Langkah kaki warga Desa Aji Kuning berderak di atas tanah kering yang retak-retak, meninggalkan jejak di debu yang beterbangan. Ladang jagung yang biasanya hijau subur kini hangus terbakar, menyisakan hamparan hitam pekat. Kabut asap kelabu menyelimuti seluruh desa, membuat napas terasa berat dan mata perih. Sudah sepekan terakhir, kebakaran hutan di wilayah perbatasan Sebatik ini tak kunjung padam. Angin kencang dari selatan semakin memperluas jilatan api, meninggalkan bekas kehitaman di lahan yang menjadi sumber kehidupan warga. Dari kejauhan, batas negara yang hanya dipisahkan oleh garis imajiner di Pulau Sebatik ini tampak samar, tertelan kabut asap yang membumbung tinggi. Setiap tarikan napas terasa perih, seolah udara sendiri ikut terbakar.
Potret Garis Depan: Api dan Asap Mengepung Sebatik
Imam, tetua adat setempat, menggambarkan betapa beratnya perjuangan warga melawan amukan api. "Sudah seminggu api terus merambat. Kami hanya bisa memadamkan dengan seadanya pakai ember dan goni," katanya dengan suara serak. Di tengah keterbatasan alat, warga bahu-membahu menyiram titik api, berharap angin tak kembali membawa bara. Langit yang kelabu bukan lagi pemandangan asing bagi mereka, tetapi kabut asap yang menyelimuti perbatasan darat Indonesia-Malaysia ini kini mengancam kesehatan puluhan keluarga. Sebagian warga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke balai desa. Sebagian lagi memilih bertahan di rumah dengan kain basah menutup hidung. Anak-anak terlihat duduk di beranda dengan mata perih, sementara orang tua sibuk memastikan air bersih tetap tersedia.
- Akses jalan darat menuju lokasi kebakaran terputus total, mengisolasi desa dari bantuan luar.
- Tim SAR sempat kesulitan menembus tebalnya kabut asap untuk menjangkau titik api.
- Warga hanya mengandalkan ember dan goni untuk memadamkan api secara manual.
- Sebagian warga mengungsi ke balai desa, sebagian bertahan di rumah dengan kain basah sebagai filter darurat.
Gotong Royong di Tengah Kepungan Asap
Keterbatasan sarana tidak memadamkan semangat warga. Di tengah krisis, mereka saling berbagi air bersih dan masker yang merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Nunukan. Satu per satu warga datang ke titik pengungsian, membawa jeriken air dan nasi bungkus untuk tetangga yang rumahnya lebih dekat dengan lokasi kebakaran hutan. Solidaritas itu menjadi pelita kecil di tengah pekatnya kabut asap. Meski langit kelabu dan debu beterbangan, mereka tetap bergerak, bergotong royong, dan saling menguatkan. Suara anak-anak yang batuk-batuk bercampur dengan doa yang dipanjatkan di balai desa, berharap api segera padam dan hujan turun membasahi bumi yang kering.
Potret ini adalah bukti bagaimana warga perbatasan bertahan dalam krisis — dengan gotong royong dan tekad kuat, meski langit kelabu menyelimuti. Mereka tidak bisa berhenti berharap, karena di ujung negeri ini, Indonesia selalu hadir dalam semangat warga yang pantang menyerah. Di tengah kepulan asap dan debu, denyut cinta tanah air tetap terasa, mengingatkan kita bahwa perbatasan bukan sekadar garis di peta, melainkan rumah bagi saudara sebangsa yang membutuhkan perhatian dan kepedulian kita semua.