SUARA PERBATASAN

Kabut Asap Lintas Batasa Picu Protes Negara Tetangga, Warga Perbatasan Merasa Terjepit

Kabut Asap Lintas Batasa Picu Protes Negara Tetangga, Warga Perbatasan Merasa Terjepit
Asap tebal dari Karhutla di Kalimantan tidak mengenal garis demarkasi peta. Ia dengan mudahnya menyeberang, menyelimuti kota-kota di Serawak dan Sabah, Malaysia, hingga memaksa pemerintah setempat meliburkan sekolah bagi dua juta siswa. Di sisi lain perbatasan, warga Indonesia di Nunukan atau Bengkayang merasakan dampak ganda: selain berjuang melawan udara beracun, mereka juga menanggung beban diplomatik yang terasa abstrak namun berdampak nyata pada hubungan kekerabatan lintas batas. Potret kerisauan terlihat di Pos Lintas Batas Terpadu (PLBT) Aruk. Pedagang asal Indonesia yang biasa menjual hasil bumi ke Malaysia kini menggelar dagangannya dengan lesu, sementara pembeli dari seberang berkurang drastis. Percakapan ringan antar warga yang berbahasa serumpun seringkali diselipi pertanyaan, 'Kapan asap ini hilang?' disertai gelengan kepala. Media internasional seperti Al Jazeera menyorot fenomena ini, menambah tekanan pada pemerintah Indonesia. Bagi warga perbatasan, isu ini bukan sekadar statistik kualitas udara atau pemberitaan media. Ini adalah kenyataan hidup yang menjepit mereka di antara dua negara. Mereka hidup di tanah yang menjadi sumber masalah, sekaligus merasakan dampak paling langsung dari setiap ketegangan yang muncul. Suara mereka seringkali tenggelam dalam diskusi tingkat tinggi, padahal merekalah yang setiap hari menghirup konsekuensinya, merasakan tatapan tetangga, dan berharap solusi datang sebelum hubungan kekerabatan yang sudah terjalin puluhan tahun terkikis oleh kepulan asap.
kabut asap lintas batas karhutla protes negara tetangga dampak warga perbatasan
Organisasi: Al Jazeera, Pos Lintas Batas Terpadu (PLBT) Aruk, Pemerintah Indonesia
Lokasi: Kalimantan, Serawak, Sabah, Malaysia, Nunukan, Bengkayang, Aruk, Indonesia

Artikel terkait