SUARA PERBATASAN

Inisiatif Sosial di Entikong, Kalimantan Barat, Warga Bangun Rumah Pangan untuk Cegah Kelaparan Saat Bencana Banjir

Inisiatif Sosial di Entikong, Kalimantan Barat, Warga Bangun Rumah Pangan untuk Cegah Kelaparan Saat Bencana Banjir

Di bekas terminal lama Entikong, Kalimantan Barat, warga bergotong royong mendirikan rumah pangan untuk mencegah kelaparan saat banjir tahunan melanda. Rumah pangan ini menjadi pusat pembelajaran hidroponik dan penyimpanan logistik, memperkuat kemandirian pangan dan solidaritas di garis depan perbatasan Indonesia. Inisiatif ini muncul setelah banjir tahun lalu memutus akses darat dan melonjakkan harga pangan secara drastis.

Di bekas terminal lama Entikong, Kalimantan Barat, aroma tanah basah bercampur dengan semangat gotong royong menyapa setiap pengunjung. Di atas lahan kosong seluas setengah hektar, para ibu sibuk menanam bibit kangkung ke dalam polibek warna-warni yang dibuat dari bekas galon air mineral, sementara para bapak bahu-membahu memperbaiki saluran drainase di sekeliling bangunan panggung kayu yang kokoh berdiri. Bangunan panggung itu kini menjadi pusat penyimpanan logistik dan pusat pembelajaran ketahanan pangan warga. Di setiap sudut, terlihat tumpukan karung berisi pupuk, ember bekas, dan botol plastik yang disulap menjadi media tanam hidroponik. Langit cerah di ujung perbatasan Indonesia-Malaysia ini seolah menjadi saksi bisu tekad warga yang tak ingin lagi bergantung pada pasokan pangan dari luar saat musibah tiba.

Gotong Royong di Ujung Negeri: Membangun Rumah Pangan

Inisiatif ini lahir dari pengalaman pahit banjir tahun lalu yang melanda kawasan perbatasan Entikong. Saat itu, debit air naik drastis setelah hujan deras mengguyur selama tiga hari berturut-turut. Akses darat ke pusat kota terputus total selama hampir dua pekan. Harga pangan melonjak hingga tiga kali lipat, dan pasokan sayur, cabai, serta kebutuhan pokok lainnya nyaris lenyap dari pasar. Warga terpaksa mengandalkan bantuan dari pos lintas batas yang jaraknya puluhan kilometer. Dari situlah muncul gagasan untuk membangun rumah pangan sebagai lumbung cadangan yang bisa diandalkan kapan saja.

  • Infrastruktur sederhana namun fungsional: Bangunan panggung kayu setinggi 1,5 meter dilengkapi rak-rak untuk menyimpan logistik kering, serta area terbuka untuk menanam sayur secara hidroponik.
  • Polibek dari limbah rumah tangga: Setidaknya 200 polibek dari galon bekas telah disulap menjadi media tanam kangkung, bayam, dan cabai rawit.
  • Saluran drainase baru: Panjang total 50 meter digali warga secara bergotong royong untuk mengurangi genangan saat hujan deras.
  • Pusat edukasi: Setiap Sabtu, warga berkumpul untuk belajar teknik bercocok tanam dengan sistem hidroponik sederhana dari para relawan mahasiswa setempat.

Belajar Hidroponik, Mewujudkan Kemandirian Pangan

Kepala Desa Entikong, Bapak Ridwan, menegaskan bahwa rumah pangan ini bukan sekadar tempat menyimpan makanan. “Ini adalah pusat belajar dan penguatan kemandirian pangan bagi seluruh warga. Kami ingin setiap keluarga memiliki kemampuan untuk memproduksi sendiri sayuran dan bumbu dapur di pekarangan masing-masing, sehingga saat banjir datang, kami tak perlu khawatir kelaparan,” ujarnya di sela-sela kegiatan menanam. Program ini juga melibatkan puluhan ibu rumah tangga yang antusias mengikuti pelatihan hidroponik menggunakan botol bekas dan paralon. Mereka diajarkan cara menanam tanpa tanah, memanfaatkan air sungai yang difilter, dan membuat pupuk cair dari limbah dapur. Tidak hanya soal pangan, solidaritas warga pun semakin erat. Setiap akhir pekan, lumbung pangan ini dipenuhi tawa dan canda saat warga bersama-sama merawat tanaman atau mengecek stok logistik. Bagi mereka, rumah pangan adalah benteng terakhir saat alam murka, sekaligus simbol persatuan di ujung negeri.

Entikong, sebagai salah satu pintu gerbang perbatasan Indonesia, kerap kali terlupakan dalam arus pembangunan nasional. Namun di balik keterbatasan infrastruktur dan ancaman banjir tahunan yang mengintai, warga di sini membuktikan bahwa kemandirian pangan bukanlah sekadar wacana. Dengan tangan mereka sendiri, dari lahan bekas terminal yang terlantar, mereka menumbuhkan harapan — bahwa di mana pun kita berada, di sudut mana pun dari negeri ini, semangat gotong royong dan ketahanan pangan bisa dirajut dari hal yang paling sederhana. Merekalah garda terdepan yang tidak hanya menjaga batas negara, tetapi juga menjaga martabat dan harga diri bangsa. Saat banjir datang, rumah pangan ini akan menjadi mercusuar kehidupan, menegaskan bahwa warga perbatasan tidak akan pernah menyerah pada kelaparan.

Inisiatif sosial rumah pangan pencegahan kelaparan banjir
Lokasi: Entikong, Kalimantan Barat

Artikel terkait