Minggu pagi di Distrik Yeti, Kabupaten Pegunungan Bintang, langit cerah menyinari deretan rumah panggung kayu yang mulai diperbaiki. Suara palu beradu dengan kayu bergema, diiringi percakapan riang antara personel TNI Satgas Pamtas dan warga setempat. Di depan sebuah rumah panggung yang hampir rampung, Maria Yohana menggendong anaknya sambil tersenyum lebar. 'Dulu kalau hujan, bocor di mana-mana. Sekarang sudah bagus, terima kasih bapak TNI,' ujarnya dengan logat khas Papua. Di kejauhan, gugusan perbukitan hijau membentang, sementara patok batu yang mulai pudar menandai garis perbatasan dengan Papua Nugini. Nuansa gotong royong terasa kental, menggantikan tiang-tiang kayu lapuk yang sudah puluhan tahun menopang kehidupan warga di ujung negeri ini.
Potret Gotong Royong di Ujung Negeri
Di bawah komando TNI, warga bahu-membahu mengganti tiang penyangga yang keropos dimakan usia. Atap seng berkarat diganti dengan lembaran baru, dan dinding bilik bambu yang rapuh diperkuat dengan anyaman segar. Program perbaikan rumah panggung ini merupakan prioritas pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur hunian di kawasan perbatasan. Tidak hanya memperbaiki fisik, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara aparat dan masyarakat. Suasana kerja bakti menjadi pemandangan sehari-hari, menciptakan harmoni di tengah keterbatasan akses dan bahan bangunan. Warga bergantian mengangkat kayu balok, sementara anak-anak berlarian di sekitar lokasi, sesekali membantu membawakan paku atau minum.
Detail perbaikan infrastruktur yang dilakukan meliputi:
- Tiang kayu utama rumah diganti dengan balok baru yang lebih kokoh setelah lapuk dimakan usia.
- Atap seng diganti total, menghilangkan kebocoran kronis yang selama puluhan tahun meresahkan warga.
- Dinding bilik bambu diperkuat dengan anyaman rapat untuk menahan angin dan cuaca ekstrem di kawasan perbatasan.
- Lantai papan diperbaiki agar aman untuk anak-anak bermain dan aktivitas sehari-hari.
Suara Warga: Dari Bocor hingga Rasa Syukur
Bagi warga Distrik Yeti, rumah panggung bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan turun-temurun yang menyimpan memori perjuangan hidup di perbatasan. Sebelum perbaikan, banyak rumah yang atapnya bocor saat hujan deras, tiang-tiang miring, dan dinding bambu yang reyot. 'Kami biasa tidur dalam keadaan waswas kalau malam hujan. Sekarang sudah tenang,' ujar seorang tokoh masyarakat setempat. Rasa syukur terpancar dari raut wajah para ibu yang kini bisa memasak tanpa khawatir air hujan masuk ke dapur. Program ini tidak hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kebersamaan di antara warga Papua dan aparat. Maria Yohana, yang rumahnya hampir rampung, tak henti-hentinya mengucap syukur atas perhatian yang diberikan kepada mereka yang tinggal di garis depan NKRI.
Di balik perbaikan rumah panggung ini, ada cerita tentang ketangguhan manusia Papua yang bertahan hidup di garis depan NKRI. Dengan sumber daya terbatas, mereka tetap menjaga semangat nasionalisme. Setiap paku yang dipalu dan setiap kayu yang diangkat adalah simbol bahwa di ujung negeri, denyut cinta tanah air tak pernah padam. Kini warga Distrik Yeti kembali menatap masa depan dengan lebih tenang, di bawah atap yang kokoh dan semangat yang tak pernah surut.