Sore menjelang malam di Sintete, Kecamatan Jawai Selatan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, lapangan desa berubah menjadi samudra cahaya. Lampu minyak dan obor menyala perlahan, menggantikan senja yang tenggelam di balik deretan pohon kelapa. Udara lembap bercampur asap dupa dan aroma tanah basah usai hujan singkat. Ratusan warga—Dayak, Melayu, dan suku lainnya—duduk melingkar di atas tikar anyaman, menanti dimulanya panggung utama. Di sekitar mereka, anak-anak berlarian sambil memegang lilin kecil, sementara para tetua duduk tenang di kursi kayu, sesekali mengusap keringat di dahi. Di ujung lapangan, terdengar alun gong dan sape yang mulai mengalun, mengguncang hening perbatasan. Ini adalah festival budaya perbatasan, sebuah perayaan identitas di ujung negeri yang jarang tersentuh sorot kamera nasional.
Sore di Ujung Negeri: Lampu Obor dan Tarian di Sintete
Di tengah panggung, anak-anak muda memakai topeng khas Dayak—ukiran kayu dengan mata lebar dan taring tajam—melompat lincah mengikuti irama sape yang dipetik para pemain. Tarian itu menggambarkan perjalanan roh leluhur melintasi hutan rimba, menyatu dengan alam. Di sudut lain, kelompok penari Melayu berselendang emas membawakan tari zapin, gerakan kaki yang gemulai diiringi pantun jenaka. Sorak penonton bergemuruh setiap kali penari berhasil menirukan gerakan burung elang. Warga dari Malaysia yang melintas hanya untuk berbelanja di pasar perbatasan ikut berfoto dengan latar panggung, kamera ponsel menyala bergantian. Seorang ibu dari Serikin, Malaysia, berkata pelan, "Kami rindu suasana begini, di kampung kami sudah jarang ada festival seperti ini." Momen itu menunjukkan betapa budaya bisa menjadi jembatan tanpa dilihat batas negara.
Anyaman Rotan dan Gong Sape: Merajut Kebhinekaan di Batas Negara
Seorang pemuda Melayu, Mustafa, berdiri di stan kecil di pinggir lapangan. Dengan tangan terampil, ia memamerkan anyaman rotan hasil tangannya—keranjang, tikar, dan topi berbentuk unik. "Ini ajang untuk menunjukkan bahwa kita yang tinggal di batas negara tidak lupa dengan budaya kita sendiri," katanya sambil menyodorkan sebuah keranjang kecil kepada pengunjung. Mustafa bercerita bahwa ia belajar menganyam dari neneknya sejak kecil, dan kini ia berharap bisa mengajarkan ke generasi muda. Kondisi infrastruktur di Sintete masih terbatas:
- Jalan utama berlubang, sulit dilalui kendaraan roda dua saat hujan.
- Penerangan umum hanya mengandalkan lampu solar, sehingga malam hari gelap gulita di luar area festival.
- Sinyal internet sering putus-putus, menyulitkan komunikasi dan promosi potensi lokal.
Semangat warga tetap tinggi: mereka rela berjalan kaki puluhan kilometer untuk hadir di festival, membawa makanan dan minuman dari rumah. Festival ini juga menjadi ajang ekonomi: pedagang kecil menjual kain tenun, madu hutan, dan kopi luwak khas perbatasan. Di sela-sela tarian, beberapa tetua Dayak memukul gong besar, suaranya menggelegar hingga ke hutan sekitar. Gong itu, menurut mereka, adalah panggilan untuk menyatukan kebhinekaan di titik paling ujung Kalimantan Barat. Di tengah keterbatasan, warga Sintete—Dayak dan Melayu—menunjukkan bahwa perbatasan bukanlah pemisah, melainkan ruang pertemuan yang memperkaya. Festival budaya ini bukan sekadar hiburan, tetapi bukti bahwa nasionalisme lahir dari kesadaran merawat akar budaya di tanah kelahiran. Saat lampu obor mulai padam satu per satu, para penari masih tersenyum, mengingatkan kita bahwa di garis depan, semangat kebersamaan tak pernah padam.