inpres Haekto ini kebanyakan berasal dari dusun-dusun terpencil di Desa Haekto, yang merupakan salah satu desa di wilayah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Mereka berangkat sejak gelap, dengan harapan bisa tiba sebelum bel masuk berbunyi. Kondisi infrastruktur jalan yang mereka lalui sangat memprihatinkan:

  • Tidak ada penerangan jalan; obor dari pelepah kelapa jadi satu-satunya sumber cahaya yang cepat padam terkena angin pagi.
  • Jalan berbatu tajam yang melukai telapak kaki, diperparah dengan lumpur licin saat hujan deras yang kerap mengguyur wilayah perbatasan.
  • Sungai kecil yang harus diseberangi dengan hati-hati karena arus deras dan batuan tajam mengintai, terutama saat volume air naik setelah malam hujan.

Namun, bagi Rambo dan teman-temannya, rintangan ini bukan alasan untuk bolos. "Jalan ini sudah biasa," kata Maria (11) yang duduk di kelas 5, sambil mengeringkan sandalnya yang basah kuyup. "Kami sudah hapal jalurnya. Yang penting jangan sampai kaki luka parah atau kehilangan sandal." Semangat anak sekolah perbatasan ini tak kenal lelah—mereka sadar bahwa jalan kaki tujuh kilometer adalah harga yang harus dibayar untuk bisa bertemu dengan satu-satunya guru yang mengajar di desa mereka.

Di Ujung Rute, Atap Seng Bocor dan Guru yang Tak Pernah Lelah

Setelah melewati waktu tempuh rata-rata dua jam, akhirnya tampak atap seng SD Inpres Haekto yang mulai bocor di sana-sini. Bangunan sekolah itu berdiri kokoh di atas tanah lapang, namun usia dan keterbatasan anggaran telah membuat sebagian atapnya berlubang. Para guru yang hanya berjumlah tiga orang untuk enam kelas sudah berdiri di depan pintu gerbang kayu, menyambut setiap siswa dengan senyum tulus. Di papan tulis kelas 3, tertulis kata-kata: "Semangat Pagi Anak-Anak Perbatasan!"—sebuah afirmasi kecil yang mengobati rasa lelah anak-anak setelah perjalanan panjang. Beberapa siswa duduk di kursi yang patah, sementara yang lain berbagi meja bocor. Namun, tatap mata mereka tetap bersinar saat guru mulai menerangkan pelajaran. Kondisi infrastruktur sekolah ini mencerminkan tantangan pendidikan di garis depan:

  • Atap seng bocor di tiga ruang kelas menyebabkan genangan air saat hujan; ember bekas digunakan untuk menampung air.
  • Kursi dan meja banyak yang rusak; siswa harus duduk di lantai beralas tikar ketika ada kunjungan dinas karena kursi difokuskan untuk ruang kelas lain.
  • Alat peraga dan buku pelajaran sangat terbatas; guru mengandalkan kreativitas mengajar dengan metode lisan dan tulisan di papan tulis.

Meski serba terbatas, semangat belajar tak pernah padam. Seperti diungkapkan Ibu Yuliana, guru wali kelas 4: "Anak-anak ini luar biasa. Mereka berjalan jauh hanya untuk belajar. Kami sebagai guru harus hadir setiap hari, karena mereka berharap pada kami." Dedikasi para pendidik di Atambua dan sekitarnya ini menjadi pilar utama bagi masa depan generasi perbatasan.

Ketika kabut siang mulai meninggi dan bel pulang berbunyi, anak-anak kembali berjalan pulang menuju rumah masing-masing. Langkah mereka seberat perjalanan tadi pagi, tapi senyum kecil tetap menghiasi wajah-wajah itu. Mereka mewarisi kegigihan alam perbatasan: keras, ulet, dan tak mudah menyerah. Di balik bukit-bukit kering dan jalan berbatu, ada mimpi sederhana yang terus dipelihara: ingin menjadi seseorang yang berguna bagi keluarga dan tanah kelahirannya. Sebagai bangsa yang besar, sudah seharusnya kita tidak menutup mata terhadap perjuangan anak-anak di garis depan. Infrastruktur jalan yang layak, fasilitas sekolah yang memadai, dan akses pendidikan yang setara adalah hak mereka—bukan sekadar janji. Karena di ujung timur Indonesia, di perbatasan yang sunyi, denyut harapan terus berdetak. Dan tugas kitalah untuk memastikan bahwa setiap langkah kecil menuju sekolah tidak lagi terhenti oleh lumpur, kegelapan, atau keterbatasan.

Pendidikan Akses Pendidikan Perbatasan Nusa Tenggara Timur
Tokoh: Rambo
Organisasi: SD Inpres Haekto
Lokasi: Atambua, Desa Haekto, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT

Artikel terkait