Pagi masih menyisakan embun di ujung dedaunan saat deretan kursi plastik biru mulai dipadati warga. Di Pos Lintas Batas Negara Entikong, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, puluhan warga dari dusun-dusun sekitar sudah duduk rapi sejak pukul 07.00 WIB. Udara dingin khas perbatasan bercampur aroma kopi tubruk dari termos yang dibawa para ibu. Seorang pria paruh baya, Pak Suleman, warga Dusun Melayu, duduk di barisan depan sambil menggenggam secarik kertas berisi catatan kecil. Di depannya, sebuah meja panjang dengan papan nama ‘Bupati Menyapa’ siap menjadi jembatan antara pemerintah daerah dan warga yang tinggal di garis depan negeri.
Menyapa dari Ujung Negeri
Program ‘Bupati Menyapa’ yang digelar rutin di Pos Lintas Batas Negara ini menjadi ruang bagi warga perbatasan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Bagi Pak Suleman, kesempatan ini adalah puncak dari perjalanan panjang. “Saya berjalan kaki dua jam dari rumah ke sini. Jalan berbatu, licin kalau hujan. Tapi saya tidak mau lewatkan karena ini langsung didengar Bupati,” ujarnya dengan napas tersengal. Suasana ruangan berubah hening saat Bupati Sanggau mulai memasuki ruangan. Warga bergantian menyampaikan keluh kesahnya, mulai dari:
- Kondisi jalan Dusun Melayu yang rusak parah dan kerap terputus saat musim hujan.
- Keterbatasan akses layanan kesehatan dasar di Puskesmas pembantu yang hanya buka seminggu sekali.
- Kesulitan anak-anak sekolah yang harus menyeberang sungai dengan rakit darurat setiap pagi.
- Harapan akan penerangan jalan umum di sepanjang jalur pos lintas batas yang masih gelap gulita.
Setiap poin dicatat oleh staf pemerintah daerah. Di sudut lain, seorang ibu muda menggendong balitanya sambil menunggu giliran. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan anaknya yang sering sakit karena harus minum air sungai. Inilah potret nyata perjuangan warga di ujung negeri.
Garis Depan yang Tak Boleh Terlupakan
Entikong bukan sekadar pos lintas batas. Ia adalah gerbang NKRI yang setiap hari menjadi saksi denyut kehidupan warga di perbatasan. Di sini, nasionalisme bukan sekadar simbol, melainkan perjuangan harian untuk mendapatkan hak dasar yang sama dengan saudara-saudara di kota. “Kami tetap bangga jadi warga Indonesia. Tapi kami juga butuh perhatian,” kata Pak Suleman sembari menunjukkan foto jalan berlubang di ponselnya. Aspirasi yang mengalun pagi itu bukan hanya daftar keluhan, melainkan bukti bahwa warga perbatasan masih percaya pada janji negara. Mereka rela menempuh jarak dan waktu hanya demi didengar.
Di luar Pos Lintas Batas, mentari mulai meninggi. Kursi-kursi biru mulai kosong satu per satu. Namun, jejak harapan masih terasa di udara. Warga Entikong dan sekitarnya pulang dengan secercah asa bahwa suara mereka tidak akan tenggelam begitu saja. Di garis depan ini, setiap desahan, setiap keluhan, dan setiap mimpi adalah nyawa kebangsaan yang harus terus dijaga. Sebab, jika negara hadir di perbatasan, maka Indonesia benar-benar hadir untuk semua anak negerinya.