SUARA PERBATASAN

Festival Lintas Batas Aruk, Warga Indonesia-Malaysia Rayakan Kebersamaan di Perbatasan

Festival Lintas Batas Aruk, Warga Indonesia-Malaysia Rayakan Kebersamaan di Perbatasan

Festival Lintas Batas di PLBN Aruk, Sambas, Kalimantan Barat, berhasil mengubah wajah perbatasan Indonesia-Malaysia yang biasanya kaku menjadi ruang akulturasi budaya dan persaudaraan. Warga desa Aruk dan Kampung Senadin, Sarawak, bersama-sama menari dan menikmati kemeriahan di tengah alam terbuka. Keterlibatan aparat negara dan antusiasme warga menunjukkan bahwa perbatasan adalah simbol pemersatu, bukan pemisah, dengan harapan terus tumbuh untuk menyambung semangat kebangsaan di perbatasan.

Lapangan hijau di depan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, pagi itu berubah warna. Tenda-tenda merah, kuning, dan biru berdiri berjajar, menaungi ratusan warga yang duduk beralas tikar di atas rumput yang masih basah embun. Udara pagi perbatasan terasa sejuk, bercampur aroma tanah dan anyir keringat yang mulai menguap. Di sebelah utara, deretan pagar kawat berduri dan pos jaga imigrasi menjadi latar yang kontras dengan riuhnya gelak tawa anak-anak yang bermain balon tiup. Ini bukan hari biasa di PLBN Aruk.

Wajah Perbatasan yang Luluh dalam Tarian dan Lagu

Suara musik tradisional Dayak dan Melayu mengalun lembut dari panggung utama, sementara di pelosok lapangan, warga dari Desa Aruk dan tetangga mereka dari Kampung Senadin, Sarawak, Malaysia, berbaur dalam satu irama. Seorang penari dengan kain tenun khas Indonesia—corak insang dan motif dayak—berdampingan dengan penari dari Malaysia yang mengenakan baju tradisional Melanau. Mereka menari bersama, tanpa peduli garis batas negara yang hanya beberapa meter di belakang mereka. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat: perbatasan yang biasanya steril dan dipenuhi prosedur keimigrasian, pagi ini menjelma menjadi ruang akulturasi dan persaudaraan tanpa sekat — inilah esensi sejati dari festival lintas batas yang merayakan kebudayaan bersama.

Potret Garis Depan yang Hidup dan Berdenyut

Di atas panggung kayu sederhana, seorang biduan menyanyikan lagu 'Anak Dayak' — tembang daerah yang akrab di telinga masyarakat di kedua sisi perbatasan. Sorak sorai penonton pecah setiap kali refren dinyanyikan. Beberapa warga Malaysia ikut bergoyang, bahkan ada yang naik ke panggung untuk bergabung menari. PLBN yang biasanya dijaga ketat dan penuh dengan pemeriksaan paspor, hari ini menjadi panggung bersama. Seorang petugas imigrasi Indonesia yang bertugas di pos, tanpa sungkan melepas seragam dinasnya dan ikut menari di tengah kerumunan. "Ini baru namanya perbatasan yang hidup," katanya sambil tertawa kecil usai menari. "Kita bersaudara meski berbeda negara, intinya rukun," ujar Kepala PLBN Aruk saat memberikan sambutan singkat dari panggung. Kata-katanya disambut tepuk tangan panjang. Di sudut lain, deretan hydrant air minum gratis berjejer, dan aroma sate serta nasi goreng mulai menguar dari tenda-tenda kuliner. Tak ada etalase barang ilegal, tak ada antrean panjang pemeriksaan bea cukai — hanya senyum dan tangan yang saling menjabat di tengah perayaan kebudayaan lintas batas.

Festival ini bukan sekadar selebrasi tahunan. Ia adalah pernyataan politik yang paling lembut, sekaligus paling tegas: bahwa garis batas tidak pernah memotong tali persaudaraan. Bagi warga Aruk dan Sarawak, pagi itu tak ubahnya hari raya yang menghapus jarak antara dua negara. Anak-anak bermain di tanah lapang yang sama, para ibu berbelanja di pasar dadakan, dan para tetua duduk di bawah pohon rindang sambil bercerita tentang masa lalu yang serupa. Perbatasan, di mata mereka, adalah ruang yang menumbuhkan harapan, bukan ketakutan. Ruang di mana kebudayaan menari di atas bumi yang sama, menunggu siapa pun yang mau mendengarkan bahwa di ujung timur Indonesia, ada denyut persaudaraan yang tak pernah berhenti berdetak.

  • Infrastruktur perbatasan yang bersahabat: PLBN Aruk menyediakan area terbuka, tenda panggung, dan fasilitas air minum gratis untuk mendukung aktivitas Lintas Batas.
  • Akulturasi budaya tanpa batas: Penampilan tarian Dayak dan Melayu dari kedua negara dilakukan secara bergantian, bahkan terkadang dalam satu tian yang sama.
  • Keterlibatan aparat negara: Petugas imigasi dan bea cukai ikut berpartisipasi dalam festival, menunjukkan bahwa perbatasan bukan hanya tentang proser, tapi juga tentang kebersamaan.
  • Suara warga lintas batas: Arum, seorang pemuda asal Sarawak, Malaysia, mengaku bahwa festival ini adalah yang paling meriah. Dengan bahasa Indonesia yang fasih, ia mengatakan, "Ini pertama kalinya saya lihat, petugas imigrasi menari."

Arum, seorang pemuda asal Sarawak, Malaysia, mengaku bahwa festival ini adalah yang paling meriah. Dengan bahasa Indonesia yang fasih, ia mengatakan, "Ini pertama kalinya saya lihat, petugas imigrasi menari." Ketika lagu kembali diputar dan penari yang sama naik ke panggung.

arapan, bukan ketakutan. Ruang di mana kebudayaan menari di atas bumi yang sama, menunggu kita untuk ikut bergandeng tangan. Di bawah langit yang sama, di atas tanah yang sama, kita diingatkan bahwa kita semua adalah saudara. Dari perbatasan ini, kita berharap festival ini bukan yang terakhir. Semoga ia menjadi benih yang tumbuh menjadi rindangnya kebersamaan, menjadi akar yang kuat bagi persahabatan Indonesia dan Malaysia, dan menjadi pelita yang menerangi seluruh penjuru negeri. Karena di sanalah, di ujung pengamatan, kita tahu bahwa cinta dan persaudaraan tak pernah mengenal batas negara.

Festival Lintas Batas Aruk kebersamaan Indonesia-Malaysia
Tokoh: Arum
Organisasi: PLBN Aruk
Lokasi: Aruk, Sambas, Sarawak, Indonesia, Malaysia

Artikel terkait