Di titik paling timur Indonesia, di Desa Skouw, Kecamatan Muara Tami, Kota Jayapura, suara derit kayu tua bersahutan dengan derasnya arus Sungai Bensbach yang membelah dua negara — Indonesia dan Papua Nugini (PNG). Sebuah jembatan kayu panjang dan usang menjadi satu-satunya penghubung resmi di titik perbatasan ini. Setiap pagi, puluhan warga dari kedua sisi melintas dengan langkah hati-hati, menginjak papan-papan reyot, sebagian sudah patah. Di bawahnya, sungai keruh mengalir deras, mengingatkan risiko yang mengintai setiap langkah. Bau kayu lapuk dan tanah basah menyatu dengan udara lembap. Inilah napas kehidupan sehari-hari warga perbatasan — sebuah jembatan yang menjadi simbol sekaligus ironi dari infrastruktur garis depan yang nyaris terabaikan.
Jembatan Usang di Atas Sungai Perbatasan
Kondisi fisik jembatan ini memprihatinkan. Beberapa papan penyangga utama sudah kering dan retak. Paku-paku besi berkarat menjulur keluar, siap melukai siapa pun yang tak sengaja tersandung. Di beberapa titik, tertutup tambalan kayu seadanya yang dipasang warga. Tiang-tiang penyangga di bawah terlihat miring, dimakan usia dan derasnya air sungai saat musim hujan tiba.
- Panjang jembatan sekitar 50 meter, lebar hanya cukup untuk satu orang berjalan.
- Tak ada pagar pengaman di sisi kanan dan kiri. Anak-anak dan lansia lintas dengan penuh was-was.
- Saat hujan, kayu menjadi licin, warga harus merangkak atau berpegangan pada satu besi penyangga yang tersisa.
Seorang ibu bernama Maria, warga suku Marind yang tinggal di sisi Indonesia dan menjual hasil kebun ke pasar Vanimo, PNG, berkata dengan suara lirih: "Setiap hari saya melintas jembatan ini untuk membawa pisang dan ubi. Cuma satu ini jembatan resmi. Kalau hujan, saya tunggu sampai reda. Saya bawa anak kecil, takut terpeleset. Kami sudah puluhan tahun minta dibangunkan jembatan baru."
Pos Lintas Batas yang Minim dan Semangat yang Tak Pernah Padam
Di ujung sisi Indonesia, berdiri Pos Lintas Batas (PLB) Skouw. Bangunannya semi permanen — dinding papan dengan atap seng. Petugas bea cukai dan imigrasi dari pemerintah Indonesia bekerja dengan komputer sederhana di meja kayu. Mereka memeriksa dokumen warga dengan teliti, meski sinyal internet sering putus dan listrik hanya menyala beberapa jam dari genset kecil. Matahari sore menyinari karat pada besi penyangga jembatan. Warga membawa dagangan di dalam noken — tas tradisional anyaman — serta botol minum dan bekal. Sebagian menggendong anak. Mereka melintas dengan ritme yang sama selama puluhan tahun.
"Jembatan ini bukan sekadar akses ekonomi, tetapi juga penghubung budaya. Banyak sanak saudara saya di seberang, kami sekeluarga besar. Kalau jembatan putus, saya tak bisa bertemu keluarga saya," ujar Bapak Yakobus, tetua adat setempat. "Kami ingin jembatan beton, ada lampu, jadi malam pun aman. Ini gerbang Indonesia. Jangan malu sama negara tetangga," tambahnya.
Setiap derit kayu yang berbunyi saat dilangkahi adalah suara garis depan yang memohon perhatian. Warga berharap, pembangunan infrastruktur perbatasan tak hanya dihitung dari angka, tetapi dari setiap langkah mereka di atas papan reyot ini. Mereka terus menjaga ritme, memikul beban di pundak, sambil memandang ke arah garis horizon yang sama: Indonesia di belakang, PNG di depan, dan jembatan ini sebagai satu-satunya garis penghubung yang akan terus dijaga sampai suatu hari nanti menjadi kokoh dan membanggakan.