INFRASTRUKTUR

Infrastruktur Listrik di Perbatasan Nunukan: PLN Targetkan 100% Desa Teraliri pada Akhir 2026

Infrastruktur Listrik di Perbatasan Nunukan: PLN Targetkan 100% Desa Teraliri pada Akhir 2026

Di Desa Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, petugas PLN tengah memasang jaringan listrik yang membawa harapan baru bagi warga perbatasan. Meski masih ada dusun terpencil yang belum terjangkau, PLN menargetkan seluruh desa teraliri listrik pada akhir 2026 dengan memanfaatkan pembangkit surya. Kehadiran listrik menjadi simbol kehadiran negara di garis terdepan Indonesia.

Kabut tipis masih menggantung di antara pucuk-pucuk pohon saat tim Lensa-Teritorial melangkah memasuki Desa Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Di kejauhan, deretan tiang listrik baru berdiri tegak, mengikuti alur sungai yang membelah desa. Suara gemuruh genset yang biasa menghiasi malam mulai tergantikan oleh dengung halus transformator. Beberapa pekerja PLN dengan seragam oranye tampak sibuk mengencangkan baut di gardu distribusi yang baru rampung dibangun, sementara warga bergotong-royong membersihkan area sekitar. Desa yang hanya berjarak puluhan kilometer dari perbatasan Malaysia ini tengah berbenah mengejar ketertinggalan infrastruktur listrik di perbatasan Nunukan—sebuah kebutuhan dasar yang selama ini menjadi impian panjang bagi masyarakat di garis depan negeri.

Menerangi Dusun di Tengah Rimbunnya Hutan Perbatasan

Perjalanan menuju lokasi proyek bukan perkara mudah. Medan berbukit dan hutan lebat memaksa material tiang listrik diangkut secara manual. Kabel-kabel berdiameter besar dijulurkan melewati sungai kecil yang airnya jernih, menembus rimbunnya pepohonan. Di beberapa titik, pekerja harus memanjat tebing curam untuk memasang isolator. Namun, semangat mereka tak luntur. “Kami sudah terbiasa dengan medan seperti ini. Demi warga bisa menikmati listrik, kami semua bersemangat,” ujar salah seorang petugas PLN yang enggan disebut namanya. Gardu-gardu kecil mulai bermunculan di tengah perkampungan, menggantikan sementara lentera minyak tanah yang selama ini menjadi andalan.

Di antara kerumunan warga yang mengamati progres pemasangan, seorang kakek bernama Sani tersenyum sumringah. Ia mengusap keringat di dahinya lalu berkata dengan suara sedikit bergetar, “Baru sekarang kami bisa rasakan terang di malam hari. Anak-anak bisa belajar dengan baik.” Perkataan Sani menggambarkan betapa berharganya kehadiran listrik bagi mereka. Sebelumnya, aktivitas warga terhenti begitu matahari tenggelam. Anak-anak terpaksa belajar dengan bantuan lampu minyak, sementara aktivitas ekonomi seperti pengolahan hasil kebun dan perikanan terbatas pada siang hari. Kini, secercah harapan mulai menyala di setiap rumah panggung kayu yang mulai diterangi cahaya lampu.

Meski demikian, masih ada beberapa dusun terpencil yang belum terjangkau. Beberapa di antaranya berada di lereng gunung atau di balik aliran sungai yang hanya bisa dilalui dengan rakit. Kondisi infrastruktur jalan yang minim menjadi tantangan tersendiri.

  • Desa Lumbis Ogong kini telah dialiri listrik 24 jam, meski masih ada dusun yang mengandalkan genset terbatas.
  • Sebanyak 3 dusun di kecamatan sekitar masih menunggu giliran penyambungan.
  • PLN menargetkan seluruh desa di Kabupaten Nunukan teraliri listrik pada akhir 2026.

Target 100% pada 2026, Mengandalkan Sinar Matahari

Untuk memenuhi target 100% listrik perbatasan Nunukan, PLN telah menyusun strategi jangka panjang. Daerah-daerah dengan medan paling ekstrem akan dipasok menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) off-grid, mengingat sulitnya menjangkau lokasi dengan jaringan konvensional. Panel surya dianggap solusi paling efektif dan ramah lingkungan untuk wilayah perbatasan yang dikelilingi hutan lindung dan perairan. Hal ini disampaikan langsung oleh Manajer Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Nunukan dalam keterangan tertulisnya. “Kami berkomitmen menuntaskan target 100 persen desa berlistrik pada akhir 2026, dengan mengedepankan teknologi yang tepat guna dan hemat biaya,” ujarnya.

Kehadiran listrik bukan hanya soal terangnya malam, tetapi juga membuka akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Rumah-rumah warga mulai dipasangi instalasi listrik sederhana. Ibu-ibu dapat mengoperasikan mesin jahit, warga bisa menonton televisi, dan anak-anak bersekolah daring ketika cuaca mendukung. Di posyandu, vaksin dapat disimpan dalam lemari pendingin, bukan lagi bergantung pada kotak styrofoam berisi es batu. Semua perubahan kecil itu berdampak besar bagi kualitas hidup warga di ujung timur Kalimantan Utara.

Meski pekerjaan masih panjang, semangat kebersamaan antara warga dan petugas PLN menjadi pemandangan yang mengharukan. Di bawah langit senja yang mulai jingga, segelintir anak berlarian mengejar lampu-lampu yang mulai menyala di beberapa rumah panggung. Mereka tertawa riang, seolah menyambut babak baru kehidupan di desa mereka.

Perbatasan Indonesia bukan sekadar garis di peta. Di sana ada denyut nadi yang butuh perhatian, ada cita-cita yang menunggu cahaya. Listrik yang mengalir adalah bukti bahwa negara hadir, bahwa pembangunan tidak melupakan mereka yang tinggal di sudut-sudut negeri. Ketika akhirnya semua terang pada 2026 nanti, bukan hanya lampu yang menyala, melainkan juga harapan yang terus menyala di hati setiap warga perbatasan. Semoga langkah ini berlanjut, agar tidak ada lagi desa yang tertinggal dari Indonesia yang lebih terang.

infrastruktur listrik elektrifikasi desa perbatasan Nunukan
Tokoh: Sani
Organisasi: PLN
Lokasi: Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Malaysia, Desa Lumbis Ogong, Nunukan

Artikel terkait