Langit sore di Dekai, Yahukimo, biasanya hanya dihiasi oleh suara burung dan gemerisik dedaunan di pegunungan Papua. Namun, pada Selasa itu, suasana sunyi di kawasan Kantor KPU Lama di Jalan Miyaro berubah menjadi mencekam. Personel gabungan Satgas Damai Cartenz dan Polres Yahukimo bergerak senyap menyusuri pinggir hutan, di mana sebuah rumah persinggahan kayu menjadi sasaran. Informasi intelijen tentang rencana konsolidasi kelompok Batalyon Eden Sawi membawa mereka ke titik ini, di mana setiap langkah di atas tanah merah dan serpihan batu terasa berat. Udara pekat dengan aroma tanah basah dan dedaunan kering, sementara senja mulai merayap di antara celah-celah bukit. Di balik dinding kayu dan semak belukar, senjata telah siap—dan ketika petugas mendekat, rentetan tembakan memecah sunyi, mengusik ketenangan satu-satunya di ujung negeri ini.
Kontak Tembak di Dekai: Senyap yang Terkoyak
Dari dalam rumah dan semak di belakang, suara letusan senjata api bergemuruh. Personel gabungan yang sudah siap siaga membalas dengan tembakan peringatan, namun disambut tembakan lebih gencar dari kelompok bersenjata. Baku tembak sengit terjadi di antara pepohonan dan rumah-rumah kayu yang berdiri rapat. Beberapa anggota kelompok tersebut terlihat berlari menghindar ke dalam hutan lebat, membawa senjata panjang, tubuh mereka lenyap di balik rimbunnya dedaunan. Di tepi jalan, warga setempat yang mendengar suara tembakan berhamburan ke dalam rumah, mengintip dari balik jendela kayu dengan napas tertahan. Operasi di garis depan Yahukimo ini menggambarkan betapa tipisnya batas antara damai dan konflik di tanah Papua, di mana setiap pertemuan bisa berubah menjadi benturan maut.
Empat Jatuh di Garis Depan: Identitas dan Evakuasi
Setelah kontak tembak mereda, sunyi yang kembali menyelimuti lokasi hanya diselingi langkah-langkah hati-hati personel. Di tanah berlumur dedaunan dan debu, terbaring empat orang tak bernyawa. Mereka kemudian dikenal sebagai:
- Marsel Helembo — diduga anggota aktif KKB di wilayah Yahukimo.
- Eris Hubusa — nama yang sudah tercatat dalam daftar pencarian operasi.
- Alpius alias Moso Sama — warga lokal yang terafiliasi dengan kelompok Batalyon Eden Sawi.
- Satu korban belum teridentifikasi — masih dalam proses pemeriksaan di RSUD Dekai.
Jenazah dievakuasi menggunakan ambulans di bawah pengawalan ketat personel bersenjata. Di sepanjang perjalanan ke RSUD Dekai, warga menyaksikan dari kejauhan, ekspresi campur aduk antara rasa penasaran, ketakutan, dan mungkin juga kelegaan. Operasi ini adalah potret lain dari upaya panjang Satgas Cartenz dalam menciptakan damai di Yahukimo, di mana setiap langkah di garis depan adalah taruhan nyawa, dan setiap pertemuan bisa berakhir tragis.
Di balik kabut pegunungan dan sunyi yang sesekali terkoyak letusan senjata, warga perbatasan Papua terus berjuang melawan bayang-bayang konflik. Mereka adalah bagian dari Indonesia yang tak pernah lelah, yang menanti setiap langkah nyata untuk damai. Di ujung negeri, di balik rimbunnya hutan dan birunya langit Papua, semangat nasionalisme tetap menyala—seperti senja yang selalu datang setelah hari yang panjang. Mari kita jaga kepedulian terhadap mereka yang hidup di garis depan, karena merekalah penjaga sesungguhnya dari Merah Putih di tanah perbatasan.