Lanskap Ninggea bagai lukisan bumi yang terluka. Hijau pegunungan Papua yang dulu membentang sejauh mata memandang, kini berubah menjadi cokelat pucat dan kekuningan. Udara kering membakar tenggorokan saat berjalan di antara kebun-kebun yang dulunya dipenuhi ubi, keladi, dan sayuran hijau, kini hanya menyisakan batang-batang tanaman kering kerontang. Tiada setetes embun pun di daun pada pagi hari. Debu beterbangan setiap kali angin berhembus, menyatu dengan peluh para petani yang harus menyaksikan harapan mereka layu sebelum sempat dipanen. Di lereng-lereng bukit, retakan tanah membentuk pola-pola seperti peta penderitaan, mengingatkan bahwa bencana kekeringan telah mengubah sumber kehidupan menjadi ladang kemarau yang sunyi.
Suara dari Lembah Kering: Harapan di Tengah Kepunahan
Dalam pertemuan dengan prajurit Satgas TNI di tengah lapangan berdebu, suara warga terdengar lirih namun jelas menyampaikan keprihatinan. “Tanaman kami mati semua. Mau tanam lagi, tanahnya keras, tidak ada air,” keluh seorang petani sambil menunjuk ke arah lereng gunung yang gersang. Keterbatasan bahan pangan pokok mulai terasa. Krisis pangan akut melanda Nduga, memaksa warga untuk mengonsumsi umbi-umbian liar dan menyisakan jatah makan untuk anak-anak. Aspirasi warga Ninggea menguat: butuh pasokan air bersih dan bahan makanan segera. Mereka hanya meminta cukup untuk bertahan sampai hujan turun dan bumi kembali bersahabat. Kondisi ini memperparah kerentanan di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau, di mana setiap langkah adalah perjuangan melawan jarak dan keterbatasan.
- Tanaman pokok seperti ubi dan keladi mati total akibat kekeringan berkepanjangan
- Warga terpaksa mengonsumsi umbi-umbian liar untuk bertahan hidup
- Anak-anak mulai lesu karena kekurangan asupan gizi dari sayur dan buah
- Pasokan air bersih dari sumber terdekat mulai mengering
Dalam Pelukan Kekeringan: Kehadiran Negara di Ujung Negeri
Di tengah keprihatinan itu, kehadiran tim medis Satgas memberikan secercah kelegaan. Di balai kampung yang beratap seng, pemeriksaan tensi untuk para lansia dan pembagian vitamin untuk anak-anak yang mulai lesu menjadi bukti bahwa negara tetap berusaha hadir. Seorang ibu muda menggendong balitanya dengan tatapan penuh harap saat petugas meneteskan vitamin ke mulut mungil buah hatinya. “Terima kasih, Pak Tentara. Kami sudah kekurangan sayur dan buah sejak kebun mati,” ujarnya pelan. Aspirasi warga Ninggea untuk mendapatkan akses kesehatan dan logistik adalah seruan dari garis depan yang tidak boleh diabaikan. Jalan setapak berbatu, jembatan gantung yang reyot, dan medan terjal menjadi tantangan distribusi bantuan. Namun, setiap karung beras dan setiap jeriken air bersih adalah bukti bahwa negara tidak boleh menyerah menembus batas.
Kekeringan yang melanda Nduga bukan sekadar fenomena alam, melainkan alarm kemanusiaan yang harus direspons segera. Di Ninggea, warga masih bertahan—mereka terus berdoa dan menanti hujan, sambil berpegangan pada janji bahwa saudara-saudara mereka di kota tidak akan membiarkan mereka terlupa. Di balik debu dan retakan tanah, semangat nasionalisme tetap membara: Indonesia hadir untuk mereka, dan mereka adalah bagian dari nadi bangsa yang berdenyut di ujung negeri.