POTRET GARIS DEPAN

Di Perbatasan Kalimantan Barat, Anak-anak Sekolah Pakai Perahu Getek Menyeberangi Sungai

Di Perbatasan Kalimantan Barat, Anak-anak Sekolah Pakai Perahu Getek Menyeberangi Sungai

Setiap pagi, anak-anak di perbatasan Kalimantan Barat menyeberangi Sungai Sekayam dengan perahu getek—rakit bambu sederhana—untuk sekolah di SDN 01 Sekayam Hulu. Kondisi infrastruktur yang minim membuat mereka harus berdamai dengan risiko arus deras dan hujan demi pendidikan. Semangat mereka adalah lambang nasionalisme dan ketangguhan warga di garis depan Indonesia.

Senin (15/9/2026) pukul enam pagi, Sungai Sekayam di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, masih diselimuti kabut tipis yang menggantung di atas permukaan air kecokelatan. Tiga anak berseragam putih biru tampak menaiki perahu getek—rakit bambu sederhana yang didorong dengan galah bambu—menyeberangi sungai selebar 30 meter menuju SD di seberang, satu-satunya sekolah dasar di desa perbatasan ini. Arus sungai cukup deras setelah hujan semalam, meninggalkan riak-riak kecil yang menggerakkan rakit bambu beralas karung bekas itu. Wajah anak-anak kelihatan tegang namun penuh semangat, buku pelajaran mereka dibungkus plastik agar tak basah. Pemandangan ini menjadi rutinitas harian yang tak bisa dihindari—sekolah di perbatasan berarti berdamai dengan sungai dan risiko. Ibu-ibu di tepi sungai hanya bisa melambaikan tangan, berdoa agar anak-anak mereka selamat sampai tujuan.

Potret Kepahlawanan di Arus Sungai Perbatasan

Setiap hari, sekitar pukul enam pagi, anak-anak dari tiga dusun di Desa Sekayam Hulu, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, harus menempuh perjalanan sungai yang tak mudah. Perahu getek yang mereka gunakan hanyalah rakit bambu sederhana dengan bilah-bilah yang diikat tali tambang, tanpa pelampung atau alat keselamatan. Bapak tua yang setiap pagi mendorong rakit dengan galah bambu adalah relawan setempat yang sudah melakoni tugas ini selama bertahun-tahun. "Nak, pegang erat-erat, buku diangkat biar kering," ujarnya lirih sembari mengarahkan rakit ke tengah sungai.

Kondisi infrastruktur di wilayah perbatasan ini masih sangat memprihatinkan:

  • Jembatan permanen belum tersedia, hanya rakit bambu sebagai alat transportasi utama.
  • Tidak ada dermaga khusus; anak-anak harus naik turun di tepi sungai yang berlumpur.
  • Sepatu dan seragam sering basah akibat percikan air, terutama saat hujan.
  • Satu-satunya sekolah dasar di desa itu, SDN 01 Sekayam Hulu, diterjang banjir dua tahun lalu dan belum direnovasi.

Warga setempat berharap pemerintah daerah segera membangun jembatan gantung atau jembatan beton untuk mempermudah akses warga. "Kami ingin anak-anak kami bisa sekolah tanpa takut tenggelam, tanpa harus bangun jam empat pagi demi menyeberangi sungai yang bisa meluap sewaktu-waktu," ujar Pak Rahmat, salah satu warga yang anaknya juga naik perahu getek setiap hari. Meski begitu, semangat anak-anak di Kalimantan Barat ini tak pernah pudar: senyum mereka tetap cerah, buku pelajaran tetap dibungkus plastik, dan mimpi untuk menjadi pahlawan dari perbatasan tetap menyala.

Risiko dan Harapan di Ujung Negeri

Dalam sebulan terakhir, curah hujan yang tinggi membuat debit Sungai Sekayam naik drastis. Arus sungai yang biasanya tenang berubah menjadi deras, dengan pusaran air kecil yang kadang muncul di beberapa titik. Anak-anak harus lebih waspada; satu langkah salah bisa berakibat fatal. Namun, mereka tidak punya pilihan lain—tidak ada perahu motor, tidak ada jembatan, hanya ada perahu getek yang menjadi satu-satunya jembatan kehidupan menuju pendidikan.

Pemerintah Kabupaten Sanggau telah berjanji akan membangun jembatan gantung di tahun 2027, namun warga hanya bisa berharap dan bertahan. Di balik semua keterbatasan, ada kebanggaan yang terpancar dari wajah anak-anak ini: mereka adalah generasi penerus yang berjuang di garis depan, di perbatasan Kalimantan Barat, demi menggapai cita-cita.

Ketika perahu getek melaju di atas Sungai Sekayam yang dingin, dengan kabut pagi perlahan sirna, kita diingatkan bahwa perbatasan bukan hanya soal garis di peta, melainkan tentang jiwa-jiwa kecil yang setiap hari berdamai dengan risiko demi satu mimpi—Indonesia yang lebih baik. Mereka adalah pahlawan di ujung negeri, yang layak mendapat perhatian dan kasih sayang kita semua.

Pendidikan transportasi sungai
Lokasi: Kalimantan Barat, Sungai Sekayam, Kabupaten Sanggau

Artikel terkait