Senja merangkak di ufuk barat Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua. Di perbatasan langsung dengan Papua Nugini, cahaya matahari perlahan digantikan oleh kegelapan yang menyelimuti kampung-kampung. Hanya beberapa rumah yang berpendar terang, sementara lainnya hanya diterangi lampu minyak tanah dan lilin yang berkedip-kedip. Jalanan utama mulai sepi, sesekali terdengar suara anak-anak yang masih belajar di bawah cahaya redup — pemandangan yang sudah menjadi pemandangan akrab bagi warga perbatasan. Pasokan listrik yang terbatas membuat sebagian besar rumah di Muara Tami belum menikmati aliran listrik penuh, dan pemadaman bergilir pun menjadi rutinitas yang tak terhindarkan. Udara malam yang dingin berbaur dengan aroma asap lilin, menciptakan atmosfer sunyi yang kontras dengan gemerlapnya pusat kota Jayapura yang hanya berjarak puluhan kilometer.
Potret Kegelapan di Ujung Negeri
Di beberapa kampung di Distrik Muara Tami, gardu-gardu listrik terlihat terbengkalai, seolah menjadi saksi bisu dari janji pembangunan yang belum sepenuhnya terwujud. Pemerintah memang telah membangun jaringan listrik, namun belum menjangkau setiap sudut wilayah perbatasan ini. Warga mengeluhkan pasokan yang tidak stabil — listrik menyala beberapa jam, lalu padam tanpa pemberitahuan. Padahal, kebutuhan dasar seperti mengawetkan makanan, menerangi rumah, dan menyalakan peralatan elektronik sederhana sangat bergantung pada ketersediaan listrik yang andal. Kondisi ini memunculkan sederet dampak nyata:
- Anak-anak terpaksa belajar mengerjakan PR di bawah lampu minyak, mengorbankan kesehatn mata mereka.
- Para ibu kesulitan menyimpan daging dan ikan segar karena tidak ada kulkas — sebagian besar bahan pangan cepat membusuk di suhu tropis.
- Warung-warung kecil dan usaha rumahan hanya bisa beroperasi beberapa jam dengan mengandalkan genset yang biaya bahan bakarnya mahal.
- Pemuda setempat sulit mengakses pelatihan komputer dan internet karena keterbatasan listrik, menghambat potensi ekonomi digital di garis depan.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Meski segal keterbatasan membelit, semangat warga Muara Tami tak pernah padam. Ketua RT setempat, Yosua, dengan nada optimis menyuarakan aspirasi warganya. "Kami yakin pemerintah memperhatikan kami, kami hanya minta kesabaran," tuturnya di sela-sela kesibukan membantu warga memperbaiki instalasi listrik mandiri. Warga berharap pembangkit listrik baru segera dibangun di daerha ini, agar tak lagi bergantung pada pemadaman bergilir yang menguras tenaga dan biaya. Di tengah gelapnya malam, bintang-bintang di langit Papua memang tampak terang, namun hangatnya api unggun tak bisa menggantikan terangnya lampu listrik yang menjadi denyut nadi perekonomian.
Keberadaan listrik yang andal di Muara Tami bukan sekadar soal penerangan, melainkan tentang masa depan generasi muda di perbatasan. Dengan akses listrik 24 jam, para pemuda bisa belajar komputer, mengembangkan usaha kecil, dan terhubung dengan dunia luar. Namun, kondisi nyata di garis depan ini menunjukkan bahwa masih ada banyak pekerjaan rumah untuk menyamakan pembangunan antara pusat dan daerah.
Di balik gelapnya malam Muara Tami, tersimpan secercah harapan yang tak kunjung padam. Kehadiran listrik bukan sekadar menerangi rumah, tapi juga menyalakan semangat nasionalisme dan harga diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Warga perbatasan sudah terlalu lama menanti — kini saatnya terang itu benar-benar tiba di ujung negeri.