SUARA PERBATASAN

Dialog Lintas Perbatasan di Entikong: Warga Minta Pos Lintas Batas Dibuka 24 Jam

Dialog Lintas Perbatasan di Entikong: Warga Minta Pos Lintas Batas Dibuka 24 Jam

Dalam dialog lintas perbatasan di Aula Kecamatan Entikong, warga menyuarakan aspirasi agar pos lintas batas dibuka 24 jam untuk mengatasi tilang di malam hari akibat jam operasional yang terbatas. Ibu Yuliana mewakili 150 warga menyerahkan petisi, sementara petugas Kemenkumham berjanji melakukan evaluasi dalam sebulan. Kegiatan ini menunjukkan kegigihan warga perbatasan yang setiap hari bergantung pada mobilitas lintas batas untuk bertahan hidup dan menjaga perekonomian garis depan.

Di Aula Kecamatan Entikong, perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia Serawak, puluhan warga duduk di kursi plastik biru yang berderet rapi. Udara pengap karena hanya satu kipas angin di sudut ruangan, berputar pelan melawan terik siang yang menyengat. Dari balik jendela kaca yang berdebu, terlihat antrean sepeda motor warga yang siap menyeberang ke Malaysia untuk berjualan; suara klakson sesekali memecah keheningan forum dialog. Ibu Yuliana, seorang perempuan paruh baya dengan kerudung biru tua, berdiri dan menyuarakan aspirasinya dengan suara lantang yang menggema di ruangan sempit itu. "Kami warga perbatasan sering kena tilang karena keluar masuk di malam hari, padahal ada urusan mendadak. Tolong pos lintas batas dibuka 24 jam!" katanya, tangan gemetar memegangi kertas berisi tanda tangan 150 warga. Petugas dari Kantor Wilayah Kemenkumham terlihat tekun mencatat di buku agenda, sementara seorang staf Imigrasi mengangguk-angguk. Forum dialog ini menjadi saksi bisu kegigihan warga di garis depan yang hanya membutuhkan kelancaran akses untuk bertahan hidup.

Kondisi Infrastruktur dan Suara Warga di Perbatasan Entikong

Dialog lintas perbatasan di Entikong ini bukan sekadar forum biasa; ia adalah cermin dari denyut kehidupan di daerah perbatasan. Warga yang hadir sebagian besar adalah pedagang kecil, petani, dan buruh harian yang setiap hari bergantung pada mobilitas lintas batas. Dalam suasana yang penuh harap, mereka menyampaikan keluhan yang sudah lama mengendap.

  • Pos lintas batas saat ini hanya beroperasi dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB, menyulitkan warga yang memiliki keperluan darurat di malam hari, seperti mengantar keluarga sakit atau mengurus pengiriman barang.
  • Entikong sebagai pintu gerbang utama di Kalimantan Barat masih kekurangan fasilitas pendukung, seperti penerangan jalan dan area parkir yang memadai untuk kendaraan roda dua yang antre menunggu izin keluar.
  • Puluhan warga mengaku kerap terkena tilang oleh petugas keamanan karena melintas di luar jam operasional, meski alasan mereka bersifat mendesak dan tidak bisa ditunda.
  • Ibu Yuliana mewakili 150 warga yang menandatangani petisi, meminta agar pos lintas batas bisa buka 24 jam penuh tanpa hambatan birokrasi, sebagaimana terjadi di beberapa pos perbatasan lain di Indonesia.

Di luar ruangan, debu beterbangan dari jalan tanah yang dilintasi truk pengangkut log. Seorang bapak tua dengan topi lusuh ikut menunggu di teras, matanya sayu menatap ke arah Negeri Serawak yang hanya berjarak beberapa meter. Forum yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 13.00 WIB itu ditutup dengan pernyataan dari pihak Kemenkumham bahwa evaluasi akan dilakukan dalam waktu sebulan. Namun raut wajah warga masih menyimpan tanda tanya besar: akankah janji itu benar-benar ditepati?

Potret Garis Depan: Antrean Motor dan Harapan yang Tak Padam

Sepanjang pagi itu, di luar Aula Kecamatan Entikong, antrean sepeda motor terus mengular. Para pengendara—kebanyakan ibu-ibu dengan bakul di jok belakang dan bapak-bapak dengan jaket tebal—menunggu giliran untuk menyeberang ke Malaysia. Mereka adalah tulang punggung ekonomi perbatasan yang setiap hari mengangkut sayur, ikan asin, dan kerajinan tangan ke pasar serawak. Seorang pemuda, bernama Rudi, mengaku harus berangkat pukul 03.00 dini hari agar bisa sampai di Pasar Serawak sebelum matahari terbit. "Kalau pos lintas batas buka 24 jam, saya tidak perlu rebutan waktu, dan risiko kena tilang bisa dihindari," katanya sambil mematikan mesin motornya yang sudah tua. Dari kejauhan, seorang petugas Imigrasi berusaha mengatur aliran kendaraan yang padat, dengan peluh di dahi dan seragam kebesaran yang mulai lusuh. Kehidupan di perbatasan Entikong memang keras, namun semangat warga untuk tetap produktif dan menjaga hubungan lintas negara tidak pernah surut.

Dialog lintas perbatasan di Entikong bukan sekadar diskusi, ia adalah cerminan betapa vitalnya kebijakan negara bagi mereka yang tinggal di ujung negeri. Warga perbatasan setiap hari menghadapi risiko, mulai dari sanksi tilang sampai keterbatasan akses jam operasional pos lintas batas. Aspirasi yang mereka suarakan hari ini adalah seruan untuk diperhatikan dan dipermudah dalam mengais rezeki sekaligus menjaga kedaulatan tanah air. Di balik kursi plastik biru yang berjejer rapi, di tengah udara pengap dan suara klakson yang sesekali terdengar, ada denyut nusantara yang berdetak: warga yang setia menjaga pintu gerbang Indonesia, tetapi kerap terlupakan. Sudah saatnya kita semua, sebagai bangsa, tidak hanya mendengar tetapi juga bergerak mewujudkan keadilan di setiap jengkal perbatasan—dari Entikong hingga ke pelosok tanah air lainnya.

Dialog lintas perbatasan Pos Lintas Batas warga perbatasan
Tokoh: Ibu Yuliana
Organisasi: Imigrasi, Bea Cukai, Kantor Wilayah Kemenkumham
Lokasi: Entikong, Kalbar, Malaysia, Serawak

Artikel terkait