Malam telah lama menjadi selimut pekat bagi Kampung Mosso, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua. Selama 20 tahun, begitu matahari tenggelam di balik bukit-bukit yang membatasi Indonesia dan Papua Nugini, seluruh kampung tenggelam dalam kegelapan total. Hanya 12 kilometer dari garis perbatasan, denyut kehidupan warga harus berhenti ketika petang datang. Rumah-rumah panggung kayu hanya diterangi cahaya redup lampu tempel minyak tanah yang harganya terus meroket. Namun pekan lalu, panorama itu berubah drastis. Deretan panel surya yang berkilau terpasang di atap rumah ibadah dan balai kampung, menandai babak baru bagi warga yang selama dua dekade hidup dalam gelap.
Saat Saklar Menyala, Suara Tepuk Tangan Menggema di Ujung Negeri
Momen paling bersejarah terjadi ketika saklar listrik pertama kali dinyalakan. Anak-anak yang selama ini hanya mengenal gelap bertepuk tangan riang, perempuan-perempuan yang biasanya sibuk menyiapkan makan malam dalam suram ikut bersorak. Cahaya terang yang menyapu ruang balai kampung seolah mengusir ketakutan yang selama ini mengintai dari balik semak-semak perbatasan. Sebelumnya, kegelapan bukan sekadar ketidaknyamanan; ia menjadi ancaman nyata keamanan. Perbatasan Papua Nugini yang hanya sepelemparan batu membuat kampung ini rawan bagi penyusup dan aktivitas ilegal yang sulit terdeteksi tanpa penerangan.
Kini, sistem listrik surya berkapasitas 5.000 watt terpasang dan mampu menghidupi 80 kepala keluarga. Meski belum menyala 24 jam penuh, warga sudah merasakan perbedaan besar. Kepala Kampung Mosso, Yulius (55), mengaku bersyukur. “Anak-anak bisa belajar malam hari. Kami tidak lagi bergantung pada lampu tempel yang mahal dan membuat rumah penuh asap,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di sela perayaan kecil warga.
Fakta Lapangan dari Kampung Mosso
- Lokasi: Kampung Mosso, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua — hanya 12 km dari perbatasan Indonesia–Papua Nugini.
- Durasi kegelapan: 20 tahun, sejak kampung dihuni hingga listrik surya terpasang pekan lalu.
- Sumber energi: panel surya berkapasitas 5.000 watt, ditempatkan di atap rumah ibadah dan balai kampung.
- Penerima manfaat: 80 kepala keluarga, dengan prioritas untuk aktivitas belajar anak-anak dan penerangan fasilitas umum.
- Keterbatasan: pasokan listrik belum 24 jam; pada musim hujan, intensitas matahari menurun drastis dan pasokan menjadi terbatas.
Potret Garis Depan yang Masih Merindukan Kehadiran Negara
Kegembiraan warga Kampung Mosso adalah potret kecil dari perjuangan panjang di wilayah perbatasan. Mereka telah membuktikan ketangguhan hidup di ujung negeri, namun masih banyak kebutuhan mendasar yang belum terpenuhi. Jalan masuk kampung yang berlumpur dan berlubang, akses kesehatan yang jauh, serta pasokan air bersih yang belum memadai masih menjadi pekerjaan rumah besar. Listrik surya ini hadir sebagai permulaan, bukan akhir. Pemerintah pusat dan daerah perlu menindaklanjuti dengan perawatan berkelanjutan, pengembangan kapasitas, dan perluasan jaringan agar tidak ada lagi kampung yang harus menunggu 20 tahun untuk menyalakan lampu.
Ketika malam turun di Mosso kini, tidak lagi yang benar-benar gelap. Deretan lampu LED kecil di balai kampung menjadi mercusuar harapan bagi anak-anak yang sedang membaca buku, ibu-ibu yang menjahit, dan pemuda yang merencanakan masa depan. Di balik bukit perbatasan, negeri ini masih menyimpan ribuan cerita senada. Kepedulian terhadap mereka bukan sekadar kewajiban, melainkan bukti nyata bahwa Indonesia hadir di setiap sudut tanah airnya — dari Sabang hingga Mosso, dari pusat kota hingga ke garis terdepan yang berdetak dalam sunyi.