Pagi masih setengah dingin menembus seragam batik lengan panjang yang dikenakan Bu Guru Siska. Di halaman Sekolah Dasar Negeri Skouw Dalam, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, ia sudah berdiri sejak pukul 06.30 WIT. Embun masih membasahi ilalang di samping pagar sekolah, dan dari balik jendela kayu yang mulai rapuh, tampak tiang bendera merah putih menjulang gagah. Di kejauhan, siluet bangunan megah Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw — gerbang utama perbatasan RI-Papua Nugini — muncul perlahan disapu sinar matahari. Yang membuat pagi ini terasa lain adalah suara riuh anak-anak yang berdatangan; ada yang datang dari kampung Skouw Dalam, ada pula yang menyeberang dari sisi seberang garis perbatasan, dari keluarga yang tinggal di wilayah PNG. Tak ada sekat, tak ada pemeriksaan — mereka hanya ingin belajar.
Belajar di Atas Garis Batas: Kelas Tanpa Tembok Negara
Di dalam ruang kelas yang hanya beralaskan semen dan berpenerangan terbatas, papan tulis hitam penuh dengan coretan kapur. Bu Siska mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi ia juga menyelipkan nilai-nilai luhur: menghormati perbedaan, saling tolong, dan cinta tanah air. Bahasa Indonesia bercampur logat Melayu Papua mengalir akrab. Anak-anak dari dua negara duduk berbaur; tak ada yang bertanya soal paspor atau KTP. Di perbatasan, kata 'tetangga' lebih penting daripada 'warga negara'.
- Sekolah ini hanya memiliki tiga ruang kelas permanen, sisanya semi-permanen dari papan yang sudah lapuk dimakan usia dan cuaca ekstrem.
- Listrik masih bergantung pada panel surya terbatas, sering mati saat hujan mengguyur berjam-jam.
- Air bersih diambil dari sumur bersama warga kampung, kadang harus antre jika kemarau panjang.
- Buku pelajaran dan alat tulis kerap didatangkan dari pusat kota Jayapura, perjalanan dua jam melewati jalan berdebu dan berlubang.
Namun, semangat Bu Siska dan murid-muridnya tidak pernah surut. Ia bilang, "Di sini, kami membangun karakter bangsa sejak dini. Anak-anak ini adalah duta perdamaian tanpa seragam diplomat." Setiap hari ia menyisipkan lagu kebangsaan dan cerita tentang pahlawan daerah Papua, agar mereka bangga menjadi bagian dari Indonesia — meski setiap hari melihat langsung bendera asing di seberang pagar.
Selamat Bermain, Selamat Bertetangga
Waktu istirahat tiba. Dentuman mesin truk yang melintas di jalan utama PLBN terdengar samar-samar, tapi tak mampu mengalahkan pekik tawa anak-anak yang bermain bola di lapangan sekolah yang hanya tanah lapang berdebu. Mereka berlari, berebut bola plastik, tanpa mempedulikan batas negara yang jaraknya hanya beberapa ratus meter. Satu tendangan bola nyaris melambung ke area pos pemeriksaan, tetapi serempak mereka tertawa dan memanggil teman dari sisi PNG yang ikut bermain. Bu Siska tersenyum dari teras kelas. Baginya, pemandangan ini adalah pelajaran paling nyata tentang perdamaian: anak-anak tidak lahir dengan prasangka, mereka lahir dengan rasa ingin bermain dan berteman.
Guru perempuan berusia 32 tahun ini telah mengabdikan dirinya sejak 2015. Ia mengakui, gaji dan tunjangan memang ada, tapi tantangan jauh lebih besar — akses transportasi sulit, sinyal telepon seluler sangat lemah, dan rasa kesepian kerap menghampiri ketika hujan deras mengurung sekolah. "Tapi ketika mereka memanggil 'Bu Guru, ajar kami lagi,' semua lelah hilang," ucapnya sambil merapikan tumpukan buku di atas meja. Ia juga berharap pemerintah tidak hanya sibuk membangun PLBN megah, tetapi juga memperhatikan sekolah-sekolah di sekitarnya agar layak menjadi tempat mencetak generasi penerus bangsa dari ujung timur negeri.
Skouw bukan sekadar gerbang lalu lintas barang dan orang. Skouw adalah kelas kehidupan tempat nasionalisme tidak diajarkan dengan pidato di panggung, tetapi melalui sapaan selamat pagi dari mulut anak-anak yang berbeda negara, melalui doa yang dipanjatkan bersama di bawah kibaran merah putih setiap Senin pagi. Di ujung Papua sana, Bu Guru Siska dan murid-muridnya telah menulis kisah tentang bagaimana cinta tanah air bisa tumbuh di tengah keterbatasan — dan bahwa perbatasan bukan untuk dipisahkan, melainkan untuk dirawat sebagai taman persahabatan.