NASIONALISM

Gotong Royong di Ujung Negeri: Komunitas Adat Riau Perbaiki Jembatan

Gotong Royong di Ujung Negeri: Komunitas Adat Riau Perbaiki Jembatan

Di Dusun Sei Mengkuang, perbatasan Riau-Sumatra Barat, jembatan gantung roboh diterjang banjir. Tanpa menunggu bantuan, puluhan warga dari komunitas adat bergotong royong menggunakan bambu, kayu, dan tali rotan untuk memperbaikinya dalam waktu tujuh jam. Semangat gotong royong ini menjadi bukti nyata nasionalisme dan kedaulatan di garis depan Indonesia.

Di ufuk timur Dusun Sei Mengkuang, perbatasan Riau-Sumatra Barat, langit kelabu menyisakan gerimis tipis. Tepi Sungai Mengkuang, yang baru sehari lalu meluap, kini dipenuhi lumpur cokelat dan sisa-sisa lumpur. Jembatan gantung yang menghubungkan dusun ke pasar — satu-satunya akses ekonomi dan sosial bagi 300 jiwa — roboh diterjang banjir bandang. Kabel baja putus, papan kayu berserakan, dan tiang utama patah seperti lidi. Suara air sungai berdesir pelan, seolah ikut meratapi nestapa. Di sinilah, di titik paling ujung negeri, denyut kehidupan harus terus berdetak. Dengan alat seadanya — kampak, tali rotan, dan bambu — puluhan warga berkumpul. Tidak ada teriakan panik, hanya dengusan napas berat dan langkah kaki yang sarat tekad. Perbatasan Riau bukan sekadar garis di peta; ia adalah rumah bagi komunitas yang tak pernah lelah berjuang.

Potret Gotong Royong dari Garis Depan

Tidak perlu aba-aba. Pak Usman, tetua adat yang usianya sudah kepala tujuh, langsung memimpin. 'Kami tidak bisa menunggu bantuan dari kota,' katanya tegas, sembari mengikat bambu dengan simpul yang ia pelajari sejak muda. Anak-anak muda memanjat pohon kelapa di pinggir sungai, meraih tali rotan yang akan dijadikan pengikat. Di bawah, para ibu dengan kain sarung melilit pinggang, menyiapkan kopi panas dan pisang goreng — bekal sederhana untuk para pekerja. Suara tawa dan teriakan takbir bersahut-sahutan, mengusir dinginnya gerimis. Berikut kondisi yang tergambar jelas di lokasi:

  • Infrastruktur darurat: Tiang baru dari kayu bulat, lantai dari bambu anyaman, dan tali pengaman dari rotan — semuanya hasil dari hutan sekitar dusun.
  • Kepemimpinan adat: Tak ada birokrasi, Pak Usman sebagai tokoh komunitas adat langsung mengambil keputusan dan membagi tugas saat itu juga.
  • Partisipasi lintas generasi: Anak-anak muda menjadi pemanjat dan tukang ikat, sementara kaum bapak mengangkut material, dan ibu-ibu menjadi logistik lapangan.
  • Semangat kebersamaan: 'Inilah gotong royong, warisan leluhur,' ujar Pak Usman sambil mengeringkan keringat di kening, dan semua warga mengamini.

Di tengah kondisi yang serba darurat, tidak ada keluhan. Yang ada hanya suara palu kayu memukul bambu, gesekan tali rotan, dan sesekali canda yang membuat suasana tetap cair. Gerimis yang turun justru menjadi elemen yang mengikat solidaritas — semua basah, semua sama.

Pukul Empat Sore: Jembatan Berdiri, Hati Berdansa

Pukul empat sore, setelah tujuh jam kerja tanpa henti, jembatan gantung itu berdiri kembali. Tidak kokoh seperti semula, tetapi cukup untuk dilalui. Seorang ibu dengan bakul di kepala melangkah perlahan, tubuhnya gemetar namun wajahnya berseri. 'Bisa ke pasar lagi,' bisiknya, nyaris tidak terdengar. Di seberang, anak-anak kecil bersorak dan berlarian menyeberang jembatan itu, seakan menantang keseimbangan. Senja memerah di ufuk barat, cahayanya menari di atas anyaman bambu. Waktu seolah berhenti — dan dalam keheningan itu, semangat nasionalisme bukan lagi sekadar lagu atau simbol, melainkan nyata di setiap langkah warga yang melalui jembatan darurat itu.

Jembatan ini bukan hanya penghubung fisik. Ia adalah simbol bahwa di ujung negeri, di mana suara pemerintah bahkan listrik terkadang tidak sampai, komunitas adat di perbatasan Riau masih memegang teguh nilai gotong royong. Mereka adalah penjaga sejati kedaulatan di Garis Depan Indonesia. Kini, saat kita menikmati kenyamanan di kota, mungkin tergambar di benak kita — apakah kita sudah cukup peduli dengan mereka di ujung sana? Dukungan bukan selalu berupa materi, sering kali cukup dengan kepedulian dan doa. Biarlah jembatan Sei Mengkuang menjadi pengingat: bahwa di mana pun, di titik paling nol Indonesia, darah kebangsaan masih mengalir kental melalui keringat dan kerja bersama.

gotong royong perbaikan jembatan komunitas adat
Tokoh: Pak Usman
Lokasi: Dusun Sei Mengkuang, Riau, Sumatera Barat

Artikel terkait