Di ruang UGD RSUD Teluk Bintuni, aroma disinfektan bercampur dengan dengung monitor yang tak henti. Di atas ranjang, tubuh Pratu Andi Syarif Bugis terbujur kaku, selang infus dan kabel oksigen menjadi satu-satunya jembatan antara hidup dan mati. Sejak Jumat malam, prajurit Brigade Infanteri 26/Gurana Piarawaimo itu belum sekali pun membuka kelopak matanya. Hasil visum justru mengejutkan: bukan keracunan alkohol seperti klaim awal, melainkan pendarahan di otak kecil dan retak pada tulang tengkorak—luka khas akibat trauma benda tumpul. Di sudut ruang, ibunya duduk dengan wajah sembab, sesekali menekan dadanya sendiri.
Potret Suram di UGD, Di Mana Letak Keadilan?
Laporan medis yang bertolak belakang dengan cerita dari jajaran komandan Brigif 26/GP bagaikan pisau yang mengiris kepercayaan. Alih-alih pesta miras yang berujung mabuk, lembar visum justru menuliskan gambaran kekerasan fisik. Tim dokter mencatat adanya cedera kepala berat dengan fraktur pada os temporalis dan perdarahan subdural—tanda yang lazim ditemukan pada kasus penganiayaan menggunakan alat tumpul. Keluarga korban pun bergerak. Di tengah rinai gerimis khas Teluk Bintuni, mereka melangkah ke Subdenpom XVIII/i-1 Bintuni untuk melaporkan dugaan penganiayaan. Suasana Markas Kodim setempat berubah hening.
- Kondisi Pratu Andi: koma tingkat III, tidak responsif terhadap rangsang nyeri.
- Hasil CT-Scan: perdarahan di serebelum (otak kecil) dan retak linier pada kalvaria.
- Klaim awal dari pihak kesatuan: korban diduga overdosis miras oplosan.
- Keluarga bersikukuh hanya Pratu Andi yang dilarikan dalam dugaan pesta miras tersebut, menimbulkan tanya soal keselamatan di asrama.
Retaknya Kepercayaan di Garis Depan Papua Barat
Di balik peringatan HUT ke-81 TNI yang semarak, kasus ini menjadi parut di wajah kesatuan. Teluk Bintuni yang tenang, dikelilingi hutan mangrove dan delta sungai yang menghijau, kini diwarnai kegelisahan. Rumah sakit rujukan di Papua Barat ini hanya memiliki satu alat CT-Scan. Tim medis bekerja terbatas, sementara keluarga harus menempuh perjalanan dua jam dari Distrik Bintuni Barat ke pusat kota untuk setiap perkembangan. Di tengah keterbatasan itu, nyawa seorang prajurit yang bertugas di ujung negeri justru terancam dari dalam. Sebuah ironi yang menggores nasionalisme.
Pintu UGD terus terbuka. Monitor masih berkedip, Pratu Andi masih terbaring. Kasus ini bukan sekadar insiden medis, melainkan cermin retaknya sistem perlindungan bagi mereka yang seharusnya menjadi penjaga di garis terdepan. Di saat para perwira berbicara soal kesetiaan dan pengabdian, seorang ibu hanya bisa berharap anaknya sadar agar bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu di asrama Brigif 26/GP. Teluk Bintuni, dengan langit kelabunya, kini menahan napas.