Dini hari yang kelam di Kampung Samboga, Distrik Seredela, Kabupaten Yahukimo. Hanya suara jangkrik dan langkah hati-hati yang memecah sunyi, saat sekelompok kecil tim pencarian—terdiri dari tokoh gereja, kepala suku, dan keluarga korban—berjalan meraba kegelapan dengan senter di tangan. Jalan aspal yang menghubungkan kampung ke dunia luar terputus di beberapa titik, tertimbun longsor dan dibiarkan tak terurus. Hawa lembab pegunungan Papua menyergap setiap tarikan napas, bercampur ketegangan yang mencekik karena akses ke lokasi penembakan masih ditutup ketat oleh aparat. Di sinilah, di ujung negeri, enam warga petani menjadi korban penembakan lima hari lalu, dan hingga kini nasib mereka masih menjadi teka-teki.
Perjuangan Menjangkau Titik Kritis
Setelah menyusuri medan yang menantang—melewati lereng berlumpur dan pepohonan tumbang—tim akhirnya menemukan dua korban dalam kondisi kritis. Tubuh mereka lemah, dehidrasi, dan luka-luka yang tidak tertangani selama berhari-hari. Tanpa alat medis memadai, mereka dievakuasi menggunakan tandu darurat yang terbuat dari kayu dan kain. Pelan-pelan, di tengah hutan yang semakin pekat, mereka digotong menuju kendaraan yang akan membawa mereka ke RSUD Dekai, satu-satunya rumah sakit di wilayah tersebut. Proses evakuasi ini berlangsung dramatis—setiap langkah adalah perjuangan melawan waktu, medan yang berat, dan keterbatasan logistik. Empat korban lainnya masih hilang, tenggelam dalam belantara hutan Papua yang lebat. Kepala suku Alipia Yalak, yang ikut dalam tim, menyuarakan keprihatinan mendalam:
- “Kami mohon aparat memahami pola hidup kami. Masyarakat di sini hidup dari hutan—mendulang, berladang, mencari kayu. Setiap langkah ke kebun atau ke sungai, selalu ada rasa takut.”
- “Pemerintah daerah harus segera membuka akses jalan yang terputus, agar kami bisa mendapatkan bantuan medis dan logistik tanpa harus mati-matian.”
- “Evakuasi seperti ini jangan sampai terulang. Lima hari tanpa pertolongan—itu terlalu lama bagi saudara-saudara kami yang terluka.”
Akses Terhambat, Nyawa di Ujung Tanduk
Kronologi yang terungkap menggambarkan betapa mencekamnya malam nahas itu. Sekelompok petani yang baru pulang dari mendulang emas di sungai tiba-tiba dihadang aparat di ujung jalan. Tembakan peringatan meletus ke udara, namun kepanikan membuat empat orang lari menyelamatkan diri ke dalam gelap hutan tanpa arah. Dua lainnya tertinggal dan menjadi sasaran. Infrastruktur jalan yang putus dan minimnya akses transportasi membuat bantuan datang terlambat. Di Yahukimo, kondisi geografis yang terjal dan terisolasi menjadi hambatan utama. Akses terhambat bukan hanya soal fisik— tetapi juga soal administratif dan keamanan yang membatasi ruang gerak warga sipil. Setiap hari, warga harus berjalan berjam-jam menembus hutan untuk mencari nafkah, di bawah bayang-bayang penembakan yang belum jelas penyebabnya.
Di balik tragedi ini, ada suara lirih dari garis depan: bahwa masyarakat perbatasan adalah bagian dari Indonesia yang tak boleh dilupakan. Mereka butuh kehadiran negara yang melindungi, bukan sekadar menutup akses. Semangat nasionalisme mereka tetap tinggi meski hidup dalam tekanan. Seperti yang diucapkan seorang tokoh gereja setempat, “Kami tetap setia kepada NKRI, tapi biarkan kami hidup tanpa rasa takut.”