Di ujung utara Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sebuah menara suar setinggi 20 meter berdiri kokoh menghadap Laut Sulawesi. Pagi ini, sinar matahari menembus celah jendela kayu ruang bawah menara yang dulu lembab dan gelap. Kini, di atas tikar anyam yang digelar di lantai semen, lima anak duduk melingkar dengan buku cerita di tangan. Bau kertas lapuk bercampur aroma tembok kapur mengisi udara. Seorang relawan bernama Maya (23) duduk di tengah mereka, membacakan dongeng tentang pahlawan nasional. Suaranya lantang namun lembut, bersaing dengan suara ombak yang menghantam karang di kejauhan.
Dari Menara Suar Menjadi Rumah Baca
Menara suar ini bukan lagi sekadar pemandu kapal di perairan Sangihe. Di bawahnya, ruang yang dulunya hanya digunakan untuk menyimpan peralatan, kini disulap menjadi taman bacaan oleh relawan setempat. Rak-rak kayu sederhana berisi buku bekas sumbangan dari berbagai pihak. Di sudut ruangan, sebuah meja kecil menampung majalah dan komik. 'Kami ingin anak-anak perbatasan tidak ketinggalan ilmu. Kalau malam, kadang kami juga menggunakan senter untuk baca,' ujar Maya sambil tersenyum. Di puncak menara, lampu suar berputar perlahan—tetap menyala meski cuaca buruk, sekarang menjadi simbol penerangan bagi ilmu pengetahuan.
Literasi di Garis Depan: Melawan Keterbatasan
Kondisi di perbatasan Sangihe memang penuh tantangan. Listrik masih sering padam, akses internet terbatas, dan buku baru sulit didapat. Namun, semangat belajar anak-anak di sini tidak pernah padam. Berikut kondisi lapangan yang ditemukan:
- Jumlah buku yang tersedia saat ini sekitar 200 eksemplar, mayoritas buku cerita dan pelajaran dasar.
- Kegiatan baca rutin dilakukan setiap pagi dan sore, dengan rata-rata 10-15 anak yang hadir.
- Relawan bergantian membacakan buku, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai kebangsaan dan pahlawan.
- Saat malam hari, penerangan darurat dari senter dan lampu minyak digunakan untuk tetap bisa membaca.
Maya menambahkan, 'Anak-anak di sini sangat antusias. Mereka sering datang lebih awal bahkan sebelum kami membuka pintu. Ini menjadi pengingat bahwa jarak dan keterbatasan bukanlah halangan untuk belajar.'
Menara suar di ujung Negeri Sangihe ini kini bukan hanya menjadi penunjuk arah bagi kapal yang melintas, tetapi juga menjadi mercusuar ilmu bagi generasi muda di perbatasan. Di tengah gemuruh ombak dan tiupan angin laut, suara anak-anak membaca lantang menjadi bukti bahwa semangat nasionalisme dan cinta tanah air tidak pernah pudar. Mereka adalah penerus bangsa yang tumbuh di garis depan, menjaga Indonesia dari sudut paling utara. Sudah sepantasnya kita semua memperhatikan mereka, karena di sana, di ujung negeri, mimpi-mimpi besar sedang dibangun satu per satu dari halaman buku.