Di bawah sengatan matahari Khatulistiwa yang membakar kulit, di ujung Dusun Senaning, Kalimantan Barat, berdirilah sebuah situs batas negara yang telah menua lebih dari satu abad. Tugu putih kusam itu berdiri tegak di tengah semak belukar yang baru saja dipangkas, dengan ukiran-ukiran kecil yang mulai aus dimakan usia dan cuaca. Debu dan tanah merah menempel di kakinya, namun di sekelilingnya kini tampak bersih—bekas sapu dan cangkul masih terlihat jelas. Aroma rumput basah bercampur keringat warga menyapa hidung. Suara parang beradu dengan ranting kering bergantian dengan tawa anak-anak yang ikut membantu. Di garis depan Negeri Seribu Sungai ini, setiap tetes keringat adalah bukti cinta pada tanah air.
Merawat Tugu, Merawat Harga Diri
Kegiatan kerja bakti ini bukan sekadar acara seremonial. Warga bersama pemerintah desa bahu-membahu memotong rumput liar yang menutupi jalan setapak menuju tugu. Mereka mengecat ulang pagar kayu yang mulai lapuk, memasang papan informasi sejarah yang menceritakan asal-usul tugu ini, dan memastikan tidak ada sampah yang berserakan. Berikut adalah detail kondisi lapangan yang terekam oleh lensa Lensa-Teritorial:
- Tugu utama berwarna putih kusam dengan sedikit retakan halus, ukiran angka tahun dan simbol kolonial mulai sulit terbaca.
- Pagar kayu yang baru dicat putih masih mengeluarkan bau cat segar, kontras dengan lingkungan sekitar yang alami.
- Papan informasi sejarah berukuran 1×1,5 meter dipasang di samping tugu, berisi narasi singkat tentang fungsi tugu sebagai penanda batas negara sejak masa kolonial Belanda.
- Warga setempat, mulai dari remaja hingga orang tua, terlibat aktif dengan peralatan sederhana seperti parang, cangkul, dan sapu lidi.
Bagi mereka, merawat situs batas negara ini bukan soal nostalgia. Ini soal menjaga harga diri sebagai bangsa yang berdaulat. "Kami ingin anak-anak tahu bahwa tanah ini adalah Indonesia," ujar Kepala Dusun Senaning sambil menyeka keringat yang membasahi pelipis. Seorang juru kunci lokal, dengan tangan keriput mengelus permukaan tugu, berkata lirih, "Belanda dulu yang pasang, tapi ini tanah kita." Suaranya parau, namun penuh keyakinan. Di Kalbar, setiap jengkal tanah adalah garis depan yang dirawat dengan cinta dan kebanggaan.
Warisan yang Hidup: Nasionalisme dari Generasi ke Generasi
Tak hanya menjadi simbol batas, tugu ini kini menjadi lokasi belajar bagi anak-anak sekolah. Guru-guru di desa perbatasan ini rutin mengajak murid-murid untuk berkunjung. Mereka duduk di sekitar tugu saat guru bercerita tentang sejarah perjuangan mempertahankan wilayah. "Ini bukan sekadar batu dan beton. Ini adalah warisan budaya yang harus kita jaga bersama, agar api nasionalisme terus menyala," jelas seorang guru sejarah lokal. Anak-anak tampak antusias memegang tugu, bertanya mengapa ada tulisan Belanda di atasnya. Di perbatasan Kalbar, sejarah bukanlah masa lalu yang beku. Ia hidup dalam tiang beton yang dirawat tangan-tangan dingin warga, dalam coretan kapur di papan informasi, dan dalam cerita yang diturunkan dari mulut ke mulut. Situs batas negara ini bukan artefak mati, melainkan pusaka yang terus dijaga.
Dari tepi Khatulistiwa, warga perbatasan Kalbar mengajarkan sebuah pelajaran sederhana namun dalam: nasionalisme tidak selalu gemuruh, kadang ia hadir dalam gerakan-gerakan kecil—memotong rumput, mengecat pagar, dan bercerita pada anak cucu. Mereka adalah penjaga garis depan yang tak pernah lelah merawat warisan budaya bangsa. Mari kita dengar suara mereka, lihat peluh mereka, dan bersama-sama menjaga setiap jengkal tanah Indonesia dari ujung timur hingga barat.