Pagi itu, langit di atas Pasar Enarotali, Paniai, berganti kelabu. Kepulan asap hitam membubung tinggi, membawa aroma hangus yang menyengat hingga ke pelosok kampung. Di tengah hiruk-pikuk warga yang berusaha menyelamatkan barang dagangan, seragam loreng hijau sudah terlihat bergerak tangkas. Prajurit Satgas Yonif 2 Marinir bukan sekadar hadir sebagai penonton. Mereka langsung membentuk barisan, menarik selang pemadam, dan menerobos kepanikan. Seorang ibu tua dengan kain basah menutup hidung terlihat setengah berlari, diikuti seorang prajurit yang memapahnya sambil membawa karung berisi sayur mayur. Suara koordinasi keras terdengar: "Kencangkan selang! Jaga sisi kiri!" — semuanya terjadi dalam hitungan menit, di bawah terik matahari Papua yang mulai memanggang.
Pagi yang Berubah Menjadi Kepanikan
Api belum sepenuhnya padam ketika sebagian lapak sudah rata dengan tanah. Kerangka besi penyangga lapak melengkung parah, atap seng bergulung seperti kertas bekas, dan kayu-kayu penyangga hangus menghitam. Namun, saat bara terakhir dipadamkan, pemandangan yang lebih mengharukan justru muncul. Bukan ratapan, melainkan gerak cepat. Gotong-royong dimulai tanpa komando. Prajurit Satgas bersama warga setempat menyekop puing, mengangkat balok kayu yang masih menyisakan bara, dan membersihkan area pasar dari sisa-sisa kebakaran.
- Kerangka besi penyangga lapak melengkung parah akibat panas
- Atap seng bergulung seperti kertas bekas yang terbakar
- Kayu-kayu penyangga hangus menghitam, sebagian masih mengeluarkan asap tipis
- Lantai pasar dipenuhi pecahan keramik dan abu tebal setinggi mata kaki
Di atas tumpukan puing itulah, kerja sama yang tulus terlihat. Seorang prajurit dengan wajah coreng-coreng asap membantu mengangkat lemari es yang roboh, sementara warga lain menyiramkan air sisa pemadam ke area yang masih panas. Mereka tidak hanya membersihkan, tetapi juga mulai membangun pagar pengaman dari kayu bekas dan kawat yang masih utuh. "Kami ingin pasar ini cepat kembali ramai," ujar seorang prajurit sambil menyeka keringat yang bercampur jelaga. Panas matahari semakin menyengat punggung mereka yang basah oleh keringat dan air sisa pemadam. Namun, senyum kecil tersungging saat melihat area bersih mulai terbentuk.
Gotong Royong di Atas Puing
Bagi warga Enarotali, kehadiran prajurit di saat seperti ini lebih berarti dari sekadar patroli rutin. Mereka melihat penjaga perbatasan tidak sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang turut merasakan duka. "Kami sangat berterima kasih. Mereka datang bukan hanya dengan mobil pemadam, tetapi dengan hati," ujar Yohanes, seorang pedagang kelontong yang hampir kehilangan semua stok barangnya. Satgas tidak hanya membantu memadamkan api, tetapi juga ikut membersihkan, mendirikan pagar sementara, dan memberikan semangat untuk bangkit kembali. Di pasar yang masih berbau asap dan abu, semangat kebersamaan itu menyala lebih terang dari bara api yang padam.
Di ujung negeri, di balik kabut pegunungan Papua, semangat gotong-royong ini adalah bukti bahwa Indonesia tidak pernah sendiri. Ketika kebakaran melanda pasar Enarotali, Satgas Marinir hadir bukan sebagai aparat, melainkan sebagai saudara. Mereka membangun pagar pengaman dari puing-puing, tetapi yang lebih penting, mereka membangun harapan dari abu. Warga perbatasan tahu: di mana ada kesulitan, di situ ada seragam loreng yang siap bahu-membahu. Indonesia hadir di sana, dan Indonesia akan terus berdiri bersama mereka.